AvePress.com

Belajar dari Komentar

Laut Bercerita- Mereka Hilang Ditelan Gelapnya Malam

Produksi: Pal8 Pictures (Tempo Media Grup) Pemain: Reza Rahadian, Dian Sastrowardoyo, Eva Celia, Kevin Julio, Ben Nugroho, Yoga Pratama, dan Dewa Dayana Sutradara: Yosep Anggi

Produksi: Pal8 Pictures (Tempo Media Grup)
Pemain: Reza Rahadian, Dian Sastrowardoyo, Eva Celia, Kevin Julio, Ben Nugroho, Yoga Pratama, dan Dewa Dayana
Sutradara: Yosep Anggi Noen
Tahun: 2026

Cerita film ini terinspirasi dari karya Leila S. Chudori. Berlatar akhir era 1990-an, menjelang runtuhnya rezim Orde Baru, film ini mengangkat kehidupan mahasiswa yang berada dalam tekanan pemerintahan. Melalui arahan sutradara Yosep Anggi Noen, sejumlah aktor dipilih untuk menghidupkan karakter-karakter penting dalam cerita. Biru Laut diperankan oleh Reza Rahadian, Kasih Kinanti oleh Dian Sastrowardoyo, dan Anjani oleh Eva Celia, bersama sejumlah aktor lainnya.

Pada masa Orde Baru, pemerintah memandang aktivitas mahasiswa sebagai ancaman terhadap keberlangsungan kekuasaan. Setiap bentuk pendapat dan aktivitas yang dianggap berseberangan dengan pemerintah dicurigai, termasuk forum-forum diskusi di lingkungan kampus. Dalam situasi tersebut, mahasiswa memiliki peran penting sebagai penyambung suara rakyat yang tengah mengalami penindasan dan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari.

Biru Laut merupakan seorang mahasiswa sekaligus penulis yang memiliki ketertarikan besar terhadap buku dan pemikiran para tokoh. Salah satu sosok yang menginspirasinya adalah Pramoedya Ananta Toer. Laut memiliki ambisi untuk mencerdaskan masyarakat melalui tulisan, baik melalui ketikan mesin tik maupun goresan pena. Sementara itu, Kinanti merupakan mahasiswi yang memimpin lembaga pers kampus bernama Winatra. Keduanya berkenalan di tempat percetakan dan fotokopi kampus. Dari perkenalan tersebut, mereka kemudian sepakat untuk mengadakan berbagai diskusi sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah Orde Baru.

Diskusi-diskusi tersebut berlangsung di sebuah sekretariat bersama sejumlah mahasiswa lainnya, seperti Daniel, Yoga, Anjani, dan kawan-kawan. Mereka sepakat untuk membantu serta mengadvokasi masyarakat yang mengalami penindasan. Salah satu upaya yang mereka lakukan adalah mendampingi para petani jagung di Desa Blangguan, Jawa Timur, yang menghadapi persoalan penggusuran lahan. Laut bersama kawan-kawannya bersepakat untuk menentang rencana penanaman jagung di atas tanah milik para petani yang terancam digusur. Namun, aktivitas mereka kemudian dianggap sebagai tindakan subversif oleh pemerintah Orde Baru.

Pergerakan mahasiswa tersebut ternyata telah tercium oleh pihak keamanan. Mereka mendapat tugas untuk mengawasi dan mengamankan setiap aktivitas mahasiswa yang dianggap mengancam kekuasaan. Menyadari situasi semakin berbahaya, Laut dan kawan-kawannya akhirnya memilih mundur dari lokasi perjuangan. Mereka kalah jumlah dibandingkan aparat keamanan yang berjaga di sekitar lahan pertanian milik warga. Selain itu, Laut juga mempertimbangkan keselamatan para petani yang berpotensi mendapat ancaman akibat keberadaan mahasiswa yang datang dan bersembunyi di desa tersebut.

Aksi pendampingan itu memang gagal, tetapi tidak membuat Laut, Kinan, dan kawan-kawan kehilangan semangat. Mereka tetap melanjutkan perjuangan melalui kajian dan diskusi di sekretariat bersama. Bagi mereka, ruang diskusi dan organisasi Winatra merupakan tempat untuk merawat gagasan sekaligus menyusun langkah perlawanan terhadap ketidakadilan.

