AveSticker

Tangi (3)

Feb 15 2026257 Dilihat

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan jeda ketenangan berfikir warga desa. “Jujur kami terkejut akan pengumuman yang disampaikan Kyai. Tentu sulit, untuk memutuskan siapa yang bakal menggantikan. Tak mudah memimpin desa, yang diapit dua komplek candi raksasa di pulau Jawa ini,”  terang Umar penuh kekhawatiran.

“Betul sekali! Saya rasa diantara kami, belum ada yang mampu dan pantas mengemban amanah besar tersebut. Dibutuhkan watak tangguh serta ulet, sebagai dasar utama memimpin desa,” tambah Salim, yang duduk disamping belakang masjid.

Abdullah yang kebetulan duduk ditengah masjid, turut pula berbicara. “Jika hal ini mendesak dan harus. Menurut hemat saya. Sosok yang pantas untuk itu ialah Iman Sauji,” ujarnya. Belum lagi Abdullah duduk kembali. Tiba-tiba warga ramai mengatakan hal yang senada. “Betul, sudah tepat sekali. Iman layak memimpin desa ini,” harap mereka nyaris bersamaan.

Sembari mengusap jenggotnya, Kyai Sepuh lantas kemudian menenangkan warga desa. Lalu memanggil nama yang disebut-sebut itu. Namun ternyata. Si pemilik nama tidak memunculkan batang hidungnya. Semua warga menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi tak juga mereka melihat pria tersebut.

Ternyata, jauh sebelum namanya disebut-sebut warga. Iman terlebih dahulu meninggalkan masjid desa, untuk bergegas lari ke pulang ke rumah. Terlihat ia memasukkan, beberapa lembar pakaian dalam buntelan sarung. Diiringi kegelapan malam serta ramai suara jangkrik, ia kemudian terlihat berlari meninggalkan desa menuju ibukota kabupaten.

Seminggu sebelum panen tiba. Iman mendapatkan petunjuk dalam tirakatnya, di goa gelap dibalik Muntilan. Ia bermimpi menahkodai kapal perang serta menenteng senjata api. Tak lama berselang, muncul panggilan dari sekolah militer Jepang. Ia diterima menjadi siswa di ketentaraan untuk warga pribumi. Maka atas itulah, ia memilih panggilan jiwanya. Membangkitkan semangat Asia Raya.

 

Pada sebuah daratan yang beda dua jengkal, tingginya dari air sungai. Dimana tempat favorit ikan paus air tawar alias pesut,  begitu pesat berkembang biak.

Nampak seorang pemuda membuat babak belur, lima orang perwira VOC di sebuah dermaga pelabuhan. Perkelahian itu membuat gaduh seisi pelabuhan. Tidak ada orang-orang yang berani menghentikan perkelahian itu.

Saat keempat orang perwira nampak tak berkutik. Satu orang perwira yang masih berdiri, berhasil meletuskan senjata apinya tepat kedada pria bertubuh kekar. Namun anehnya, yang terjadi bukan daging pria itu pecah dan tertembus peluru.

Justru peluru tersebut yang terlihat pecah terbagi empat, lalu jatuh ke tanah. Sedikitpun tidak menembus kulit pemuda itu, hanya meninggalkan bekas kemerahan seakan bekas tamparan tangan saja.

Tak ayal, setelahnya pria itu lantas menerjang ke arah perwira VOC. Terlihat mandau tajam siap menggorok leher lelaki asing tersebut. Begitu kilau besi tajam hendak merobek leher. Sebuah tangan terlihat cepat menangkap kepala mandau, menghentikan peristiwa nyaris berdarah-darah itu.

“Tahan amarahmu! Segera pergi dari sini. Mudah bagimu menghabisi mereka berlima. Namun ingatlah, kasihan warga sekitar. Mereka pasti akan turut binasa, karena ulahmu. Pergilah ke pedalaman, bangun kehidupan baru disana,” ujar Busu Thamrin menasehati keponakannya.

Afran lantas mengikuti nasehat tersebut. Segera ia berlari menghindari keramaian, lalu menepi diujung kampung. Dilepasnya tali tambang pengikat sampan, didayungnya sampan ke arah hulu sungai Mahakam.

Bunyi burung enggang terdengar nyaring, bersahut-sahutan dengan teriakan sekelompok orang utan yang bergelantungan pada pepohonan dipinggiran sungai. Di atas sampan ia termenung, mengingat mimpinya beberapa bulan lalu saat tirakat di belantara hutan. Tentang ia duduk pada singasana yang terbuat dari kayu ulin berukir naga. Nampak pula tumpukan rotan, kapuk, karet, hingga beras di hadapannya. Pertanda ia cocok menjadi pedagang, bukan petarung jalanan.

