MasBen • Jun 28 2026 • 4 Dilihat

Ketika membahas sepak bola Afrika, orang biasanya memulai dari tempat yang sama. Federasi yang berantakan. Kompetisi domestik yang tertinggal. Infrastruktur yang belum memadai. Atau daftar panjang masalah administratif yang terkadang lebih menarik daripada pertandingan itu sendiri.
Semuanya benar. Namun, mungkin dunia terlalu sibuk mencari penyebab di tempat yang salah.
Bagaimana jika masalah terbesar sepak bola Afrika bukan karena mereka kekurangan pemain hebat?
Bagaimana jika masalahnya justru karena mereka memiliki terlalu banyak pemain hebat yang bermain untuk negara lain?
Sepintas gagasan itu terdengar berlebihan. Namun semakin lama dipikirkan, semakin sulit untuk diabaikan. Sebab dalam dua dekade terakhir, Afrika tidak pernah berhenti menghasilkan talenta kelas dunia. Setiap musim, pemain berdarah Afrika bermain di klub-klub terbaik Eropa, memenangkan liga domestik, mengangkat trofi Liga Champions, bahkan menjadi ikon generasi sepak bola modern.
Yang menarik, sebagian dari mereka tidak pernah benar-benar bermain untuk negara asal leluhurnya.
Mereka lahir di Paris, London, Brussel, Amsterdam, atau Berlin. Mereka tumbuh di akademi-akademi Eropa, belajar sepak bola dari sistem pembinaan Eropa, lalu pada akhirnya membela negara tempat mereka dibesarkan. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun dari sudut pandang Afrika, ada satu pertanyaan yang sulit dihindari.
Bagaimana jadinya jika semua talenta itu bermain dalam satu seragam?
Pertanyaan tersebut mungkin paling terasa ketika Prancis menjuarai Piala Dunia 2018. Malam itu dunia memuji akademi sepak bola Prancis, kualitas pembinaan pemain mudanya, dan kemampuan negara tersebut menghasilkan generasi emas yang luar biasa. Semua pujian itu memang layak diberikan. Namun di balik pesta juara tersebut, terdapat fakta yang cukup menarik.
Banyak pemain utama Prancis memiliki akar keluarga yang berasal dari Afrika.
Kylian Mbappé memiliki garis keluarga Kamerun dan Aljazair. Paul Pogba berasal dari keluarga Guinea. N’Golo Kanté adalah putra pasangan asal Mali. Samuel Umtiti lahir di Kamerun. Blaise Matuidi memiliki akar Angola dan Kongo. Steve Mandanda lahir di Republik Demokratik Kongo. Dan daftar itu bahkan belum mencakup seluruh skuad.
Ketika trofi Piala Dunia diangkat di Moskow, ada begitu banyak cerita keluarga yang sebenarnya bermula ribuan kilometer dari Paris.
Tentu saja mereka adalah pemain Prancis. Tidak ada perdebatan mengenai hal itu. Namun tetap saja ada ironi yang menarik. Pada saat negara-negara Afrika kembali gagal menembus puncak sepak bola dunia, sebagian darah Afrika justru ikut mengangkat trofi tersebut.
Afrika gagal juara dunia, tetapi jejak Afrikanya menang.
Sulit menemukan paradoks yang lebih unik dari itu.
Fenomena serupa juga tidak hanya terjadi di Prancis. Inggris memiliki Bukayo Saka yang berasal dari keluarga Nigeria. Jerman memiliki Jamal Musiala dengan ayah berdarah Nigeria. Kamerun dapat melihat nama-nama seperti William Saliba atau Aurélien Tchouaméni bermain untuk Prancis. Sementara Nigeria mungkin hanya bisa membayangkan seperti apa mengerikannya sebuah tim yang berisi Victor Osimhen, Bukayo Saka, Jamal Musiala, dan beberapa pemain diaspora lainnya dalam satu skuad.
Untungnya bagi negara-negara lain, sejarah memiliki rencana berbeda.
Di sinilah sepak bola modern menghadirkan persoalan yang jauh lebih rumit daripada sekadar taktik dan skor pertandingan. Sebab yang diperebutkan bukan hanya pemain, melainkan juga identitas.
Mbappé tidak meninggalkan Kamerun. Ia lahir di Prancis.
Saka tidak meninggalkan Nigeria. Ia lahir dan tumbuh di Inggris.
Musiala tidak meninggalkan Nigeria. Ia dibentuk oleh lingkungan yang membuatnya merasa menjadi bagian dari Jerman.
Mereka tidak sedang memilih antara benar dan salah. Mereka hanya memilih rumah yang mereka kenal.
Namun sepak bola memiliki kebiasaan unik: membuat silsilah keluarga tiba-tiba menjadi sangat penting.
Dalam kehidupan sehari-hari, hampir tidak ada orang yang bangun pagi lalu memikirkan dari mana asal buyutnya. Tetapi begitu seorang pemain muda tampil impresif di liga Eropa, mendadak ribuan orang berubah menjadi peneliti sejarah keluarga. Nama kakek, nenek, hingga kampung halaman leluhur menjadi informasi yang lebih dicari daripada nilai rapor saat sekolah.
Sepak bola modern mungkin satu-satunya tempat di mana DNA bisa berubah menjadi strategi pembangunan tim nasional.
Indonesia tentu memahami fenomena ini dengan sangat baik. Ketika pemain diaspora memilih membela Merah Putih, media sosial sering kali berubah menjadi ruang diskusi silsilah keluarga terbesar di dunia. Diagram keturunan beredar lebih cepat daripada hasil pertandingan itu sendiri. Orang-orang yang selama ini tidak pernah membuka pohon keluarga tiba-tiba mampu menjelaskan hubungan darah seorang bek tengah dengan Nusantara hingga tiga generasi ke belakang.
Menariknya, apa yang dianggap kehilangan oleh sebagian negara Afrika justru dianggap keberuntungan oleh Indonesia.
Afrika melihat diaspora sebagai pemain yang pergi. Indonesia melihat diaspora sebagai pemain yang datang. Orangnya sama. Ceritanya berbeda. Dan mungkin di situlah letak ironi terbesar sepak bola modern.
Selama ini dunia terlalu sering mengatakan bahwa Afrika tertinggal karena gagal menghasilkan cukup tim nasional yang kompetitif. Padahal kenyataannya mungkin lebih rumit daripada itu. Afrika tidak pernah kekurangan bakat. Setiap musim, pemain-pemain berdarah Afrika terus muncul di level tertinggi sepak bola dunia. Mereka memenangkan liga, mengangkat trofi, dan menjadi wajah masa depan olahraga ini.
Masalahnya, sebagian dari mereka melakukannya dengan seragam yang berbeda.
Karena itu, mungkin judul yang paling tepat untuk kisah ini bukanlah tentang kemunduran sepak bola Afrika. Sebab Afrika tidak kehilangan pemain hebat. Afrika tidak kehilangan bakat.
Afrika kehilangan tim nasionalnya.
Di ruang rawat inap VVIP Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie (AWS), Samarinda. Nampak belasan orang me...
Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...
Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...
Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...
Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...
Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...

Belum ada komentar.