AvePress.com

Belajar dari Komentar

Masa Lalu Syudawirat (Episode 51)

Produksi: Genta Buana Pitaloka Pemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Meilia, Jill Carissa, Yuni Sulistyowati, Chairil J.M, Fitria Anwar, Irman F.R

Produksi: Genta Buana Pitaloka
Pemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Meilia, Jill Carissa, Yuni Sulistyowati, Chairil J.M, Fitria Anwar, Irman F.R Heryana, Lilis Sugandha, Anika Hakim, Choky Andriano, Rizal Muhaimin, Lyra Virna
Sutradara: Dasri Yacob
Tahun: 2000

Kisah pemberontakan yang terjadi di Kerajaan Sawopitu masih berlanjut. Prabu Jayadipa, dengan bantuan Syudawirat dan para pengikutnya, bersiap menghadapi segala kemungkinan. Berbagai persiapan telah dilakukan di tempat persembunyian mereka, yaitu sebuah hutan yang berada tidak jauh dari Sawopitu. Sementara itu, Prabu Mahesa Tunggal telah mengetahui keberadaan persembunyian Jayadipa. Ia kemudian bersepakat dengan para sekutunya untuk menyerang pasukan Jayadipa. Dalam penyerangan tersebut, Priyamitra bersama Pangeran Begananda ditugaskan untuk menghadapi Jayadipa dan para pengikutnya.

Dengan dipimpin oleh Pangeran Begananda, Priyamitra segera bergerak menyerang markas persembunyian Jayadipa. Tanpa diduga, orang yang selama ini dicari oleh Priyamitra, yaitu Syudawirat, ternyata berada di hadapannya. Tanpa berpikir panjang, Priyamitra langsung menyerang Syudawirat dengan amarah dan dendam. Di sisi lain, pasukan yang dibawa Pangeran Begananda juga terlibat pertempuran dengan pasukan Jayadipa yang dipimpin oleh Tumenggung Jambe.

Pertemuan antara Syudawirat dan Priyamitra kembali membuka luka masa lalu. Syudawirat masih menyimpan amarah karena masa lalunya dengan Lokahita, adik kandung Priyamitra, yang dahulu tidak dianggap sebagai adik dan pernah mengalami perlakuan buruk darinya. Kini, Syudawirat melihat Priyamitra justru menjadi sekutu Mahesa Tunggal. Dendam lama kembali muncul dan membuat Syudawirat berusaha membunuh Priyamitra.

Dengan sekuat tenaga, Syudawirat menyerang Priyamitra secara bertubi-tubi. Namun, Priyamitra juga memberikan perlawanan. Keduanya sama-sama dikuasai oleh dendam masa lalu yang belum terselesaikan. Pertarungan tersebut pun berlangsung sengit.

Dendam yang semakin memuncak membuat Syudawirat berencana membunuh Priyamitra menggunakan Ajian Rengkah Gunung. Ia sebenarnya sadar bahwa Priyamitra sulit dibunuh karena memiliki Ajian Rawarontek. Di tengah pertarungan, bisikan hati Lokahita kembali terngiang dalam diri Syudawirat agar tidak lagi membunuh orang. Namun, amarah yang telah mencapai puncaknya membuat Syudawirat tidak mampu mengendalikan diri. Tanpa ragu, ia akhirnya menghantam Priyamitra dengan Ajian Rengkah Gunung miliknya.

Di sisi lain pertempuran, Tumenggung Jambe menyadari bahwa jumlah pasukan yang dibawa Pangeran Begananda dari Sawopitu jauh lebih besar. Karena tidak ingin mengambil risiko lebih jauh, Tumenggung Jambe akhirnya memutuskan untuk mundur dan kembali menghadap Prabu Jayadipa. Syudawirat yang merasa telah berhasil mengalahkan Priyamitra kemudian ikut ditarik mundur bersama Tumenggung Jambe.

Setelah tiba di hadapan Prabu Jayadipa, Syudawirat menceritakan bahwa salah satu sekutu yang membantu pasukan Sawopitu adalah kakak iparnya sendiri, Priyamitra. Dendam di antara mereka berawal dari masa lalu, ketika guru Syudawirat pernah membunuh mertua Priyamitra. Peristiwa tersebut membuat hubungan keduanya dipenuhi amarah dan dendam.

Dahulu, kehidupan Syudawirat memang penuh dengan amarah dan dendam. Ia bertindak seperti binatang, melakukan berbagai kekejaman dan perbuatan buruk, serta selalu memiliki keinginan untuk mengalahkan siapa pun yang ditemuinya, bahkan terhadap saudaranya sendiri, Priyamitra. Namun, pengembaraan yang dijalani Syudawirat sebenarnya memiliki tujuan untuk mengubah kehidupannya dan berbuat baik kepada semua orang. Hal tersebut dilakukan karena pesan seorang resi dalam mimpinya. Jika ingin anaknya kelak lahir dan memiliki perilaku yang baik, Syudawirat harus terlebih dahulu belajar melakukan kebaikan kepada semua orang.

Setelah bertemu dengan Prabu Jayadipa dan melihat kondisi sang prabu yang penuh dengan kesengsaraan, Syudawirat semakin bertekad untuk membantunya. Ia memilih untuk berada di pihak Jayadipa, meskipun keputusan tersebut berarti harus berhadapan dan berperang melawan saudaranya sendiri, Mahesa Tunggal.

Sementara itu, Pangeran Begananda mengajak Priyamitra untuk mundur dan kembali menghadap Prabu Mahesa Tunggal. Mereka kemudian melaporkan kejadian penyerangan terhadap pasukan Jayadipa yang berlangsung di dalam hutan. Begananda meminta saran kepada Mahesa Tunggal mengenai langkah selanjutnya dan mengusulkan agar mereka kembali menyerang untuk menghancurkan pasukan Jayadipa.

Cerita di atas menyiratkan pesan kehidupan bahwa setiap orang pasti memiliki masa lalu, baik maupun buruk. Jika masa lalu yang dimiliki penuh dengan keburukan, maka perjalanan hidup berikutnya setidaknya harus diisi dengan perubahan sikap, salah satunya dengan berbuat baik dan saling menolong kepada sesama tanpa memikirkan balasan yang akan diterima. Sebab, roda kehidupan terus berputar. Siapa yang menanam kebaikan, pada akhirnya akan memanen kebaikan pula.

Very Yudha

Pantang lari dari gelanggang corong palayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AvePress.com

Belajar dari Komentar