AvePress.com

Belajar dari Komentar

Jangan Post Dulu! Dunia Sudah Terlalu Ramai

Ada satu kalimat yang semakin sering terdengar belakangan ini. “Jangan di-post ya.” Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan seperti permintaan kecil yang tidak berarti. Namun di

Ada satu kalimat yang semakin sering terdengar belakangan ini. “Jangan di-post ya.”

Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan seperti permintaan kecil yang tidak berarti. Namun di baliknya, tersimpan satu kegelisahan yang barangkali hanya lahir di zaman media sosial. Di saat semua orang berlomba membagikan hidupnya, semakin banyak orang justru ingin menyelamatkan sebagian hidupnya agar tidak berubah menjadi tontonan. Bukan karena membenci kamera, melainkan karena kegaduhan dunia maya.

Dunia ternyata tetap berputar tanpa fitur story.

Aneh memang. Seseorang yang memilih tidak memiliki media sosial sering kali diperlakukan seperti manusia yang tertinggal zaman. Pertanyaan seperti, “Kok nggak punya Instagram?”, “Nggak pernah update?”, atau bahkan, “Masih hidup, kan?” terdengar seperti candaan, padahal diam-diam menyimpan anggapan bahwa keberadaan seseorang harus dibuktikan melalui layar ponsel. Seolah-olah kehidupan baru dianggap nyata setelah muncul notifikasi bahwa seseorang baru saja mengunggah sesuatu.

Yang tidak terlihat dianggap tidak hidup.

Padahal semua orang begitu bersemangat membela hak untuk bermedia sosial. Hak untuk berpendapat, membuat konten, mengunggah foto, atau membagikan aktivitas sehari-hari. Semua itu memang hak yang patut dihormati. Namun anehnya, hak untuk tidak bermedia sosial justru sering diperlakukan seperti keputusan yang harus dijelaskan panjang lebar.

Bukankah kebebasan juga berarti bebas untuk tidak ikut ramai?

Tidak semua orang ingin sarapannya menjadi konsumsi publik. Tidak semua perjalanan harus berubah menjadi konten. Ada yang memang merasa kebahagiaan akan tetap menjadi kebahagiaan meski tidak pernah mendapat tanda suka, dan pencapaian tetap menjadi pencapaian meski tidak pernah muncul di linimasa. Kehidupan tidak selalu membutuhkan penonton untuk terasa berarti.

Problemnya, media sosial telah mengubah cara manusia memandang keberadaan. Mereka yang sering muncul dianggap aktif. Sementara yang jarang mengunggah dianggap menghilang. Padahal dunia nyata tidak pernah bekerja dengan logika sesederhana itu. Dunia nyata jauh lebih sibuk daripada sekadar memikirkan kapan harus memperbarui status.

Di luar algoritma, ada jutaan orang yang bangun sebelum matahari terbit. Mereka mengejar kereta pertama, membuka toko kecil, mengajar di sekolah, mengayuh sepeda menuju sawah, mengantar barang ke berbagai kota, atau duduk berjam-jam di depan layar 13 inci. Pulang ketika badan sudah terlalu lelah, lalu mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya. Tidak ada daily vlog, tidak ada reels, tidak ada siaran langsung yang memperlihatkan bagaimana lelah itu dibayar sedikit demi sedikit.

Dan anehnya, justru mereka sering dianggap tidak punya kehidupan.

Media sosial memang pandai memilih sudut pandang. Yang dipotret adalah secangkir kopi, bukan lembur yang membayarnya. Yang diunggah adalah sepiring makanan, bukan rapat yang menguras tenaga, bukan perjalanan panjang menuju kantor, bukan cicilan rumah yang masih bertahun-tahun harus dibayar, dan bukan pula tanggung jawab sebagai manusia. Algoritma hanya memperlihatkan hasil akhirnya, sementara dunia nyata menyimpan seluruh cerita di belakangnya.

Foto makanannya viral. Perjuangannya tidak.

Betapa banyak foto makanan yang setiap hari memenuhi linimasa sebenarnya lahir dari hasil kerja orang-orang yang bahkan tidak punya waktu bermain media sosial. Sepiring steak itu mungkin dibeli setelah bertahun-tahun mencicil kendaraan, menahan keinginan membeli barang lain, atau bekerja hingga larut malam. Dunia maya menikmati gambar akhirnya, sementara dunia nyata menyaksikan proses yang penuh peluh, cemas, dan tanggung jawab.

Yang lebih melelahkan sebenarnya bukan media sosialnya, melainkan perlombaan yang diam-diam diciptakannya. Tidak ada panitia, tidak ada hadiah, bahkan tidak ada garis akhir. Namun semua orang merasa harus terlihat lebih sibuk, lebih sukses, lebih bahagia, lebih produktif, atau setidaknya lebih menarik daripada kemarin.

Aneh sekali, bahkan kesederhanaan kini harus dipublikasikan agar dipercaya.

Ada yang memotret makan di warteg lalu menulis, “Tetap membumi.” Ada yang merekam dirinya membantu orang lain dengan kamera yang ternyata lebih siap daripada tangannya sendiri. Ada pula yang sibuk membuat video tentang hidup sederhana menggunakan ponsel yang harganya cukup untuk membayar uang sekolah satu semester. Dunia maya memang kadang memiliki selera humor yang tidak disengaja.

Yang lebih lucu lagi adalah kalimat yang hampir selalu muncul ketika ada kritik.

“Ini akun saya.””Mau posting apa pun terserah.”

Kalimat itu tentu benar. Tidak ada yang berhak mengatur isi akun pengguna. Namun kalau memang benar tidak peduli, mengapa harus sibuk menjelaskan bahwa tidak peduli? Mengapa setiap unggahan terasa perlu didampingi pembelaan, seolah-olah persidangan akan segera dimulai beberapa detik setelah tombol unggah ditekan?

Barangkali karena memang begitulah media sosial bekerja. Ia tidak melarang siapa pun, tetapi berhasil membuat manusia menyensor dirinya sendiri. Caption ditulis lalu dihapus, foto dipilih lalu diganti, bukan karena momennya kurang indah, melainkan karena performa diri di depan dunia. Ironisnya, yang paling keras menghakimi sering kali bukan netizen, melainkan diri sendiri.

Faktanya, persidangan dimulai bahkan sebelum unggahan diterbitkan.

Mungkin karena itulah kalimat “jangan di-post ya” semakin sering terdengar. Bukan karena manusia tiba-tiba membenci media sosial, melainkan karena masih ada yang ingin menyimpan sebagian hidupnya sebagai kenangan, bukan sebagai konten. Masih ada yang percaya bahwa tidak semua tawa harus direkam, tidak semua makan malam harus dipotret, dan tidak semua kebahagiaan harus diumumkan kepada dunia.

Sebab kehidupan nyata tidak pernah menunggu notifikasi. Matahari tetap terbit tanpa unggahan good morning, orang tua tetap menua tanpa muncul di story, anak-anak tetap tumbuh tanpa menjadi konten, dan cicilan tetap jatuh tempo meski tidak pernah masuk FYP. Dunia nyata selalu bergerak lebih dulu, sementara dunia maya sering kali hanya datang belakangan untuk memilih bagian mana yang layak dipamerkan.

Barangkali kemewahan terbesar hari ini bukan memiliki jutaan pengikut, ribuan like, dan ratusan komentar. Melainkan mampu menikmati hidup tanpa merasa wajib membuktikan kepada dunia bahwa hidup berjalan baik-baik saja.

MasBen

Makhluk Tuhan tanpa kelebihan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AvePress.com

Belajar dari Komentar