AveSticker

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Waktu

Mar 28 2026178 Dilihat

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hitam panjang yang digoreng renyah. Di kota-kota besar, di warung-warung pinggir jalan, tulisan “Lamongan Asli” seolah menegaskan: ini bukan sekadar makanan, tapi cerita yang bisa disentuh lidah. Namun di sebagian wilayah di Lamongan, lele bukan sekadar lauk. Aroma lele goreng tidak membangkitkan selera; ia membawa memori dan peringatan.

“Jangan sentuh itu, Cung!,” kata Mbah Senirah, sembari menatap cucunya, Fahri. “Itu bukan ikan biasa. Itu janji yang diwariskan leluhur.”

Fahri menatapnya, ragu. “Tapi, Mbah… semua orang makan lele. Bahkan orang Lamongan, tetangga kita, banyak juga yang makan lele.”

Mbah Senirah tersenyum tipis, matanya seolah menembus waktu. “Ya, itu orang lain. Tapi kita, kita memegang janji lama, yang lahir dari Mbah Boyapati, murid setia Sunan Giri. Sunan Giri mengajarkan keseimbangan: manusia harus selaras dengan alam dan leluhur. Mbah Boyapati dipercaya menjaga kita, termasuk kolam lele yang muncul setiap kali kesulitan datang. Ikan itu bukan sembarang ikan; ia simbol perlindungan, keberkahan, dan kekuatan spiritual. Janji itu harus dihormati.”

Legenda itu mengalir turun-temurun, seperti air Bengawan Solo yang tak pernah kering. Anak-anak diajari menatap lele dengan hormat, yang muda bergulat antara rasa ingin tahu dan tekanan tak kasat mata dari tradisi. Konon, jika larangan itu dilanggar, tubuh atau jiwa akan memberi tanda ruam, bercak putih, atau rasa gelisah yang tak bisa dijelaskan. Beberapa mengakali dengan mencium aromanya, memotretnya, atau menatap dari kejauhan. Tapi rasa hormat tetap ada, seperti bayangan yang mengikuti langkah mereka.

Pantangan makan lele bukan sekadar aturan kuliner, ia adalah narasi pengikat komunitas, simbol identitas, dan pengingat hubungan manusia dengan alam dan leluhur. Menahan diri dari lele berarti menjaga loyalitas, solidaritas sosial, dan kontinuitas sejarah. Dalam masyarakat Lamongan, tabu ini menghidupkan batas yang tak terlihat, antara mereka yang terikat janji dan mereka yang hidup tanpa sadar akan sejarah.

Dilema itu lembut tapi nyata. Modernitas menawarkan selera dan akses, mobilitas dan pilihan. Tradisi menuntut kesabaran, pengendalian diri, dan kesadaran akan akar spiritual. Pantangan lele menjadi simbol konflik itu: batas antara dunia yang bergerak cepat dan dunia yang menuntun manusia untuk berhenti sejenak, menghirup napas sejarah, dan mengenali suara leluhur.

Masyarakat Lamongan sendiri menyikapi larangan ini dengan beragam cara. Sebagian tua dan muda menerima begitu saja, menempatkan pantangan itu di hati sebagai bagian dari identitas. Mereka menanamkan rasa hormat sejak kecil, bahwa melihat lele bukan untuk dimakan, tetapi untuk dihargai. Beberapa tetua bercerita di beranda rumah, mengulang-ulang kisah Mbah Boyapati dan Sunan Giri, sehingga anak-anak belajar bahwa larangan itu bukan hanya soal makanan, tapi soal menjaga keseimbangan dan keharmonisan.

Namun, tidak sedikit yang merasa penasaran. Sebagian orang kadang mencuri pandang atau berbisik: “Apa iya lele itu sakti?” Pertanyaan ini bukan sekadar kenakalan, ia mencerminkan pergulatan antara naluri manusia yang ingin mencoba dan kesadaran akan janji leluhur. Masyarakat Lamongan, meski sebagian tergoda untuk mengabaikan larangan, tetap menekankan kesadaran kolektif. Tidak ada hukuman resmi, tetapi rasa bersalah dan pengawasan tak kasat mata yang membuat larangan itu tetap hidup.

Dalam ritual sederhana, seperti sedekah desa atau pembukaan panen, lele kadang disebut sebagai simbol keberkahan yang dijaga, bukan untuk dimakan. Anak-anak menatap kolam dengan rasa ingin tahu yang dibungkus rasa hormat, sementara orang tua mengawasi dengan mata yang hangat tapi tegas. Larangan makan lele, meski terdengar aneh bagi selain Lamongan, diterima dengan kesadaran bahwa menjaga tradisi berarti menjaga identitas dan keseimbangan hidup.

Di Lamongan, lele bukan sekadar ikan. Ia adalah cerita hidup-yang hadir dalam aroma sambal, tawa di beranda rumah tua, dan larangan-larangan kecil keseharian. Makan lele atau tidak adalah refleksi antara rasa ingin tahu generasi baru dan janji leluhur yang menembus waktu. Ia berkutat di antara selera dan sejarah, antara tawa ringan dan keseriusan nasehat kehidupan. Dan bagi yang memahami, menghormati lele berarti menghormati diri sendiri, komunitas, dan suara-suara yang mengalir dari masa lampau.

Share to

Makhluk Tuhan tanpa kelebihan

Topik Terkait

JAWARA

by Mar 13 2026

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...

Pencium Tembakau! Kelas Wahid Dunia

by Mar 05 2026

Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...

Pinjol-Judol dan Riuh Ramadan: Guncangan...

by Feb 26 2026

Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...

Tangi (3)

by Feb 15 2026

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...

Tangi (2)

by Feb 12 2026

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Tangi (1)

by Feb 10 2026

Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top