Ronall J Warsa • Mar 13 2026 • 346 Dilihat

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanpa ampun. Kontan saja teriakan keras anak itu, membahana di sore menjelang petang.
Raut wajahnya menampakkan ketakutan teramat sangat, bukan karena air berwarna kuning kecoklatan itu. Namun karena mitos tentang penghuni sungai Kedang Pahu. Membuat bulu roma Arsa, berdiri kencang walaupun tubuhnya berada dalam air dingin.
Sungai Kedang Pahu yang berada di Muara Pahu, Kutai Barat itu sendiri lebarnya sekitar 50 meter. Sungai itu mengalirkan air deras asal tanah bebatuan hutan tropis, hingga membuat garis tegas dinding air pada sungai induk.
Sehingga takkala sinar mentari terbenam, maka tampilan warna sungai menjadi putih bercampur keperakkan. Airnya mengalir membentuk dinding tebal bersamaan dengan derasnya air sungai Mahakam, menyebabkan lumba-lumba air tawar beranak-pinak dari hilir hingga hulu sungai.
Dahulu kala di Muara Pahu terdapat sebuah kerajaan, dengan raja bernama Raden Baroh. Kerajaan ini amatlah dihormati dan ditakuti, selain posisinya yang strategis mengepung dua sungai yakni Kedang Pahu dan Mahakam. Juga karena kekuatan dan kehebatan para prajuritnya, menggetarkan hati suku-suku di pedalaman maupun kerajaan-kerajaan lain yang berada di hilir sungai Mahakam.
Belum lagi legenda Ayus seorang raksasa yang bahkan memiliki kemampuan melintasi daerah-daerah jauh dengan beberapa langkah, juga berasal dari daerah ini. Begitupun kisah saudara Ayus, yakni Siluq seorang sakti mandraguna dengan kemampuan menyembuhkan orang-orang sakit dan sebaliknya.
Selain itu ada pula mitos mengenai bangsi alias siluman-siluman, yang berdiam di hutan maupun di dalam sungai. Membuat suasana daerah tersebut teramat mistis lagi menakutkan.
“Gerakkan tangan dan kakimu, rasakan arus sungai membawamu ke hilir. Tak usah takut, beriramalah dalam sungai selayaknya penari jepen,” Pungkas pria tua bernama Hamid pada cucunya.
Arsa hanya bisa mendengar sayup, karena sibuk dengan dirinya agar tetap timbul dan bernafas ditengah sungai, gerakkannya persis seperti ikan haruan terperangkap jerat kail. Melihat kondisi Arsa semakin tidak karuan dalam air sungai.
Lelaki paruh baya dengan bidang-bidang otot bertumpuk rapi pada perutnya itu, segera terjun dan menarik cucunya kepinggiran sungai. Muka cucunya itu pucat keputihan, seperti tiada setetes darah mengalir menuju kepala saat diangkat kakeknya. Namun tamparan keras sang kakek membuat wajah anak berusia sembilan tahun itu tersadar, bahwa dirinya masih bernafas dan hanya mengalami shock saja.
***
Sejak dititipkan oleh Ibunya kepada Kakek dari almarhum Bapaknya. Arsa otomatis tumbuh dewasa bersama dengan sang Kakek. Walaupun kemudian banyak orang mengatakan bahwa kakeknya seorang jawara. Namun tidak sedikitpun matanya melihat tanda-tanda semacam itu.
Kakek hanya mengajarkannya cara bertani, berladang, berenang dan menyelam di dasar sungai untuk mencari ikan. Karena tak sedikipun ia, diajarkan dasar-dasar ilmu silat. Apalagi ilmu kebatinan yang berkaitan, dengan kesaktian dan kekebalan.
Keramaian pasar malam di Muara Pahu berlangsung setiap minggu malam. Selain menjadi ajang jual beli kebutuhan pokok hingga pakaian antara warga dan pedagang. Pasar malam jadi ajang lain bagi bagi anak-anak bau kencur mengenal pacaran hingga memadu kasih. Yang lebih sialnya, sering jadi ajang lelaki-lelaki tanggung usia mengadu otot tanpa alasan-alasan jelas, kecuali memang untuk sebuah pengakuan.
Hingga tak jarang nyawa melayang, karena perkelahian melibatkan jagoan-jagoan antar kampung dan pastinya menggunakan senjata tajam. Walau begitu, Arsa tidak sekalipun pernah terlibat. Bukan berarti pula ia, tidak pernah terlibat adu mulut dengan kawan lelakinya.
Tetapi memang sepertinya orang-orang enggan mengajaknya bertarung seperti lelaki pada umumnya. Dengan demikian, Arsa hanya sering menonton perkelahian dari jauh. Kalaupun ada pertarungan yang berjarak dekat dengan keberadaannya. Tentu perkelahian itu akan terhenti sejenak, dan dilanjutkan pada tempat dan waktu berbeda. Agar perkelahian itu tidak dilihat olehnya.
