Muafi • Feb 13 2026 • 110 Dilihat

Perkembangan teknologi digital telah menggeser makna pendidikan dari proses pembentukan manusia menjadi sekadar mekanisme distribusi pengetahuan. Akses informasi yang semakin cepat sering kali tidak diiringi dengan kedalaman pemahaman dan kematangan nilai. Dalam konteks ini, krisis pendidikan modern bukan terletak pada kurangnya teknologi, melainkan pada kehilangan orientasi peradaban. Pendidikan bergerak cepat, tetapi tidak selalu bergerak ke arah yang benar.
Ibnu Khaldun, melalui buku Muqaddimah, telah lama mengingatkan bahwa pendidikan (ta’lim) tidak dapat dilepaskan dari bangunan peradaban (umran). Ia menegaskan bahwa ilmu, pengajaran, dan pembentukan manusia merupakan gejala sosial yang hanya tumbuh subur dalam peradaban yang sehat. Dengan kata lain, pendidikan bukan sekadar aktivitas individual, melainkan indikator sekaligus penentu kualitas peradaban.
Di sinilah letak relevansi fundamental pemikiran Ibnu Khaldun bagi pendidikan Islam di era global. Ketika pendidikan modern sering direduksi menjadi alat produksi tenaga kerja dan efisiensi ekonomi, Ibnu Khaldun justru memposisikan pendidikan sebagai sarana pembentukan manusia beradab. manusia yang memiliki akal aktif, etika sosial, dan tanggung jawab kolektif. Ibnu Khaldun secara tegas menolak pandangan bahwa ilmu cukup dikuasai secara teoritis.
Dalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun memperkenalkan konsep malakah, yakni kemampuan intelektual dan keterampilan yang terinternalisasi melalui proses pembelajaran yang berulang, bertahap, dan kontekstual. Malakah bukan sekadar tahu, tetapi menjadi. Inilah kritik mendasar Ibnu Khaldun terhadap pendidikan yang hanya berorientasi pada hafalan dan simbol-simbol pengetahuan.
Jika dikaitkan dengan pendidikan digital hari ini, problem yang dihadapi sangat serupa: peserta didik mengetahui banyak hal, tetapi tidak memiliki kedalaman berpikir, kepekaan sosial, dan kematangan moral. Teknologi mempercepat akses ilmu, tetapi tidak otomatis melahirkan malakah. Tanpa kerangka nilai dan pedagogi yang tepat, teknologi justru berpotensi memperkuat pendidikan dangkal (surface learning).
Lebih jauh, Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah mengkritik metode pendidikan yang keras, memaksa, dan tidak memperhatikan kesiapan psikologis peserta didik. Ia menegaskan bahwa kekerasan dalam pendidikan akan melahirkan karakter yang lemah, penuh tipu daya, dan kehilangan kreativitas. Pandangan ini bukan sekadar etis, tetapi sosiologis: pendidikan yang salah akan menghasilkan manusia yang merusak tatanan sosial.
Analisis ini menjadi sangat relevan di era global, ketika tekanan akademik, standar kompetensi, dan tuntutan pasar sering kali mengabaikan dimensi kemanusiaan peserta didik. Pendidikan Islam berbasis peradaban, sebagaimana dapat dibaca dalam kerangka Ibnu Khaldun, justru menuntut pendekatan yang manusiawi, bertahap (tadarruj), dan dialogis, bukan sekadar cepat dan efisien.
Ibnu Khaldun juga menawarkan kerangka epistemologis yang penting melalui penolakannya terhadap dikotomi ilmu. Dalam Muqaddimah, ia mengklasifikasikan ilmu ke dalam naqliyah dan aqliyah, tetapi menegaskan bahwa keduanya memiliki peran dalam membangun peradaban. Ilmu agama membentuk orientasi nilai dan moral, sementara ilmu rasional mengembangkan kemampuan manusia dalam mengelola kehidupan dunia.
Dalam konteks global dan teknologi mutakhir, pemikiran ini memiliki implikasi strategis. Pendidikan Islam tidak seharusnya memusuhi sains dan teknologi, tetapi juga tidak boleh menyerahkan arah pendidikan sepenuhnya pada logika teknokratis. Teknologi, dalam perspektif Ibnu Khaldun, harus diarahkan untuk memperkuat fungsi manusia sebagai khalifah fi al-ardh, bukan sekadar sebagai pengguna sistem. Pendidikan Islam berbasis peradaban, dengan demikian, bukan pendidikan yang menolak modernitas, tetapi pendidikan yang mengendalikan modernitas dengan nilai. Pendidikan ini berorientasi pada pembentukan manusia global yang berakar—mampu berinteraksi dalam dunia global, tetapi tidak tercerabut dari identitas moral dan sosialnya.
Membaca ulang Muqaddimah di era digital membawa kesadaran bahwa krisis pendidikan hari ini sejatinya adalah krisis orientasi. Pendidikan kehilangan arah karena terlepas dari visi peradaban. Ibnu Khaldun telah mengingatkan bahwa ketika pendidikan tidak lagi diarahkan untuk membangun manusia dan masyarakat, maka peradaban akan mengalami kemunduran, betapapun majunya teknologi yang dimiliki. Maka dari itu, aktualisasi pemikiran Ibnu Khaldun dalam pendidikan Islam kontemporer menuntut lebih dari sekadar integrasi teknologi dalam pembelajaran. Ia menuntut reorientasi filosofis: dari pendidikan sebagai alat menuju pendidikan sebagai fondasi peradaban. Tanpa reorientasi ini, pendidikan Islam akan tertinggal bukan karena kekurangan teknologi, tetapi karena kehilangan arah peradabannya sendiri.
E fructu arbor cognoscitur. Ungkapan latin yang berarti, “sebatang pohon bisa dikenali dari buahny...
Ada luka yang tidak lahir dari pukulan, tetapi dari kalimat yang diulang pelan-pelan. Broken Strings...
IPA dan IPS sering kali dipandang sebagai dua dunia yang tak pernah bisa menyatu. Yang satu dikenal ...
Antologi puisi Jejak Kupu-Kupu merupakan terjemahan dari buku bahasa arab berjudul Atsarul Farasyah ...
Penulis novel laris dengan judul “Hati Suhita” ternyata juga memiliki banyak tulisan lainnya. Sa...
“Aku bisa karena terbiasa “ adalah sebuah motto yang kerap kali saya dengar ketika kakak tingk...

Belum ada komentar.