Ronall J Warsa • Feb 12 2026 • 250 Dilihat

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-mata bersandar pada ikatan darah, bukan ikatan emosional kekerabatan. Perjumpaan hanya formalitas belaka hingga nyaris tanpa isi.
Kerinduan hanya sekedar basa-basi pembuka percakapan. Kalaupun memiliki intensitas yang lumayan padat, tetapi tidak berkualitas. Seperti ketika salah seorang, saudara sepupunya meninggal dunia. Peristiwa sedih berbalut belasungkawa itu, dinodai oleh pertunjukkan pencapaian masing-masing orang.
“Dua unit villa di Andalus, berhasil aku ambil alih dari warga setempat,”ujar Shanti ditengah-tengah acara perkabungan. Afsya yang merupakan pemilik dealer mobil di Tangga Arung, lalu menimpali. “200 unit mobil APV berhasil ku jual, dalam bulan ini. Antrian pemesanan 150 unit mobil MPV telah menunggu selanjutnya.”
“Kalian semua lagi untung besar! Sempatkan waktu untuk liburan akhir pekan, dengan mengunjungi pameran lukisanku di Gunung Ketur,” terang Ayba. Mereka kemudian, mendekati wanita berkulit kuning langsat tersebut. “Banyak kurator terkenal yang akan datang. Sebuah lukisan telah laku terjual, sebelum dipamerkan. Senilai Rp 2,3 miliar,” tambahnya.
Semua larut dalam perbincangan pencapaian, menepikan tubuh kaku bersama tumpukan yasin di pojokkan ruang tengah. Derai air mata sekedar intro lagu, lalu berlanjut perihal pesta pora.
Tak kalah memuakkan, acara berkabung itu menjadi hitung-hitungan amal perbuatan almarhum. Berdasar pada jumlah karangan bunga duka cita, yang terpajang di sepanjang jalan ke tempat pemakaman.
Parade kehormatan itu, begitu cermat dihitung oleh anak almarhum. “Terdapat 231 karangan bunga yang dikirim oleh para kolega, termasuk perusahaan tempatku bekerja,” ujarnya.
Diraihnya handphone, lantas dilihatnya isi pesan masuk di WhatsApp. “25 buah karangan bunga, segera datang menyusul. Masih dalam perjalanan kemari. Ayah pasti bangga di alam sana,” tukasnya lebih jauh.
Parade keduniawian, menjadi ukuran fisik yang tertinggal. Senyap bait-bait doa, menjadi ukuran jiwa yang berpergian jauh. Wajah itu begitu dingin lagi kaku. Seandainya dapat terucap, ia ingin berteriak betapa dingin lagi sunyi senyap rasanya. Tetapi frekuensi dunia jauh dominan, melemahkan gelombang pengharapan doa almarhum. Ia hening ditengah keramaian ratusan pelayat.
Keakraban yang hangat, hanya dapat dirasakan Niero melalui kepingan kenangan. Yang terdokumentasikan di album foto, video pita lama, lukisan dan patung, kain-kain adat, maupun artefak keluarga lainnya.
Membuatnya berinteraksi begitu akrab, dengan peristiwa-peristiwa masa lampau. Menyalakan api perenungan, ditengah gemerlap cahaya masa kini. Hingga uforia beragam pengakuan yang didengungkan berulang-ulang. Tidak melekat, dimatanya itu hanya perihal seragam lagi membosankan.
Perayaan kedekatan itu tak terucap, tak terlihat, serta tak tercium aromanya. Mendudukan lelaki itu, bak makhluk asing yang teralienisasi oleh makhluk lain disekelilingnya.
***
Beralih kemasa lalu, tepatnya seratus tahun lalu. Dari sebuah desa yang berada dikaki Gunung Muntilan. Tampak pemuda-pemudi desa, ramai memanen padi di sawah seluas ratusan hektar. Hari ini mereka mempercepat kerjanya, karena malam hari akan digelar selamatan di masjid kampung.
“Jangan tidak datang. Semur ayamnya, Sri yang memasak,” tukas Damayanti memberitahu teman-temannya. Memang sajian masakan wanita tersebut, amat terkenal lezat. “Kami pasti datang. Apalagi ini soal selamatan panen. Ngambil berkah kesyukuran pada Gusti Allah,” ungkap Salam.
Setelah sholat isya berlangsung, digelarlah acara selamatan panen di masjid kampung pada malam itu. Ramai warga menikmati makanan, sembari berbincang-bincang. Tak lama, lelaki berjenggotputih tebal terlihat berdiri di depan mimbar masjid.
Dihadapan seluruh penduduk desa, ia mengumumkan perihal penting. “Izinkan saya, untuk meletakkan jabatan sebagai kepala desa. Hal ini telah saya pikirkan matang-matang. Moga seluruh warga berkenan mengikhlaskan. Saatnya generasi yang lebih muda memimpin desa kita,” ungkapnya, penuh penekanan.
Terang saja, hal ini mengejutkan semua orang yang hadir, baik yang berada di dalam maupun di luar masjid. Semua terdiam membisu, mereka terkejut dengan keputusan Kyai Sepuh. (BERSAMBUNG)
Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com
Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...
Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...
Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...
Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...
Keliling Kampung, Menuai Kebersamaan Langit di Desa Miau Baru Kecamatan Kongbeng pada Kamis malam (3...
Menari Laksana Enggang, Melenggok Laksana Bidadari Setiap daerah memiliki tarian tersendiri, dengan ...

Belum ada komentar.