Nampaknya Arsa menjadi momok bagi orang lain di sekitarnya, namun hal itu tak disadari oleh lelaki yang sebentar lagi akan menginjak bangku kuliah ini. “Tak usah berurusan dengan cucu Hamid itu! Tiada guna, belum apa-apa bisa hilang kita punya nyawa,” tegas Indra memberitahu kawan-kawannya.
“Memang kenapa? Seperti apa sich kekuatan anak itu. Kok belum apa-apa kita mesti keder duluan,” pungkas Tirta. Kau tidak tahu cerita, kalau kakeknya adalah Jawara Sungai Kedang Pahu. Bapakku yang Kapolsek saja, bolak-balik memperingatkan agar tidak berurusan dengan dia dan kakeknya. Bahkan kakekku saja, selalu bercerita tentang kekuatan mistis yang di miliki kakeknya itu,” terang Indra mengingatkan Mahmud dan kawan-kawannya.
Konon Hamid bukanlah lelaki biasa-biasa, seperti lelaki-lelaki kebanyakkan. Pada masa penjajahan Jepang berlangsung di nusantara, lelaki ini pernah terlibat perkelahian berdarah dengan lima orang tentara Jepang.
Dimana keesokan hari, warga menemukan kelima tentara itu tewas tanpa kepala. Sementara untuk ilmu kesaktiannya, bukanlah hal yang main-main. Ketika Erau berlangsung di Tenggarong, Sultan Kutai menantang orang-orang sakti dari berbagai tempat untuk dapat menemukan cincin miliknya yang sebelumnya telah dibuang terlebih dahulu ke dalam sungai mahakam.
Cincin itu konon diduduki oleh Lembu Swana, sehingga banyak orang-orang sakti kesulitan mengambil cincin tersebut. Hamid kemudian melipat kedua tangannya kedada, dan lalu mulutnya komat-kamit berdoa. Tiada berapa lama air sungai Mahakam meluap hingga menyentuh dermaga, di depan kerajaan yang sekarang menjadi Museum Tenggarong. Saat air kemudian surut, terlihat cincin milik Sultan berada tepat diujung kaki Hamid.
***
Malam itu adalah malam terakhir Arsa bersama sang kakek. Karena pada esok sore ia akan segera meninggalkan kakeknya menjalani hidup sendiri, selama empat tahun kedepan. Ia akan kembali ikut Ibunya di Samarinda, guna melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi.
Kakek telah memperhitungkan dan menyiapkan biaya kuliah Arsa, yang rencananya mengambil Jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman Samarinda.
Namun Arsa nampak bimbang, seperti ada sesuatu yang hendak diungkapkan pada sang kakek. Tetapi sulit sekali kata-kata keluar dari mulutnya, apalagi kakek tetap saja fokus membantunya menyiapkan pakaian serta perlengkapan lain yang akan dibawa olehnya.
“Coba kau panaskan air di tungku kayu belakang, kakek mau minum kopi. Ada yang kakek hendak tunjukkan kepadamu,” ungkap Hamid, sembari melinting tembakaunya.
Kopi dalam cangkir seng telah tercampur dengan gula dan air panas yang baru saja mendidih ditungku api. Lantas Arsa kemudian menaruh cangkir itu pada sebuah meja, dimana sang kakek telah duduk menantinya sembari memandang bulan di pelataran rumah.
“Oh sudah jadi kopinya,” ucap kakek dengan wajah senang. “Sudah Kek, pasti rasanya sedap sekali,” balasnya. Sini kau! Duduk disebalah kakek. Ada sesuatu yang hendak kakek berikan padamu, ujar Hamid, sembari melambaikan tangannya agar lelaki muda itu duduk mendekat.
Dari balik ikat pinggang kulitnya yang nampak berwana coklat buram, sang kakek mengeluarkan sebuah bungkusan kain kuning yang diletakkan di meja. “Bukalah bungkusan itu, ini adalah senjata pamungkas kakek yang akan kakek wariskan padamu,” ujarnya.
Segera kedua tangan Arsa menyambut bungkusan kain kuning tersebut. Lalu membuka ikatannya. Perlahan-lahan dari bungkusan itu terlihatlah sebuah kotak kayu kecil. Di dalamnya terdapat, pulpen antik dengan les kuning emas kokoh menghias pulpen yang dominan berwarna hitam.
“Inilah senjata pusaka milik keluarga kita, ini hadiah dari Sultan Kutai. Gunakan ia untuk membubuhkan tandatanganmu kelak, pada saat kau jadi orang berhasil. Dengan inilah dunia kau kuasai, dengan inilah segala ilmu di dunia kau dalami, dengan inilah kau jadi jawara,” ucap kakek sembari mengelus rambut cucu tercinta. (Selesai)
Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com
Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...
Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...
Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...
Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...
Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...
Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...

Belum ada komentar.