
Apakah kamu adalah bagian dari orang yang terbangun di Senin pagi dengan perasaan lelah yang teramat sangat, namun segera merasa berdosa jika tidak langsung memeriksa tumpukan notifikasi di ponsel? Kita hidup di zaman yang menjanjikan segalanya: kita bisa menjadi CEO, influencer, pengusaha startup, atau apa pun yang kita impikan. Namun, di balik kemilau peluang tak terbatas ini, ada sebuah paradoks yang menyesakkan: kita adalah generasi yang paling lelah dalam sejarah, terjebak dalam “budaya gila kerja” (Grindset) yang membuat jiwa kita senantiasa kepanasan.
Byung-Chul Han, filsuf kelahiran Korea Selatan yang menetap di Jerman, menangkap fenomena ini dengan ketajaman bedah seorang kritikus. Melalui karyanya, The Burnout Society, Han mendiagnosis bahwa kelelahan kronis dan depresi massal masyarakat urban bukanlah sekadar masalah medis individu. Ini adalah gejala dari sistem neoliberal yang berhasil memenjara kita justru melalui konsep “kebebasan” itu sendiri.
Menjadi Tuan Sekaligus Budak
Han mengamati peralihan radikal dari Disciplinary Society (masyarakat disiplin) menuju Achievement Society (masyarakat berprestasi). Dulu, kekuasaan bekerja lewat larangan, seperti penjara atau pabrik yang mendikte apa yang “harus” dilakukan. Namun kini, kita tidak lagi membutuhkan mandor eksternal untuk mengawasi kita. Kita telah memindahkan “kamp kerja paksa” itu ke dalam batin kita sendiri melalui mentalitas wirausaha diri.
Dalam konteks lokal, kita sering mendengar filosofi Urip iku Urup (hidup itu nyala) dari Sunan Kalijaga. Namun, dalam masyarakat berprestasi, “nyala” ini dipaksa berkobar terlalu hebat hingga membakar habis sumbunya. Kita melakukan eksploitasi otomatis (auto-exploitation) yang jauh lebih efisien daripada penindasan orang lain (allo-exploitation), karena kita melakukannya dengan perasaan “bebas”. Perjuangan kelas kini bergeser menjadi “Perang Besar” atau perjuangan batin melawan diri sendiri.
“Setiap orang hari ini adalah buruh yang mengeksploitasi dirinya sendiri dalam perusahaannya sendiri. Orang-orang sekarang menjadi tuan dan budak sekaligus. Bahkan perjuangan kelas telah berubah menjadi perjuangan batin melawan diri sendiri.”
Fenomena ini tampak nyata dalam gig economy atau dunia freelancer. Tanpa jam kantor yang mengikat, seseorang justru merasa dihantui rasa bersalah jika tidak produktif setiap menitnya. Kita menjadi sipir bagi diri sendiri, mencabuki batin agar terus berlari, hingga akhirnya kita kelelahan bukan karena tekanan bos, melainkan karena ambisi yang tidak tahu cara berhenti.
Bahaya di Balik Slogan “Kamu Bisa”
Kita hidup di bawah tirani positivitas yang mematikan. Jika masyarakat lama bekerja dengan kata “Harus”, masyarakat modern digerakkan oleh kata “Bisa”. Slogan seperti “Yes We Can” atau motivasi latte enema di Senin pagi yang membakar semangat sekilas terdengar membebaskan. Namun, Han memperingatkan bahwa “Bisa” justru lebih mematikan daripada “Harus”.
“Harus” memiliki batas yang jelas dari luar, sedangkan “Bisa” tidak mengenal limit. Ketika kita gagal memenuhi standar ideal yang kita bangun sendiri, kita tidak menyalahkan sistem, melainkan menghancurkan diri sendiri. Inilah yang disebut Han sebagai “infark” (penyumbatan) psikis—bukan karena infeksi dari luar, melainkan karena kelebihan positivitas yang membuat jiwa kita mengalami overheating.
Toxic positivity ini memaksa kita menolak emosi negatif seperti sedih atau marah. Padahal, kegagalan adalah bagian manusiawi dari kehidupan. Dalam dunia yang mendewakan “Bisa”, depresi sebenarnya adalah bentuk protes tubuh yang tidak sanggup lagi menjadi “versi terbaik diri” menurut standar pasar. Kita menjadi predator sekaligus mangsa bagi ekspektasi kita sendiri.
Panoptikon Digital: Penjara yang Kita Rayakan
Dulu, pengawasan (Panoptikon) adalah sesuatu yang ditakuti. Sekarang, kita membangun sistem pengawasan itu secara sukarela dan penuh antusiasme. Ponsel pintar kita telah berubah menjadi “bilik pengakuan dosa digital” dan media sosial berfungsi layaknya “gereja global” tempat kita memamerkan segala detail hidup demi validasi.
