Ronall J Warsa • Mar 11 2026 • 386 Dilihat

Terinspirasi lalu tenggelam dalam, karakter oposan novel Rahuvana Tattwa karya KH. Agus Sunyoto. Seorang santri berani membuang mimpi menyandang gelar sarjana. Lalu memilih jalan sunyi. Arkian, dia benar-benar jadi mbeling dalam cara menerjemahkan sesuatu yang filosofis.
Membalik arah. Bayangkan, dari seorang calon sarjana, dia memutuskan merantau dan mengembara ke negeri pedalaman. Mencari hutan. Seakan dirinya personifikasi Rahwana yang bersemayam di Alengka.
Namanya Akhmad Fauzi Dimyati. Kenekatan mengembara membuatnya menemukan sebuah tempat yang memenuhi seluruh ekspektasinya. Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Dia tiba di sini pada tahun 2014 silam. Tanpa kepastian apa yang akan dilakukan. Tak ada jaminan soal masa depan.
Mungkin, bagi orang lain, langkahnya adalah kutukan. Menjerumuskan diri dalam kenestapaan, bak orang-orang buangan. Terkatung-katung tanpa sanak famili di pedalaman Borneo. “Awal datang ke Sintang pada 2014 lalu, benar-benar seperti orang hilang di hutan. Sempat ke Sanggau, namun tak lama diantarkan kenalan yang berkenan mengantarkan aku ke sini.
Delapan jam perjalanan naik motor. Kondisi jalan bergelombang dengan angin kencang. Gak nyangka hancur jalanannya. Parah, nggak seperti di Jawa. Berdua sama-sama buta arah, tidak tahu Sintang bagaimana dan tidak bisa berpatok pada GPS, sinyal telpon cerdas jadi goblok,” ungkap jebolan Ponpes Darussalam Lawang, Malang, Jawa Timur tahun 2002-2005 ini sembari terkekeh.
BURUH MENDIRIKAN REPUBLIK BUKU
Sejak tiba di Sintang, Ayah dari Lintang Haidar Haq Ramadhani ini jadi buruh di perkebunan sawit. Terakhir, bekerja di PT Prima Karya Perkasa, bagian logistik sejak 2014-2020. Namun, sebagai buruh, dia tak melulu memikirkan perbaikan nasib dengan upah yang wajar dan menyoal naiknya harga-harga Sembako.
Santri ini malah bermimpi punya Republik Buku. Sebuah komunitas pencinta buku berhasil diwujudkannya pada Agustus 2019 lalu. Republik Buku Sintang.
“Tercetus sebenarnya pada bulan Juli 2019 hasil dari ngopi dan diskusi. Namun, tidak direspon oleh mahasiswa-mahasiswi di kabupaten ini. Mungkin dikira akan dianggap sebagai saingan dari organisasi-organisasi ekstrakampus sehingga gerakan ini dibatasi oleh senior-senior organisasi,” ujar pria, yang pernah menduduki jabatan ketua di salah satu organisasi ektrakampus di Jawa Timur.
Tak mau terjebak dengan anggapan miring, orientasinya berubah. Dari mengajak mahasiwa, beralih kepada siapa saja yang memiliki minat baca. Termasuk siswa-siswi SMA sederajat. Bahkan, dia masuk hingga ke perguruan pencak silat Persaudaran Setia Hati Terate (PSHT). Termasuk bertemu kaum pekerja di daerah tersebut, agar tertarik bergabung. Mereka terkenang masa muda dan haus membaca lalu jadi anggota dan terlibat aktif.
“Anggota Republik Buku Sintang ada 200 orang lebih. Dengan anggota aktif diskusi maupun pertemuan bisa puluhan orang. Termasuk pula ketika ada kegiatan berupa peringatan hari nasional hingga agenda sosial, banyak yang terlibat. Walau hingga kini belum ada sekretariat, janjian dilakukan lewat group WhatsApp,” jelasnya.
Pandemi COVID-19 juga menghempas Republik Buku Sintang. Anak-anak sekolah dari berbagai kecamatan banyak pulang kampung karena menerapkan belajar dari rumah secara online. Kegiatan berdiskusi menjadi berkurang. Banyak juga siswa SMA yang sudah lulus dan tidak lagi bermukim di Sintang.
Fauzi tetap tak kenal menyerah. Dia yakin pandemi akan berlalu. Semua bakal kembali normal. Dengan anggota yang tersisa, Republik Buku Sintang mengagendakan kembali rekrutmen. Dimulai dari menjejalkan pengalaman menarik tentang buku-buku dan bacaan bergizi kepada anak muda.
“Di luar buku koleksi pribadi, buku-buku dari sumbangan anak-anak muda di Republik Buku Sintang ada sekitar 140 buah buku. Jangan lihat jumlah bukunya lho ya, tetapi bagaimana kita terus melakukan sebuah diskusi buku dalam komunitas ini, sambil sharing ide bersama, itu indah sekali. Tetap idealis walau kenyataan saya hanyalah buruh lepas. Bahkan, nyaris tak punya kerjaan sekarang akibat dampak COVID-19,” jelas pria yang sempat menjabat, head of the workshop pada sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Sejak 2004, dia telah menjadi saksi pembangunan di Sintang terus berjalan pesat. Terutama pembangunan sarana dan prasana jalan. Pembangunan suatu daerah dipengaruhi kepemimpinan atau kepala daerahnya.
“Itu yang aku rasa sebagai perantau dan buruh di daerah tercinta ini. Pengaruh yang benar-benar terasa masyarakat dengan pola kepemimpinan berbeda, ada seorang pemimpin yang membangun karakter, ada pula yang membangun infrastruktur, namun ada pula yang hanya membangun dirinya sendiri,” ungkapnya.
Waktu terus berjalan, Republik Buku Sintang tetap bergerak. Suatu waktu berlari kencang, lalu berjalan perlahan, terkadang menarik nafas panjang, ada pula tersengal-sengal. Namun sebagaimana perjalan di Alengka, penuh dengan tantangan yang harus dimaknai tanpa kehilangan pegangan pada niatan suci.
“Kami hanya ingin menjadikan Republik Buku Sintang. Sebagai wadah bagi kawan-kawan, untuk mengeksplorasi ide-ide maupun cita-cita. Ditengah segala keterbatasan mereka, untuk terus melangkah dengan gagah berani,” ujarnya menutup pembicaraan.
Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com
Tidak mudah bagi anak-anak eksakta (ilmu pasti, red), untuk dapat dianggap mampu memimpin atau mengo...
Menyamakan Anies Baswedan dan Cristiano Ronaldo sebenarnya bukan ide yang aneh. Yang aneh justru key...
Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...
E fructu arbor cognoscitur. Ungkapan latin yang berarti, “sebatang pohon bisa dikenali dari buahny...
Nama Amitabh Bachchan bukan sekadar milik dunia perfilman India. Ia telah menjadi bagian dari ingata...
Antologi puisi Jejak Kupu-Kupu merupakan terjemahan dari buku bahasa arab berjudul Atsarul Farasyah ...

Belum ada komentar.