AvePress.com

Belajar dari Komentar

Drishyam 2, Luka yang Tidak Pernah Benar-Benar Sembuh

Judul : Drishyam 2 (The Burden of Guilt) Sutradara : Abhishek Pathak Pemain : Ajay Devgn, Tabu, Akshaye Khanna, Shriya Saran, Ishita Dutta, Mrunal Jadhav

Judul : Drishyam 2 (The Burden of Guilt)
Sutradara : Abhishek Pathak
Pemain : Ajay Devgn, Tabu, Akshaye Khanna, Shriya Saran, Ishita Dutta, Mrunal Jadhav
Produksi : Panorama Studios, Viacom18 Studios dan T-Series Films
Tahun : 2022

Tujuh tahun telah berlalu sejak hilangnya Sam Deshmukh. Waktu memang terus berjalan, namun tidak demikian dengan kehidupan keluarga Vijay Salgaonkar (Ajay Devgn). Dari luar, keluarga kecil tersebut tampak kembali menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Vijay kini berhasil mewujudkan impiannya memiliki sebuah bioskop di Goa. Berkat kecintaannya terhadap film, ia bahkan mulai menulis sebuah cerita yang ingin diproduksi menjadi film layar lebar. Di mata masyarakat, Vijay tetap dikenal sebagai sosok sederhana, pekerja keras, dan seorang kepala keluarga yang selalu mengutamakan keluarganya di atas segala hal.

Akan tetapi, kehidupan yang tampak tenang tersebut sejatinya hanyalah permukaan. Peristiwa yang terjadi tujuh tahun sebelumnya tidak pernah benar-benar selesai. Luka yang pernah hadir memang tampak mengering, tetapi tidak pernah sembuh sepenuhnya. Di dalam rumah keluarga Salgaonkar, masa lalu masih hidup dalam bentuk yang berbeda-beda.

Anju, putri sulung Vijay, menjadi sosok yang paling merasakan dampak dari kejadian tersebut. Ia sering mengalami kecemasan berlebihan, sulit tidur, hingga beberapa kali kehilangan kendali ketika mendengar pembicaraan mengenai kepolisian. Nandini sebagai seorang ibu juga hidup dalam ketakutan yang sama. Setiap suara kendaraan polisi yang melintas di depan rumah mampu mengubah suasana menjadi tegang. Sementara Vijay, meskipun terlihat tenang, terus berusaha memastikan bahwa tidak ada sedikit pun celah yang mampu membawa keluarganya kembali berhadapan dengan hukum.

Di sisi lain, Meera Deshmukh (Tabu) belum pernah benar-benar menerima hilangnya putra semata wayangnya. Sebagai seorang ibu sekaligus pejabat tinggi kepolisian, ia meyakini bahwa keluarga Vijay menyimpan rahasia besar mengenai keberadaan Sam. Keyakinan tersebut membuatnya tidak pernah berhenti mencari kesempatan untuk membuka kembali penyelidikan yang telah bertahun-tahun tertutup.

Kesempatan itu akhirnya datang ketika muncul informasi baru yang memungkinkan kasus Sam dibuka kembali. Kepolisian kemudian menunjuk Tarun Ahlawat (Akshaye Khanna), seorang penyidik yang dikenal tenang, teliti, dan lebih mengandalkan analisis dibandingkan intimidasi. Berbeda dengan penyelidikan pada film pertama yang dipenuhi tekanan emosional, Tarun memilih membangun setiap kepingan fakta secara perlahan. Ia percaya bahwa sebuah kebohongan yang disimpan terlalu lama pada akhirnya akan meninggalkan celah sekecil apa pun.

Sejak saat itu, kehidupan keluarga Salgaonkar kembali berubah. Polisi mulai memeriksa ulang para saksi, menghubungkan berbagai peristiwa yang selama ini dianggap tidak berkaitan, hingga membangun kembali kronologi hilangnya Sam. Ketegangan dalam film ini tidak dibangun melalui adegan aksi ataupun kejar-kejaran, melainkan melalui permainan logika yang membuat penonton terus bertanya apakah Vijay masih mampu melindungi keluarganya sebagaimana tujuh tahun sebelumnya.

Sebagaimana film pertamanya, Drishyam 2 tetap mengandalkan kekuatan cerita. Hampir tidak ada adegan yang terasa berlebihan. Setiap percakapan, setiap ekspresi, bahkan setiap benda kecil yang muncul di layar memiliki fungsi tertentu di akhir cerita. Penonton tidak dipaksa menebak siapa pelakunya, melainkan diajak memahami bagaimana sebuah rahasia mampu bertahan selama bertahun-tahun.

Moral Injury dan Luka yang Tidak Pernah Terlihat

Apabila Drishyam pertama berbicara mengenai kekuatan sugesti dan pembentukan memori, maka Drishyam 2 justru mengajak penonton memahami bagaimana manusia hidup bersama rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar selesai.