Transparansi kini dianggap sebagai nilai moral baru, padahal Han menganggapnya sebagai bentuk kekuasaan yang menghancurkan privasi. Kita merasa sedang mengekspresikan diri secara bebas melalui likes dan komentar, padahal kita sedang mengubah diri menjadi komoditas. Kita dengan sengaja mengekspos diri karena haus akan perhatian, tanpa menyadari bahwa transparansi total membunuh kedalaman hubungan manusiawi.
Privasi bukan sekadar ruang untuk menyembunyikan kesalahan, melainkan ruang vital yang “gelap” dan misterius tempat pertumbuhan diri yang autentik terjadi. Tanpa ruang tersembunyi ini, hidup kita hanya menjadi performa dangkal yang terus-menerus diawasi oleh ribuan mata digital. Kita tidak lagi hanya menghuni penjara; kita adalah sipir yang dengan bangga memamerkan kunci sel kita sendiri ke publik.
Kematian Ritual dan Pentingnya Menjadi “Sia-Sia”
Masyarakat modern menderita hyperattention, perhatian yang terfragmentasi oleh stimulasi digital yang tiada habisnya. Akibatnya, kita kehilangan kemampuan untuk Vita Contemplativa (kehidupan kontemplatif). Kita membenci kebosanan dan waktu luang yang tidak menghasilkan sesuatu, menganggapnya sebagai waktu yang terbuang percuma.
Han menekankan bahwa kreativitas dan pemikiran mendalam justru lahir dari “kebosanan yang mendalam”, atau apa yang ia sebut sebagai “napas jiwa”. Ketika kita terus-menerus mengusir kebosanan dengan guliran media sosial, kita kehilangan kemampuan untuk melakukan pengamatan mendalam. Kita menjadi spesies yang bisa melakukan banyak hal (multitasking) namun kehilangan kemampuan untuk memaknai satu hal secara tuntas.
Melakukan sesuatu yang “tidak berguna”, seperti berkebun, melamun, atau melakukan ritual yang lambat, adalah bentuk perlawanan politik yang radikal atau “Tidak yang Berdaulat” (Sovereign No). Di dunia yang menuntut efisiensi, keberanian untuk menjadi tidak produktif adalah cara kita merebut kembali kemanusiaan kita dari mesin kapitalisme yang tak pernah tidur.
Psikopolitik: Ketika Hasrat Dikendalikan oleh Algoritma
Kekuasaan saat ini tidak lagi bekerja dengan menindas keinginan kita, melainkan dengan memprogramnya. Inilah yang disebut Han sebagai Psikopolitik. Melalui Big Data, sistem mengetahui hasrat kita bahkan sebelum kita menyadarinya. Kapitalisme emosional mengubah perasaan kita menjadi instrumen produktivitas; kita melakukan meditasi bukan untuk ketenangan jiwa, melainkan agar bisa bekerja kembali dengan lebih fokus.
Hasrat kita untuk terus berkembang atau self-improvement sering kali hanyalah cara sistem untuk memastikan bahwa “mesin” (diri kita) tetap berjalan optimal bagi pasar. Empati, kebahagiaan, dan kesehatan mental diubah menjadi aset produktif atau keterampilan kerja. Kita merasa memilih secara bebas saat mengikuti rekomendasi algoritma, padahal hasrat kita telah dipetakan secara matematis.
Dalam konteks ini, kebebasan menjadi ilusi yang sempurna. Kita merasa sedang memberdayakan diri, padahal kita sedang menyelaraskan diri dengan ritme algoritma yang menghisap interioritas kita. Kita tidak lagi dikendalikan oleh perintah, melainkan oleh janji-janji kepuasan instan yang diprogram untuk membuat kita tetap mengonsumsi dan bekerja tanpa henti.
Jalan keluar dari masyarakat yang lelah ini bukanlah dengan bekerja lebih cerdas (work smarter) atau mencari aplikasi produktivitas yang lebih canggih. Menurut Han, kita perlu memulihkan kemampuan untuk “berhenti” dan merangkul kembali “Estetika Perlawanan”. Kebebasan sejati dimulai ketika kita berani mengatakan “tidak” pada tuntutan untuk selalu menjadi versi terbaik menurut standar pasar, dan mulai belajar merasakan kehadiran yang nyata di dunia yang fisik.
Kita perlu belajar melihat kembali keindahan yang “total berbeda” (the totally other), yang tidak bisa dikonsumsi atau dihitung oleh angka. Sebagai renungan akhir bagi jadwal harian Anda yang padat:
Kapan terakhir kali Anda melakukan sesuatu yang benar-benar sia-sia dan tidak menghasilkan apa pun, murni hanya untuk merayakan fakta bahwa Anda masih hidup?






