Ronall J Warsa • Jun 18 2026 • 81 Dilihat

Di ruang rawat inap VVIP Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie (AWS), Samarinda. Nampak belasan orang memadatinya pada tengah malam itu. Sesosok tubuh pria paruh baya nampak pucak dan dingin, membeku tak bergerak.
Hanya ada suara tangisan dan teriakan histeris tak percaya. Jika lelaki tersebut, baru saja menghembuskan napas terakhirnya. Usai dokter jaga dan perawat menjalankan prosedur medis. Mulai memeriksa denyut nadi, henti napas, dan respon terhadap rangsangan pasien.
Dokter lantas mendekati keluarga pasien. “Ibu dan anak-anak, saya harap bersabar dan berbesar hati. Bapak dipastikan sudah tidak merespon lagi, dengan kata lain telah meninggal dunia,” ucapnya. Ibu hanya bisa terdiam, ditemani buliran air mata yang menetes deras. Sementara kakak lelakiku, nampak menjauh dan berdiri dilorong gelap rumah sakit.
Ada pula yang nampak, biasa saja dengan kejadian tersebut. Adikku tetap bermain dengan mobil-mobilannya. “Bapak, nanti kalau sudah bangun kita pergi ke Mall. Belikan aku, robot-robotan edisi terbaru,” ujarnya dengan senyum riang di sebelah tubuh bapak yang terbujur kaku.
Ibu lantas memeluknya, dan berkata. “Ia nanti akan diajak ke Mall, tetapi untuk saat ini jangan bandel dulu. Bapak sedang tidur pulas”. Orang-orang yang berada dalam ruangan itu, hanya bisa menahan getir mendengar percakapan ibu dan anak tersebut.
Dalam mobil ambulance jenazah, aku memandangi wajah bapak sembari berdoa. Dalam tiap doaku untuknya, terselip janji untuk mewujudkan cita-citaku. Realita hidup itu, menghantarkan aku untuk mempersiapkan diri menjadi seorang dokter. Kenapa demikian? Karena aku merasa, jika aku menjadi dokter. Maka kondisi bapak, tidak akan seperti sekarang ini.
***
Hari ini, persis tujuh tahun meninggalnya bapak. Aku meminta kepada ibu, agar dapat melanjutkan jenjang pendidikan Strata Satu (S1) di Fakultas Kedokteran. Bagaimanapun cita-citaku masih sangat aku junjung tinggi, demi memuaskan mimpi kecilku menyelamatkan nyawa bapak.
Namun guratan wajah ibu, nampak begitu berat atas keinginanku tersebut. Padahal aku ingat benar! Ibu pernah dipesani oleh Alm.Bapak. “Harta boleh habis, asalkan pendidikan anak-anak diutamakan. Bagaimanapun pendidikan itu penting, modal dasar mereka mengarungi hidup,” tegas bapak pada suatu hari.
Kata-kata itu yang selalu menjadi pegangan utama bagi kami tiga saudara, selama ini. Itu dibuktikan dengan kakakku yang dalam masa studi akhir, mengambil program studi arsitektur lanskap di salah-satu perguruan tinggi. Adikku sekarang sedang sekolah di pesantren, dengan harapan akan ada pemuka agama besar yang berasal dari keluarga kami.
“Ibu, aku sudah diterima di fakultas kedokteran. Sekarang tinggal melengkapi pemberkasan dan pembayaran biaya masuk dan uang pangkal,” ujarku. “Bukan ibu tidak mau mendukung keinginanmu. Tapi kondisi keluarga kita benar-benar berbeda dibandingkan semasa bapakmu masih hidup. Biaya ratusan juta itu, dari mana harus dicari. Kita hanya mampu bertahan seadanya saja saat ini,” tegas Ibu.