Dalam psikologi modern dikenal sebuah konsep bernama Moral Injury. Kondisi ini menggambarkan luka batin yang muncul ketika seseorang melakukan, menyaksikan, atau terlibat dalam sebuah peristiwa yang bertentangan dengan nilai moral yang selama ini diyakininya. Berbeda dengan rasa bersalah biasa, Moral Injury tidak selalu berkaitan dengan hukuman hukum. Seseorang dapat terbebas dari proses peradilan, tetapi tetap merasa dihukum oleh hati nuraninya sendiri.

Kondisi tersebut tampak jelas pada diri Anju. Kematian Sam memang terjadi dalam situasi membela diri dan melindungi ibunya dari ancaman. Akan tetapi, kenyataan bahwa nyawa seseorang melayang di hadapannya tetap meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Tidak ada hakim yang menjatuhkan vonis kepadanya, namun pikirannya sendiri terus menghadirkan ruang sidang yang tidak pernah benar-benar ditutup.

Film ini juga memperlihatkan bahwa rasa bersalah memiliki wajah yang berbeda pada setiap individu. Anju menunjukkan kepanikan dan kecemasan. Nandini hidup dalam ketakutan yang terus berulang. Sementara Vijay memilih memikul semuanya dalam diam. Ketiganya mengalami beban psikologis yang sama, tetapi mengekspresikannya melalui cara yang berbeda.

Memori yang Dikubur Tidak Pernah Benar-Benar Hilang

Sigmund Freud menjelaskan bahwa manusia memiliki mekanisme pertahanan diri yang disebut Repression. Melalui mekanisme tersebut, pikiran berusaha menekan pengalaman yang menyakitkan ke alam bawah sadar agar individu dapat tetap menjalani kehidupannya. Akan tetapi, memori yang ditekan tidak pernah benar-benar menghilang. Ia hanya menunggu kesempatan untuk kembali muncul melalui mimpi, kecemasan, atau kilas balik terhadap sebuah peristiwa.

Fenomena tersebut banyak diperlihatkan melalui karakter Anju. Setiap kali masa lalu kembali disinggung, kecemasan yang selama ini tampak terkendali muncul kembali. Pengalaman traumatis ternyata tidak membutuhkan bukti fisik untuk tetap hidup. Cukup dengan sebuah pertanyaan, suara sirene, atau kedatangan aparat kepolisian, seluruh ingatan yang selama ini ditekan dapat muncul kembali seolah-olah peristiwa tersebut baru saja terjadi kemarin.

Dalam psikologi, kondisi tersebut juga dikenal sebagai Hypervigilance, yaitu keadaan ketika seseorang menjadi terlalu waspada terhadap ancaman di sekitarnya. Individu yang mengalami trauma cenderung sulit merasa aman karena pikirannya terus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Tubuhnya memang berada di ruang keluarga, tetapi pikirannya masih terjebak pada malam ketika peristiwa itu terjadi.

Menariknya, trauma dalam Drishyam 2 tidak hanya dimiliki keluarga Vijay. Meera Deshmukh juga hidup bersama trauma kehilangan anaknya. Bedanya, keluarga Vijay dihantui oleh rasa bersalah, sedangkan Meera dihantui oleh kehilangan yang tidak pernah memperoleh kepastian. Dua keluarga tersebut sama-sama menjadi korban dari satu peristiwa yang sama, hanya luka yang mereka bawa memiliki bentuk yang berbeda.

Film garapan Abhishek Pathak ini berhasil mempertahankan kekuatan cerita yang sebelumnya dibangun oleh Nishikant Kamat pada film pertama. Tanpa mengandalkan efek visual berlebihan maupun adegan aksi yang bombastis, Drishyam 2 menyuguhkan ketegangan melalui permainan logika, emosi, dan kondisi psikologis para tokohnya. Setiap adegan terasa memiliki tujuan, sementara setiap keputusan para tokohnya selalu membawa konsekuensi yang semakin besar.

Pada akhirnya, Drishyam 2 bukan sekadar film mengenai penyelidikan kepolisian atau upaya menyembunyikan sebuah rahasia. Film ini merupakan cerita tentang manusia yang berusaha hidup berdampingan dengan masa lalunya sendiri. Bukti mungkin dapat disembunyikan, saksi mungkin dapat berubah, bahkan waktu dapat menghapus banyak jejak. Namun, ingatan memiliki caranya sendiri untuk bertahan, dan rasa bersalah sering kali menjadi tempat paling setia bagi masa lalu untuk terus tinggal.

Barangkali itulah mengapa penjara yang paling sulit dibobol bukanlah penjara yang dibangun oleh hukum. Penjara yang paling kuat justru dibangun oleh hati nurani, sebab tidak ada seorang pun yang mampu benar-benar melarikan diri dari dirinya sendiri.

MasBen

Makhluk Tuhan tanpa kelebihan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AvePress.com

Belajar dari Komentar