Afran menitikkan air mata. Keinginan terbesarnya ialah melawan penjajahan digaris terdepan. Namun ternyata jalan hidup mengarahkannya pada arus lain. Menanggalkan jati diri lama, mengenakan jati diri baru dalam berbaur dengan warga pedalaman.

Sang Pencipta begitu mudah memutarbalikkan arus kehidupan hamba-Nya. Selang berapa tahun kemudian terdengar kabar, mengenai Saudagar pribumi sukses nan budiman lagi baik hati.

Sedikitpun orang-orang tak mengetahui. Jika pedagang sukses itu, adalah orang yang dicari-cari perwira Belanda beserta antek-anteknya. Ia tetap berjuang walau tidak digaris depan dan terang-terangan. Karena sumber daya pemberontakan pribumi, berasal dari kantung pribadi saudagar muda itu.

***

Kembali pada masa sekarang. Pada sebuah sore di dalam bangunan peninggalan kolonial, yang berubah menjadi sebuah museum. Puluhan pekerja nampak ramai membereskan peralatan. Usai beberapa hari terakhir, mereka melakukan pemugaran seluruh area taman di museum tersebut.

Seorang pria nampak menghampiri Niero, yang tengah memperhatikan hasil akhir pemugaran. “Semua sudah diselesaikan, sesuai arahan. Saya dan rekan-rekan pamit balik terlebih dahulu,” ucapnya.

Sembari tersenyum, Niero lantas mengucapkan rasa puas atas kinerja mereka semua. “Sungguh luar biasa kerja kalian. Dapat menyelesaikannya sesuai target. Baiklah kalau begitu, kalian boleh balik terlebih dahulu. Jangan lupa, dua hari lagi kita mengerjakan proyek di Balai Kota. Hati-hati dijalan, salam buat keluarga di rumah,” balasnya, sembari melambaikan tangan ke rekan kerjanya yang lain.

Setelah itu ia melangkahkan kakinya, masuk ke dalam bangunan museum. Disusurinya lantai satu, lantai dua, serta lantai tiga bangunan bersejarah itu. Dipandanganya seluruh area taman, dari ujung jendela ditiap lantai. Untuk memastikan detail menarik pada hasil pemugaran yang dilakukan.

Setelah dirasa cukup. Ia lantas melangkah turun, sembari melihat-lihat koleksi barang-barang yang tersimpan di museum. Dilantai dua tepatnya mendekati arah dimana anak tangga berada. Terdapat kumpulan foto hitam putih, yang memperlihatkan peristiwa kemerdekaan Republik Nusantara di Borneo.

Mulai dari pertempuran merebut kilang-kilang minyak untuk dijadikan milik Republik. Terdapat pula foto puluhan pasukan suku pedalaman yang menyusuri hutan. Dimana mereka dipimpin oleh pria bertubuh kekar, mengenakan peci hitam dengan sebilah mandau ditangannya.

Matanya lantas beralih ke arah foto lain, yang terpampang di dinding museum. Terlihat perwira Tentara Keamanan Rakyat, memimpin sekompi pasukan menyerang markas tentara Belanda. Ia tertegun, memandang lebih dalam kedua foto tersebut.

Wajah kedua pemimpin pasukan itu sangat ia kenal. Pernah menghampirinya walau dalam mimpi, beberapa bulan lalu. Kedua sosok yang memerintahkannya untuk bangkit berdiri. Terkuaklah detail silsilah semangat juang, yang selama ini terkubur dalam. Memperkuat keyakinan dalam menetapkan tujuan hidup.

Tetes air mata mengalir tiba-tiba dari kedua bola matanya. Perasaan menenangkan, menyelimuti seluruh jiwa. Akar dimana asal muasal mencintai negeri, sama halnya dengan mencintai sesama, alam, serta mendekatkan kecintaan pada Sang Pencipta. Terjawab lewat rentetan dokumentasi di dinding museum. (Selesai)

Share to

Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com

Topik Terkait

Pencium Tembakau! Kelas Wahid Dunia

by Mar 05 2026

Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...

Pinjol-Judol dan Riuh Ramadan: Guncangan...

by Feb 26 2026

Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...

Tangi (2)

by Feb 12 2026

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Tangi (1)

by Feb 10 2026

Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (3)  

by Feb 09 2026

Keliling Kampung, Menuai Kebersamaan Langit di Desa Miau Baru Kecamatan Kongbeng pada Kamis malam (3...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (2)  

by Feb 07 2026

Menari Laksana Enggang, Melenggok Laksana Bidadari Setiap daerah memiliki tarian tersendiri, dengan ...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top