Hal itu membuatku marah dan jengah dengan keadaan. Bagaimana tidak, ketika orang lain susah payah untuk dapat diterima di fakultas kedokteran. Aku yang hanya tinggal menyelesaikan, pembayaran biaya masuk dan uang pangkal. Malah tidak didukung oleh Ibuku, dengan alasan kekurangan biaya. Padahal aku anaknya yang berpotensi besar menjadi dokter.
Tiga bulan setelah itu, aku akhirnya duduk dibangku kuliah. Persis sama dengan teman-teman seusia dan seangkatan yang lulus SMA. Banyak wajah-wajah baru yang aku temui, dengan berbagai macam tipikal dan latar belakang sosial. Namun aku merasa teralienisasi dibandingkan orang-orang kebanyakan. Mereka antusias menyambut mata kuliah Dasar-dasar Pendidikan dalam Hadis.
“Nilaimu dipastikan tidak akan keluar di akhir semester nanti. Kecuali orang tuamu datang menghadap bersama kedepan saya,” tukas Dosen. Aku memandangnya sebentar, lalu tertunduk dan berjalan keluar meninggalkan ruangan perkuliahan.
Bukan aku tidak memperhatikan apa yang disampaikan dosen tersebut. Namun pembahasan materi kuliah itu terlalu monoton dan agak kaku, padahal jaman sudah berubah begitupun dengan pola pengajaran orang dewasa.
Kejadian beberapa waktu lalu itu. Lantas ku jelaskan pada ibu. Ia hanya mengangguk dan lalu berucap, “Itu salahmu sendiri. Aku tidak mau bertanggungjawab. Jika kamu hebat, katakan perihal ini pada kakakmu. Biar ia yang menyelesaikannya, bersama kamu”.
Aku lantas menunggu kedatangan kakakku, yang baru pulang kerja malam harinya. Kujelaskan padanya mengenai kejadian itu, walau sambil memarahiku dengan nada pedas dan keras. Keesokan harinya ia, tetap menemaniku untuk menemui dosen tersebut.
***
Tumpukan berkas legalitas peralihan tanah dan bangunan, memenuhi meja kerjaku. Sebagai sekretaris pada Kantor Notaris dan PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah). Hari kerja merupakan arus padatnya permitaan pembuatan akta tanah, pengecekan sertifikar, penyelesaian pajak, hingga pendaftaran tana ke kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Pemilik kantor notaris tempatku bekerja, Ria Hendarso Suwadesi SH., MKn. Telah berulang kali memuji diriku didepan Ibu, ia mengaku bangga dan senang atas keterampilanku bekerja sebagai sekretaris di kantornya.
“Fitria anaknya luar biasa sekali, profesional dan ceketan dalam bekerja. Sayangnya pendidikan S1, bukan Sarjana Hukum. Bagaimana jika ia kembali mengambil kuliah S1 di jurusan itu, sembari bekerja. Soal biaya kuliah, nanti kami bantu separuhnya,” tukas Bos perempuan itu, mencoba merayuku beserta Ibu.
“Makasih Mbak! Untuk sementara biar Fitria fokus bekerja dulu. Toh baru juga setengah tahun, ia bekerja di kantor notaris,” balas Ibu. “Jangan ragu, peluang sebagai notaris amatlah luar biasa. Apalagi provinsi kita bakalan ditetapkan sebagai Ibu Kota Negara,” yakin Ria Hendraso.
Aku tahu memang ini peluang besar, dalam mengembangkan karirku yang jalannya begitu mulus dibidang kenotarisan. Namun seperti yang diketahui, perempuan ini memiliki keinginan sekuat baja. Ia bak jelmaan Margaret Thatcher alias wanita besi, yang merupakan Perdana Menteri Inggris perempuan pertama. Dikenal sebagai pemimpin tegas dengan kebijakan ekonomi radikalnya.
Ibu kecewa dengan pencapaianku dalam beberapa waktu terakhir. Diluar ekspektrasinya selama ini, mengingat semenjak aku lulus S1 dengan gelar S.Pd.I (Sarjana Pendidikan Islam). Jujur walau aku sudah bekerja di kantor notaris, sebenarnya aku hanya tinggal menyelesaikan tesis agar mendapatkan gelar Magister Pendidikan.
