AveSticker

Beberapa Kebiasaan Aneh Gen Z yang Sebenarnya Sudah Kita Lakukan Diam-Diam

May 30 2026121 Dilihat

Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai merasa generasi setelahnya sedikit membingungkan.

Kalimat seperti “anak sekarang beda” biasanya diucapkan sambil sedikit menghela napas, seolah-olah dunia tiba-tiba berubah tanpa sempat meminta izin. Padahal sering kali yang berubah bukan dunianya, melainkan cara melihatnya—yang mulai terasa ketinggalan beberapa pembaruan.

Berikut beberapa kebiasaan yang sering dianggap aneh, padahal kemungkinan besar hanya versi lebih jujur dari kebiasaan lama yang dulu disembunyikan dengan rapi.

Curhat ke Internet, Karena Teman Kadang Ikut Lelah

Berbicara ke kamera, menulis panjang di media sosial, atau membuat video berisi keluhan hidup sering dianggap sebagai tanda bahwa batas antara pribadi dan publik sudah hilang.

Padahal batas itu tidak hilang.
Ia hanya pindah ke tempat yang lebih ramai.

Dulu orang bercerita ke satu teman, lalu berharap dipahami. Sekarang orang bercerita ke banyak orang, lalu berharap ada satu yang benar-benar membaca sampai selesai. Bedanya tipis, hanya skalanya yang sedikit lebih ambisius.

Dan jika tidak ada yang benar-benar mendengar, setidaknya algoritma terlihat berusaha.

Overthinking, atau Cara Baru Menghargai Pikiran Sendiri Terlalu Serius

Berpikir berlebihan kini punya nama yang cukup elegan: overthinking!

Istilah ini membantu menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sudah lama ada, hanya dulu tidak cukup penting untuk diberi label. Dulu orang memikirkan banyak hal, lalu diam. Sekarang orang memikirkan banyak hal, lalu menjelaskannya kembali agar terdengar seperti proses intelektual.

Perbedaannya bukan pada jumlah pikiran, tetapi pada cara mempresentasikannya.
Sekarang, bahkan kebingungan pun punya struktur.

Healing, atau Istirahat yang Naik Kelas

Pergi ke tempat yang tenang, minum kopi, atau sekadar duduk tanpa tujuan kini disebut “healing”.

Kata ini terdengar serius, seolah ada sesuatu yang sedang diperbaiki secara sistematis. Padahal sering kali yang terjadi hanya satu: lelah, lalu butuh berhenti sebentar.

Dulu orang beristirahat karena capek.
Sekarang orang beristirahat karena sedang “memulihkan diri”.

Perbedaannya penting, karena dengan istilah yang tepat, rasa bersalah saat tidak produktif bisa dikemas menjadi sesuatu yang terdengar bertanggung jawab.

Kerja Seperlunya, Karena Hidup Ternyata Tidak Hanya Tentang Lembur

Bertahan lama dulu dianggap sebagai bentuk ketangguhan. Semakin lama bertahan, semakin dianggap kuat.
Sekarang, tahu kapan berhenti sering dianggap lebih bijak.

Ini kadang dibaca sebagai kurangnya komitmen. Padahal bisa juga dibaca sebagai bentuk kesadaran bahwa tidak semua hal layak diperjuangkan sampai habis tenaga, terutama jika yang diperjuangkan tidak terlalu peduli siapa yang kelelahan.

Menariknya, kedua generasi sama-sama lelah.
Yang satu diam-diam, yang satu “cukup” sopan untuk mengatakannya.

Mengubah Diri, Karena Versi Lama Sudah Terlalu Familiar

Identitas sekarang terasa lebih fleksibel.

Hari ini bisa merasa seperti versi tertentu dari diri sendiri, besok bisa sedikit berbeda, dan minggu depan bisa merasa perlu memulai ulang dengan sudut pandang yang baru. Perubahan ini sering dianggap tidak konsisten.

Padahal mungkin hanya bentuk kejujuran yang tertunda terlalu lama di generasi sebelumnya.

Dulu orang berubah diam-diam.
Sekarang orang berubah sambil memperbarui bio.

Apapun Itu, Dunia Harus Tau

Flexing, Oversharing, YTTA (Yang Tahu-Tahu Aja), YGY (Ya Guys Ya), Etc.

—–

Penutup: Keanehan yang Terlalu Terlihat

Jika semua ini terasa aneh, mungkin yang berubah bukanlah perilakunya, melainkan caranya muncul ke permukaan.

Banyak hal yang dulu dilakukan secara diam-diam kini dilakukan agar dilihat siapa saja. Banyak perasaan yang dulu ditahan kini diucapkan, meski kadang dengan cara yang sedikit berlebihan.

Dan mungkin di situlah letak ketidaknyamanannya.

Bukan karena generasi ini melakukan sesuatu yang benar-benar baru, melainkan ada mediumnya dan karena mereka melakukannya tanpa terlalu banyak usaha untuk terlihat masuk akal—sesuatu yang selama ini dijaga dengan cukup serius oleh generasi sebelumnya, meski hasilnya tidak jauh berbeda.

Share to

Makhluk Tuhan tanpa kelebihan

Topik Terkait

Menakar Electoral Threshold dalam Rancan...

by Jul 09 2026

Pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum terus bergulir memasuki bu...

Asia Datang Beramai-Ramai, Pulang Bersam...

by Jul 05 2026

Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi momen yang paling membanggakan bagi sepak bola Asia. Untuk perta...

Matahari yang Enggan Terbenam: Jokowi, B...

by Jun 24 2026

Dalam sepekan terakhir, selain dinamika Munas Kombes NU, salah satu berita politik yang menarik perh...

Ketika Diskusi Dibubarkan: Kampus, Demok...

by Jun 17 2026

Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...

Grup WhatsApp dan Demokrasi yang Terlalu...

by Jun 13 2026

Tidak ada tempat yang lebih demokratis di era modern selain grup WhatsApp. Semua orang punya hak bic...

Menuju Piala Dunia: Nasionalisme yang Da...

by Jun 06 2026

Tidak semua rasa cinta pada negara hadir setiap hari. Ada yang muncul hanya ketika perlu—dan Piala...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top