Laut sendiri tumbuh sebagai pemuda yang gemar membaca buku dan terinspirasi oleh pemikiran berbagai tokoh, termasuk Pramoedya Ananta Toer. Ayahnya merupakan seorang wartawan yang gigih memberitakan kebijakan pemerintah Orde Baru yang tidak berpihak kepada rakyat, sedangkan ibunya adalah seorang fotografer. Latar belakang kedua orang tuanya turut membentuk karakter Laut sebagai sosok pemberani yang menyampaikan kritik tajam melalui tulisan. Hal ini berbeda dengan adiknya, Asmara, yang memilih menempuh pendidikan di bidang kedokteran. Melalui tulisan-tulisannya, Laut berusaha menyuarakan nasib rakyat yang mengalami penindasan dan tindakan sewenang-wenang dari pemerintah.

Namun, perjuangan tersebut membawa konsekuensi besar. Laut, Kinan, dan kawan-kawan lainnya masuk dalam daftar pencarian orang oleh pihak keamanan. Menyadari ancaman yang semakin nyata, mereka memutuskan untuk berpisah dan berpencar ke berbagai tempat. Meski demikian, komunikasi tetap dijaga melalui perangkat pager yang mereka miliki. Cara tersebut digunakan untuk melakukan konsolidasi dan menjaga keberlangsungan organisasi Winatra, yang mereka anggap sebagai rumah bagi gagasan perubahan dan perlawanan terhadap rezim Orde Baru.

Selama bertahun-tahun, mereka hidup dalam persembunyian. Hingga akhirnya, gejolak politik yang terjadi di ibu kota turut berdampak pada nasib orang-orang yang masuk dalam daftar pencarian pihak keamanan. Laut, Daniel, Sunu, dan Alex ditangkap oleh orang-orang yang mereka kenal, kemudian dibawa ke sebuah tempat untuk menjalani interogasi. Mereka mengalami penyiksaan agar bersedia mengungkap sumber pendanaan gerakan yang selama ini dijalankan. Berbulan-bulan mereka harus menghadapi penderitaan tersebut, tetapi tetap teguh pada pendirian dan tidak membuka informasi yang diminta.

Pada akhirnya, Laut dan Sunu dieksekusi mati di laut, sementara Daniel dan Alex dibebaskan. Meski telah keluar dari tahanan, keduanya tetap berada dalam pengawasan dan terus dimata-matai oleh pihak keamanan.

Tahun 1998 menjadi titik perubahan ketika rezim Orde Baru tumbang dan era reformasi dimulai. Alex dan Daniel bersama rekan-rekan media kemudian berinisiatif membentuk komisi untuk orang hilang. Komisi tersebut bertujuan mengungkap kebenaran di balik berbagai kasus penculikan dan pembunuhan yang terjadi selama masa kekuasaan Orde Baru. Sementara itu, orang tua Laut masih belum dapat menerima kehilangan anak mereka. Mereka diliputi kesedihan dan tetap percaya bahwa Laut masih hidup, setidaknya melalui perjuangan dan nilai-nilai yang selama ini ia pertahankan.

Film ini menyampaikan pesan tentang keberanian dalam menghadapi ketidakadilan. Pertanyaan mengenai mengapa seseorang harus takut menjadi salah satu refleksi penting yang dihadirkan. Pesan tersebut menjadi pengingat bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, bahwa semangat perubahan merupakan bagian dari tanggung jawab intelektual. Sebagai kelompok akademis yang memiliki kemampuan membaca, berpikir, dan menulis, mahasiswa mempunyai ruang untuk memengaruhi masyarakat melalui gagasan. Kemampuan tersebut semestinya digunakan untuk membela rakyat yang mengalami penindasan dan memperjuangkan kehidupan yang lebih adil.

Pada akhirnya, film ini juga mengingatkan bahwa pemerintah memperoleh mandat dan penghidupan dari rakyat, sementara rakyat sering kali harus berjuang dengan kekuatannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, pemerintah semestinya menjalankan tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh, membuka mata terhadap persoalan masyarakat, dan mendengarkan suara mereka yang selama ini berjuang untuk hidup. Semoga pemerintah hari ini benar-benar mampu menggunakan mata dan telinganya sebagaimana mestinya.

Very Yudha

Pantang lari dari gelanggang corong palayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AvePress.com

Belajar dari Komentar