Tetapi bagiku ini bukan jalan hidup yang aku inginkan. Setelah sebelumnya keinginanku menjadi dokter gagal karena terhambat biaya. Maka keinginanku kali ini seharusnya mudah terlaksana, selain peluang jelas. Aku memiliki karier jelas di kantor notaris. Terlebih potensinya amat besar, serta menghasilkan pundi-pundi keuangan yang tak kalah menggiurkannya.
***
Meja kerjaku kini dipenuhi dengan tugas-tugas, yang dikumpulkan oleh puluhan siswa-siswa Sekolah Dasar sebelum bel istirahat berbunyi. Aku kini bertugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di sebuah sekolah negeri di pinggiran Kota Samarinda.
Beberapa anak nampak berusaha menemuiku diluar jam mengajar. Mereka berusaha mendekatiku, untuk bertanya perihal-perihal yang ingin mereka ketahui lebih dulu dibandingkan siswa-siswi lain. Aku memang sengaja memberikan apresiasi lebih. Terutama pada siswa-siswi, yang mampu mengemukan ide mengenai pembahasan pada setiap bab yang diajarkan.
Mengingat rasa penasaran dan kemampuan mereka, memahami tiap bab yang diajarkan lewat buku cetak. Merupakan upaya memancing daya tangkap dan dahaga mereka akan ilmu pengetahuan.
Aku menyadari benar, bahwa ilmu pengetahuan adalah kunci utama mereka menyambut masa depan lebih cerah. Ilmu mampu mengangkat derajat hidup mereka, dari orang yang bukan siapa-siapa. Hingga menjadi apa alias berguna bagi nusa dan bangsa.
Sebagaimana diriku yang bukan siapa-siapa, hingga mampu menjadi seperti sekarang. Semua kendala hidup dapat dilalui, dengan ketrampilan dan ilmu pengetahuan. Kesempatan akan selalu terbuka luas bagi mereka yang gigih memperjuangkan pendidikannya.
Teringat saat alarhum ibu masih hidup. Ia terus memaksa diriku untuk menyelesaikan S2. Walau aku jengkel sekali, namun beliau tetap pada keyakinannya. “Kamu ikuti saja saranku. Memang sepertinya tidak bergengsi gelar yang kau miliki. Namun sejatinya, guru merupakan profesi yang luhur lagi luar biasa istimewa untuk nusa dan bangsa,” yakin ibu.
“Mengajar bukan semata-mata memberikan pengetahuan. Namun itu membuka cakrawala pemikiran anak-anak bangsa, atas kesempatan memeluk dunia. Amalan terbaik adalah menuntut ilmu, apalagi amalan memberikan ilmu. Tentu jauh lebih baik tingkatannya,” pesan Ibu.
Jika mengingat kembali pada masa dulu, saat masih bekerja di kantor notaris. Kemungkinan perjalanan hidupku tak setenang dan seindah saat ini. Bagaimana tidak, pemilik kantor notarisku berurusan dengan hukum. Akibat penyelahgunaan wewenang dan kebijakan dalam persoalaan pembuatan akta tanah. Beruntung aku telah memutuskan resign, beberapa bulan sebelum ia terjerat hukum. Bisa saja aku turut terjerat hukum, akibat bertindak sebagai sekretarisnya.
“Bu Fitria! Ini sekarang jamnya ibu masuk ke kelas Vd. Teman-teman sudah siap menerima mata pelajaran yang ibu ajarkan,” tukas Melani siswi perempuan berambut ikal itu. “Ayo bergegas ke kelas bersama ibu,” ajakku padanya. Ku gandeng siswiku tersebut, sembari kami saling pandang dan tersenyum kecil. (SELESAI)
Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com
Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...
Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...
Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...
Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...
Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...
Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...

Belum ada komentar.