MasBen • Jul 05 2026 • 73 Dilihat

Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi momen yang paling membanggakan bagi sepak bola Asia.
Untuk pertama kalinya, Asia datang dengan rombongan yang begitu besar. Kuota bertambah, jumlah wakil meningkat, dan optimisme ikut membengkak. Jepang tetap menjadi langganan, Korea Selatan menjaga tradisi, Australia membawa pengalaman, sementara Iran, Arab Saudi, Uzbekistan, Yordania, Indonesia, hingga Uni Emirat Arab menjadi bukti bahwa peta sepak bola Asia mulai melebar. Selama bertahun-tahun, mimpi Asia adalah sekadar hadir di panggung terbesar sepak bola dunia. Tentu saja, mimpi itu terasa lebih besar: menjadi kekuatan yang benar-benar diperhitungkan.
Sayangnya, sepak bola tidak pernah memberi medali untuk jumlah peserta.
Ketika peluit akhir berbunyi di fase grup dan babak 32 besar, satu per satu wakil Asia mulai meninggalkan turnamen. Tidak ada lagi bendera Asia yang berkibar di babak-babak penentuan. Untuk sesaat, euforia tentang “kebangkitan Asia” berubah menjadi ruang refleksi yang jauh lebih sunyi.
Mungkin pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah mengapa Asia gagal. Pertanyaan yang lebih menarik adalah: apakah kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa Asia sudah sejajar dengan Eropa dan Amerika Selatan?
Beberapa tahun terakhir memang memberi banyak alasan untuk percaya. Jepang mengalahkan Jerman di Piala Dunia 2022. Arab Saudi mempermalukan Argentina yang pada akhirnya justru keluar sebagai juara dunia. Korea Selatan beberapa kali menunjukkan bahwa mereka tidak gentar menghadapi tim-tim besar. Di level klub, semakin banyak pemain Asia tampil di liga-liga elite Eropa. Nama-nama seperti Son Heung-min, Kaoru Mitoma, Takefusa Kubo, Kim Min-jae, hingga Mehdi Taremi membuat dunia mulai memandang Asia dengan cara yang berbeda.
Lalu muncullah narasi yang terdengar begitu menggoda: Asia sudah sejajar. Padahal, sepak bola memiliki cara yang sangat kejam untuk menguji sebuah klaim.
Mengalahkan tim besar satu kali adalah kejutan.
Mengalahkan mereka secara konsisten adalah status.
Di situlah letak perbedaan yang sering luput dari pembicaraan. Negara-negara besar tidak ditakuti karena sesekali mampu mengalahkan lawan kuat. Mereka ditakuti karena kemenangan itu menjadi kebiasaan. Ketika Brasil mengalahkan negara kecil, dunia menganggapnya wajar. Ketika Prancis melangkah ke perempat final, hampir tidak ada yang terkejut. Namun ketika tim Asia mengalahkan raksasa sepak bola, berita utamanya masih selalu diawali dengan satu kata yang sama: kejutan.
Mungkin justru di situlah jawabannya.
Asia sudah mampu mengejutkan dunia. Tetapi dunia belum terbiasa dikejutkan oleh Asia.
Piala Dunia 2026 menjadi pengingat bahwa turnamen besar tidak dimenangkan oleh satu pertandingan heroik. Ia dimenangkan oleh konsistensi selama enam atau tujuh pertandingan, menghadapi lawan yang sama-sama berkualitas tinggi, dengan tekanan yang terus meningkat. Pada tahap inilah jurang antara Asia dan kekuatan tradisional sepak bola masih terlihat jelas.
Bukan karena Asia kekurangan pemain hebat. Justru sebaliknya.
Hari ini Asia memiliki lebih banyak pemain kelas dunia dibandingkan dua dekade lalu. Mereka bermain di Premier League, Bundesliga, La Liga, Serie A, hingga Liga Champions. Secara individu, perkembangan itu sulit dibantah.
Namun sepak bola tidak pernah dimenangkan oleh sebelas individu terbaik. Ia dimenangkan oleh ekosistem terbaik.
Eropa tidak mendominasi karena kebetulan memiliki pemain yang lebih berbakat. Mereka membangun liga yang kompetitif, akademi yang berkesinambungan, pelatih yang terus berkembang, dan budaya sepak bola yang menuntut standar tinggi setiap pekan. Seorang pemain muda di Eropa tidak hanya belajar memenangkan pertandingan. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap kemenangan sebagai kewajiban.
Sebaliknya, banyak negara Asia masih merayakan pencapaian yang di Eropa dianggap sebagai titik awal. Lolos ke Piala Dunia masih menjadi pesta nasional. Menembus babak gugur masih diperlakukan seperti akhir perjalanan, bukan awal tantangan yang lebih besar.
Tidak ada yang salah dengan rasa bangga. Yang berbahaya adalah ketika rasa bangga membuat kita berhenti merasa lapar.
Ironisnya, penambahan kuota Piala Dunia juga menciptakan ilusi yang cukup menenangkan. Semakin banyak wakil Asia lolos, semakin mudah muncul anggapan bahwa kualitas Asia telah melonjak drastis. Padahal kuota berbicara tentang kesempatan, bukan kemampuan. Kesempatan memang bertambah, tetapi kualitas tetap harus dibuktikan selama sembilan puluh menit di lapangan.
Sepak bola tidak pernah menghitung berapa banyak negara yang datang.
Sepak bola hanya menghitung siapa yang masih bertahan.
Bukan berarti Piala Dunia 2026 harus dipandang sebagai kegagalan Asia. Justru sebaliknya. Turnamen ini menunjukkan bahwa Asia telah menyelesaikan satu tahap penting: menjadi peserta tetap di panggung terbesar dunia. Itu bukan pencapaian kecil. Namun menjadi peserta tetap berbeda dengan menjadi penantang gelar.
Ada jarak yang masih harus ditempuh.
Dan mungkin jarak itu tidak bisa dipangkas hanya dengan menambah jumlah wakil atau mengekspor lebih banyak pemain ke Eropa. Ia membutuhkan liga yang lebih sehat, pembinaan usia muda yang lebih konsisten, federasi yang lebih profesional, dan yang paling penting, perubahan cara berpikir.
Karena sepak bola tidak berkembang ketika kita puas telah datang. Ia berkembang ketika kita kecewa karena pulang terlalu cepat.
Mungkin itulah pelajaran paling jujur dari Piala Dunia tahun ini. Asia memang sudah berhasil membuka pintu menuju ruang utama sepak bola dunia. Namun membuka pintu bukan berarti otomatis mendapat tempat di meja yang sama.
Dan selama kemenangan atas raksasa masih disebut sebagai kejutan, bukan kebiasaan, perjalanan Asia menuju sejajar dengan Eropa dan Amerika Selatan tampaknya masih belum benar-benar selesai.
Dalam sepekan terakhir, selain dinamika Munas Kombes NU, salah satu berita politik yang menarik perh...
Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...
Tidak ada tempat yang lebih demokratis di era modern selain grup WhatsApp. Semua orang punya hak bic...
Tidak semua rasa cinta pada negara hadir setiap hari. Ada yang muncul hanya ketika perlu—dan Piala...
Lemahnya kontrol sosial merupakan salah satu persoalan krusial yang tengah dihadapi masyarakat Indon...
Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...

Belum ada komentar.