MasBen • Feb 15 2026 • 181 Dilihat

Ada luka yang tidak lahir dari pukulan, tetapi dari kalimat yang diulang pelan-pelan. Broken Strings berdiri di wilayah itu: wilayah relasi yang tampak intim, penuh perhatian, namun perlahan meluruhkan kehendak seseorang atas dirinya. Buku ini tidak berisik, tidak dramatik dalam pengertian populer. Justru karena itulah terasa sangat mengganggu.
Sejak bagian awal, pembaca tidak langsung diseret pada peristiwa besar. Aurelie Moeremans memilih berjalan perlahan, memperlihatkan masa muda yang tampak normal, bahkan hangat. Di sinilah jebakannya. Buku ini seperti ingin mengatakan: kekerasan emosional jarang datang sebagai monster. Ia sering hadir sebagai seseorang yang tahu caranya membuat kita merasa dibutuhkan.
Pada salah satu bagian, Aurelie menggambarkan bagaimana ia mulai mempertanyakan keinginannya sendiri, bukan karena ia ragu, tetapi karena ia belajar bahwa mempertanyakan diri adalah cara paling aman untuk bertahan. Kalimat-kalimat semacam ini bekerja sebagai pengakuan sunyi: bahwa dalam relasi yang timpang, korban sering kali tidak menyadari kapan ia berhenti menjadi subjek dan berubah menjadi properti emosional.
Yang menarik, Broken Strings tidak memosisikan penulis sebagai tokoh yang selalu sadar. Justru sebaliknya, ada kejujuran yang nyaris tidak nyaman ketika ia menuliskan bagaimana pembenaran demi pembenaran dibuat. Cinta dijadikan alasan, usia dijadikan dalih, dan kesetiaan dijadikan kewajiban. Di sanalah buku ini menjadi penting: ia menunjukkan bahwa kekerasan emosional bekerja lewat logika yang tampak masuk akal bagi orang yang menjalaninya.
Pada bagian lain, Aurelie menulis tentang rasa bersalah yang muncul bahkan ketika ia menjadi pihak yang terluka. Rasa bersalah karena merasa “tidak cukup kuat”, “tidak cukup dewasa”, atau “tidak cukup pengertian”. Ini bukan sekadar curahan perasaan, ini adalah potret bagaimana relasi kuasa menanamkan tanggung jawab palsu pada korban. Buku ini dengan halus membongkar mekanisme itu, tanpa harus menggurui atau menunjuk pelaku secara eksplisit.
Judul Broken Strings sendiri bekerja sebagai metafora yang konsisten. Senar yang putus tidak selalu berbunyi keras. Kadang ia hanya kehilangan tegangan, kehilangan fungsi, dan dibiarkan menggantung. Dalam buku ini, senar itu adalah kepercayaan diri, intuisi, dan batas personal. Ketika satu per satu putus, yang tersisa hanyalah tubuh yang masih bertahan, tetapi jiwa yang terus menyesuaikan diri agar tidak ditinggalkan.
Yang patut dicatat, buku ini tidak menawarkan katarsis instan. Pemulihan tidak digambarkan sebagai garis lurus. Ada bagian-bagian yang terasa stagnan, bahkan terulang. Namun justru di situlah kejujurannya. Broken Strings menolak narasi populer tentang “bangkit dan selesai”. Ia memperlihatkan bahwa pulih adalah proses yang sering kali membosankan, lambat, dan penuh keraguan.
Di bagian akhir, buku ini tidak menutup dengan kemenangan. Tidak ada deklarasi besar, tidak ada penyelesaian sempurna. Yang ada adalah pengambilan kembali suara. Menulis menjadi tindakan paling sunyi untuk merebut kembali narasi dari relasi yang pernah merenggutnya. Meski perlahan, nyatanya, dengan bicara, seseorang bisa kembali berdiri.
Sebagai sebuah karya, Broken Strings bukan hanya memoar personal Aurelie. Ia adalah dokumen tentang bagaimana relasi yang tidak setara bisa tumbuh subur dalam diam, dilindungi oleh romantisasi, dan dimaafkan atas nama cinta. Buku ini penting bukan karena siapa penulisnya, tetapi karena betapa banyak pembaca yang mungkin menemukan potongan dirinya di dalam salah satu kalimat atau paragraf di tiap halamannya.
Membaca Broken Strings berarti bersiap tidak nyaman. Karena di balik kalimat yang tenang, tersimpan kenyataan keras bahwa cinta bisa menjadi jeratan, perhatian bisa menjadi alat pengendalian, dan kesetiaan bisa menjadi tembok batasan. Aurelie menulis untuk menuntun kita melihat relasi yang timpang dan menusuk.
Ketika buku ini usai, pembaca tidak kembali sama. Ia menuntut pertanyaan: berapa banyak senar yang putus dalam hidup kita sendiri, dan seberapa lama kita membiarkan diri tetap tergantung demi cinta yang bukan milik kita? Broken Strings menegaskan satu hal: membebaskan diri dari jerat kuasa bukan sekadar bertahan, tapi merebut kembali hak untuk berdiri-menjadi subjek utama dalam kehidupan.
E fructu arbor cognoscitur. Ungkapan latin yang berarti, “sebatang pohon bisa dikenali dari buahny...
Perkembangan teknologi digital telah menggeser makna pendidikan dari proses pembentukan manusia menj...
IPA dan IPS sering kali dipandang sebagai dua dunia yang tak pernah bisa menyatu. Yang satu dikenal ...
Antologi puisi Jejak Kupu-Kupu merupakan terjemahan dari buku bahasa arab berjudul Atsarul Farasyah ...
Penulis novel laris dengan judul “Hati Suhita” ternyata juga memiliki banyak tulisan lainnya. Sa...
“Aku bisa karena terbiasa “ adalah sebuah motto yang kerap kali saya dengar ketika kakak tingk...

Belum ada komentar.