Citizen Journalist • Jan 08 2026 • 149 Dilihat

Penulis novel laris dengan judul “Hati Suhita” ternyata juga memiliki banyak tulisan lainnya. Salah satu tulisan yang juga banyak digandrungi pembaca adalah novel Wigati. Pemilik nama Khilma Anis atau akrab disapa ning khilma ini memang mahir dan gemar menulis.
Dalam novel berjudul Wigati : Lintang Manik Woro diceritakan seorang perempuan misterius bernama Wigati yang menyembunyikan rahasia besar di hidupnya. Ia adalah sosok yang dianggap aneh, menyeramkan, dan terkesan wingit menurut teman sebayanya. Hingga suatu hari ia dipertemukan dengan Manik seorang anak ekspresif yang mudah bergaul dan sekaligus menjadi sahabatnya. Maniklah yang kemudian membantu menyelesaikan masalahnya.
Setelah novel ini terbaca, banyak terkuak sisi lain dari dunia pesantren. Novel ini banyak bercerita tentang mitologi Jawa yang masih kental. Ditambah sajian budaya Jawa yang banyak diceritakan. Mulai dari dunia kris, adat dan istiadat Jawa yang kemudian menjadi bagian dari novel ini.
Tokoh Wigati yang misterius ini banyak menyimpan luka yang kemudian terkuak seiring berjalannya cerita. Permasalahan keluarga, budaya, prinsip yang dijaga, serta permasalahan cinta menjadi bagian dari cerita. Hingga pada akhirnya masalah paling besar terungkap dan Manik yang menjadi kekasih dari jati harus rela menerima bahwa pada akhirnya kekasihnya harus dijodohkan dengan sahabatnya.
Keluarbiasaan novel ini banyak mengalihkan pikiran dan menambah wawasan pembaca. Perjuangan dalam membantu teman sebaya berhasil dikisahkan dengan ciamik. Dari sebagian cerita juga terkuak jika keris sebagai warisan Jawa terkadang memiliki hubungan tertentu dengan manusia. Artinya keris tidak hanya dianggap sebagai senjata atau bahkan sekedar hiasan semata, tapi lebih dari itu keris terkadang memiliki kesinambungan dengan penciptanya serta manusia lainnya.
Kisah cinta yang tidak melulu soal keromantisan juga dikuak habis. Kisah cinta yang terjalin dengan alami antara Manik dan Jati harus berakhir duka. Akhir kisah cinta ini tidaklah biasa. Keta’dziman seorang santri jelas digambarkan melalui penggambaran tokoh Jati. Keta’dziman ini dibuktikan dengan kerelaan Jati saat mengiyakan permintaan kiainya untuk membersamai putri sang kiai yang tak lain adalah Wigati, sahabat Manik sendiri. Bahkan Jati mengiyakannya di depan Manik yang baru saja dilamarnya. Disisi lain, Manik hanya bisa menangis dan menerima apa yang terjadi di hadapannya. Di akhir cerita Manik berlari meninggalkan pondok pesantren dengan tanpa alas kaki dan berderai air mata.
Novel Wigati layak dijadikan sumber bacaan bagi para penikmat novel. Hal ini dikarenakan penulis berhasil menyajikan alur apik dan tokoh dengan karakter yang luar biasa. Semuanya memiliki peran yang khas dalam cerita ini. Penulis berhasil menciptakan konflik dengan akhir cerita yang terkesan menggantung. Ning Khilma berhasil mencampurkan budaya, tradisi, mitologi Jawa, serta nilai keislaman yang lainnya.
Dari informasi yang ada, novel Wigati seri kedua masih dalam tahap penulisan. Lanjutan kisah cinta rumit mungkin akan semakin merunyam dan kemudian menemui titik temu.
Penulis: Zanadia Manik Fatimah (peserta Short Course Citizen Journalist)
Selama beberapa dekade, The Alchemist karya Paulo Coelho telah menempati ruang unik dalam kesadaran ...
E fructu arbor cognoscitur. Ungkapan latin yang berarti, “sebatang pohon bisa dikenali dari buahny...
Ada luka yang tidak lahir dari pukulan, tetapi dari kalimat yang diulang pelan-pelan. Broken Strings...
Perkembangan teknologi digital telah menggeser makna pendidikan dari proses pembentukan manusia menj...
IPA dan IPS sering kali dipandang sebagai dua dunia yang tak pernah bisa menyatu. Yang satu dikenal ...
Antologi puisi Jejak Kupu-Kupu merupakan terjemahan dari buku bahasa arab berjudul Atsarul Farasyah ...

Belum ada komentar.