MasBen • Jun 20 2026 • 10 Dilihat

Ada hari dimana pemimpin harus terdengar seperti sejarah.
Kalimatnya panjang, suaranya menggelegar, dan pidatonya mampu membuat satu stadion berdiri lebih tegak dari biasanya. Di masa itu, seorang pemimpin tidak cukup hanya hadir. Ia harus terasa besar. Harus terdengar seperti masa depan yang sedang berbicara lewat mikrofon.
Hari ini, situasinya sedikit berubah.
Pemimpin tidak lagi dituntut selalu terdengar monumental. Kadang cukup terlihat sederhana, memakai kemeja putih, turun ke pasar, lalu direkam kamera ponsel dari berbagai sudut. Jika dulu bangsa ini menyukai pemimpin yang berbicara seperti revolusi, sekarang publik tampaknya lebih nyaman dengan pemimpin yang terlihat seperti tetangga yang berhasil.
Dan anehnya, dua wajah kepemimpinan itu sama-sama bertemu di tanggal yang sama: 21 Juni.
Soekarno wafat pada 21 Juni 1970. Sosok yang membangun dirinya lewat pidato, simbol perjuangan, dan kharisma yang bahkan hingga hari ini masih terdengar seperti rekaman hitam putih yang terlalu percaya diri untuk dilupakan.
Sementara Joko Widodo lahir pada 21 Juni 1961. Sosok yang tumbuh di era ketika kamera lebih penting daripada podium, dan kedekatan visual sering kali lebih efektif daripada retorika panjang.
Indonesia telah bergeser dari zaman “Saudara-saudara sekalian!” menuju era “halo guys”.
Tentu saja perbandingan ini tidak sesederhana itu. Namun ada perubahan menarik dalam cara bangsa ini melihat pemimpin. Dulu, publik menginginkan figur yang terdengar lebih besar daripada rakyatnya. Pemimpin harus punya aura yang sulit disentuh. Harus punya jarak yang membuatnya tampak istimewa.
Mungkin karena Indonesia baru lahir dan sedang mencari kepercayaan diri.
Di era Soekarno, pidato adalah senjata utama. Kata-kata bisa menjadi bahan bakar nasionalisme. Mikrofon bukan alat dokumentasi, melainkan alat mobilisasi. Semakin panjang pidatonya, semakin besar kesan bahwa negara ini sedang bergerak menuju sesuatu yang penting.
Generasi itu percaya bahwa masa depan bisa dibangun lewat kalimat yang diucapkan dengan cukup lantang.
Lalu waktu berubah. Internet datang. Kamera mengecil. Perhatian publik memendek. Orang-orang mulai lebih cepat bosan pada kalimat panjang. Bangsa yang dulu bertahan mendengarkan pidato berjam-jam kini bahkan kesulitan menonton video lebih dari dua menit tanpa melihat kolom komentar.
Di titik itulah gaya kepemimpinan ikut berubah.
Kesederhanaan menjadi bahasa politik baru. Blusukan menjadi simbol kedekatan. Kemeja putih menjadi identitas visual. Dan media sosial perlahan mengubah cara rakyat mengidolakan bentuk kepemimpinan.
Jika dulu rakyat melihat pemimpin dari podium besar, sekarang rakyat melihat pemimpin lewat potongan video vertikal dengan subtitle otomatis dan backsound yang sedikit menyentuh.
Perhatian publik makin pendek, maka cara memimpin ikut dipersingkat.
Namun ada satu hal yang tampaknya tidak berubah dari Indonesia: kebiasaan berharap terlalu banyak pada satu orang.
Negara ini punya hubungan emosional yang cukup rumit dengan figur pemimpin. Presiden kadang diperlakukan seperti gabungan antara bapak bangsa, motivator nasional, customer service negara, sekaligus harapan hidup berjamaah.
Ketika jalan rusak, presiden dicari. Harga cabai naik, presiden disebut. Bahkan, tim nasional kalah, entah bagaimana presiden juga ikut dibahas. Ada keyakinan kolektif bahwa satu orang seharusnya mampu menyelesaikan semua hal sekaligus.
Mungkin karena sejak awal republik ini memang dibangun di atas figur-figur besar.
Dan media modern membuat semuanya semakin personal. Dulu rakyat mengenal pemimpin lewat foto resmi dan siaran radio. Sekarang rakyat bisa mengetahui menu makan siang, hobi, bahkan ekspresi wajah seorang presiden hanya dari lewatnya video di linimasa.
Politik berubah menjadi sesuatu yang lebih visual. Kadang lebih emosional daripada ideologis. Yang penting dekat, yang penting relatable, yang penting terasa manusiawi.
Di era kamera ada di mana-mana, kesederhanaan menjadi aset visual yang sangat mahal.
Namun pada akhirnya, dua nama yang bertemu di tanggal 21 Juni itu mungkin bukan sekadar kebetulan kalender. Mereka seperti penanda bahwa Indonesia selalu berubah mengikuti zamannya—termasuk dalam cara memilih siapa yang layak dipercaya memimpin.
Satu lahir dari era pidato besar dan semangat revolusi. Satu tumbuh di zaman konten pendek dan kedekatan digital.
Dan mungkin yang paling menarik bukan bagaimana kedua tokoh itu berbeda, melainkan bagaimana rakyat Indonesia selalu menemukan cara baru untuk tetap berharap pada satu figur yang dianggap mampu memperbaiki semuanya.
Sebab dari dulu hingga sekarang, mungkin yang tidak pernah benar-benar berubah dari negeri ini adalah keyakinannya bahwa di tengah kekacauan sebesar apa pun, selalu harus ada satu wajah yang cukup dipercaya untuk berdiri paling depan.
Apapun itu, selamat 21 Juni, orang-orang hebat.
Tidak mudah bagi anak-anak eksakta (ilmu pasti, red), untuk dapat dianggap mampu memimpin atau mengo...
Menyamakan Anies Baswedan dan Cristiano Ronaldo sebenarnya bukan ide yang aneh. Yang aneh justru key...
Terinspirasi lalu tenggelam dalam, karakter oposan novel Rahuvana Tattwa karya KH. Agus Sunyoto. Seo...
Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...
E fructu arbor cognoscitur. Ungkapan latin yang berarti, “sebatang pohon bisa dikenali dari buahny...
Nama Amitabh Bachchan bukan sekadar milik dunia perfilman India. Ia telah menjadi bagian dari ingata...

Belum ada komentar.