AvePress.com

Belajar dari Komentar

Category: Puisi

Meneroka Gadis Lentera

Saat terik matahari telah menampak diri Ragaku terkoyak akan gejolak yang tiada henti Jiwa yang seakan penuh gairah akan berbagai wacana aksi Sebuah harapan membara

Nelangsa Si Palu

Suatu ketika si Palu atau bahasa Jawanya disebut “petil atau amer”sedang merenung akan nasibnya.Dalam benak si Palu selalu bertanya akan situasi yang dialaminya.Meski begitu, ia

Retorika Yang Terus Diulang

Di sudut ruang hampa sesosok manusia sedang termenung Menyeret tiap tinta pada selembar kertas usang Denyut nadinya begitu tenang Walaupun segelintir resah datang menyisakan peluh

Sepi yang Fana

Aku terjerat tali yang sangat panjang Menahan ku masuk dalam jurang Jurang yang gelap dalam mata Erat mengikat ku hingga dalam Ku tak tahu siapa

Ibu

Kau pergi dan menaning di balik tirai Kembali dengan segenggam senyuman Tanpa seuntai kata Kau berikan belaian yang begitu hangat Dalam gelap kau berdoa Dalam

Rieke Dyah Pitaloka via https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/LJnfJlZruzpTK65h9tBaE3IuFcA=/383x288/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2129504/original/061381500_1525153766-20180501-Rieke-Diah-JT1.jpg

Diri Ku dan Dunia

Diri ku bukanlah aku dalam bayang mu Diri ku bukanlah aku dalam hujan mu Diri ku bukanlah aku dalam angan mu Diri ku bukanlah aku

Sajak Jalanan

Puisi ku bukan puisi jalanan Bukan pula puisi sastrawan Puisi ku bukan milik gerangan Bukan pula milik anak zaman Negri ku tak lagi pertiwi Bukan

Selamat Jalan Sitor Situmorang

Bila nanti ajalku tiba kubur abuku di tanah Toba di tanah danau perkasa terbujur disamping Bunda. Bila ajalku nanti tiba bongkah batu alam letakkan pengganti

AvePress.com

Belajar dari Komentar