AvePress.com

Belajar dari Komentar

Operasi Pesta Copet, Dilema Kehidupan dan Tantangan yang harus dilewati

Produksi: Imajinari, Angin Segar, dan Boss Creator Pemain: Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba, Fauzan Lubis, Azizah Hanum, Ardit Erwandha, Kiki Narendra Sutradara:

Produksi: Imajinari, Angin Segar, dan Boss Creator
Pemain: Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba, Fauzan Lubis, Azizah Hanum, Ardit Erwandha, Kiki Narendra
Sutradara: Edy Khemod
Tahun: 2026

Film ini diangkat berdasarkan pengalaman pribadi yang dialami oleh sang sutradara, Edy Khemod, sebagai penggebuk drum grup band Seringai. Kisah tersebut berangkat dari cerita yang sering didengar dari orang-orang ketika dirinya manggung bersama grupnya, yakni sering terjadinya aksi pencopetan dalam sebuah pertunjukan musik kala itu. Hal ini mungkin terdengar aneh, atau malah menjadi sebuah kebiasaan seseorang yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi.

Kisah film diawali dengan seorang anak dari desa yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit. Ia kemudian diajak oleh ibunya merantau ke Ibu Kota Jakarta. Ijal namanya, diperankan oleh Iqbaal Ramadhan. Ia diajak merantau oleh ibu kandungnya bersama ayah angkatnya untuk melanjutkan hidup di kota. Ijal awalnya tidak mau, namun dipaksa oleh sang ibu hingga akhirnya sampai di tengah hingar-bingar Ibu Kota.

Sesampainya di Ibu Kota, ternyata Ijal tidak hidup bersama ibunya, melainkan dititipkan kepada saudaranya. Tinggal di rumah susun, bersama saudaranya bernama Melodi, ia melewati masa anak-anak dengan kondisi yang serba terbatas. Kehidupan tersebut jauh berbeda ketika dirinya masih hidup di desa.

Beranjak dewasa, Ijal dipaksa berjuang menghadapi kerasnya kehidupan Ibu Kota. Pendidikan yang tidak selesai membuatnya kebingungan bagaimana cara melanjutkan hidup. Sebagai seorang laki-laki, ia teringat pesan ayahnya dulu bahwa tidak boleh putus asa dan harus tetap berusaha dalam berbagai hal, termasuk dalam urusan pekerjaan.

Hasilnya, Ijal diterima bekerja di sebuah pabrik. Namun, pekerjaan itu tidak berlangsung lama. Belum sampai setahun, Ijal terkena PHK dari pekerjaannya. Ia kembali bingung harus mencari pekerjaan ke mana. Beruntung, Ijal memiliki sahabat bernama Adut alias Badut, diperankan oleh Kristo Immanuel. Bersama Adut dan ayahnya, Ijal menjadi badut untuk menghibur orang. Meskipun uang yang didapat masih dirasa kurang, Ijal tetap ikhlas menerimanya.

Tumbuh dan besar di lingkungan dengan berbagai keterbatasan, tiba-tiba datang seorang teman bernama Silet. Ia bermaksud mengajak Adut dan Ijal untuk mencopet di pasar. Tawaran tersebut tanpa pikir panjang diterima oleh Adut dan Ijal. Mereka kemudian diajari oleh Bang Silet bagaimana cara mencopet handphone. Ada pembagian tugas yang dilakukan, yakni mengalihkan perhatian, mengambil barang, dan menyiapkan tempat untuk menyimpan barang hasil copetan.

Mereka bergerak melancarkan aksinya dari satu pasar ke pasar lainnya. Hasil yang didapatkan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Adut sudah tidak lagi menjadi badut untuk membantu orang tuanya, sementara Ijal tidak lagi khawatir memikirkan kebutuhan sehari-hari.

Sampailah datang apes dan sial yang menimpa Bang Silet, yang kata orang tidak ada di kalender. Silet tertangkap oleh keamanan pasar dan mendapat hukuman penjara. Di saat itulah Adut dan Ijal kembali bingung bagaimana cara mendapatkan uang. Hari-hari dilalui dengan kebingungan, terutama bagi Ijal karena tiba-tiba ibu kandungnya datang bersama adiknya untuk meminta pertolongan. Sang ibu ternyata memiliki utang yang harus diselesaikan.

Bergeser ke Melodi, saudara Ijal yang memiliki hobi terhadap musik dan sering menonton pertunjukan musik secara langsung. Melodi bermaksud mengajak Ijal datang ke Pesta Pora, tempat digelarnya pertunjukan musik besar dengan puluhan panggung dan penonton yang mencapai ratusan orang. Konser musik tersebut berlangsung selama tiga hari.

Cerita Melodi tersebut membuat Ijal terbersit untuk melakukan aksi pencopetan kembali di konser musik Pesta Pora. Rencana dan pertemuan-pertemuan kemudian disusun oleh Ijal dengan mengajak satu orang lain bernama Tia. Mereka berempat bersepakat melakukan aksi pencopetan pada konser Pesta Pora tersebut.

Strategi pun disusun dengan pembagian tugas yang masih sama, yakni mengalihkan perhatian korban, mengambil handphone milik korban, dan menyiapkan tempat untuk menampung barang hasil copetan. Namun, masih seperti sebelumnya, hari apes memang tidak ada di kalender. Mereka berempat tertangkap oleh CCTV keamanan pihak konser. Poster mereka kemudian dipampang di sekitar tempat konser Pesta Pora.

Kejadian tersebut membuat Ijal sedih karena tidak ingin teman-temannya terkena imbas dari apa yang telah dilakukannya. Ijal akhirnya menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib untuk mendapatkan hukuman. Setelah itu, hari berganti hari dan Ijal harus merasakan bagaimana hidup di dalam penjara. Namun, setelah masa hukumannya selesai, Ijal dapat kembali menjalani hidup secara normal dan diterima bekerja di sebuah perusahaan.

Cerita film di atas mengisahkan perjuangan seseorang untuk bertahan hidup menghadapi kerasnya dunia. Dalam kondisi apa pun, seseorang tetap harus berusaha mendapatkan pekerjaan yang halal untuk memperoleh penghasilan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apa pun pekerjaannya, selama tidak melakukan tindakan kriminal dan merugikan orang lain, pasti akan mendapatkan keberkahan.

Selain itu, film ini juga memberikan pesan bahwa tanggung jawab terhadap keluarga merupakan hal penting yang harus dilakukan terlebih dahulu, tanpa mengabaikan kepentingan dan kebutuhan keluarga demi kepentingan diri sendiri.

Kalau ingin, saya juga bisa membuat versi ini lebih halus dan terasa seperti sinopsis/resensi film, tetapi tetap tidak mengubah substansinya.

Very Yudha

Pantang lari dari gelanggang corong palayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AvePress.com

Belajar dari Komentar