AvePress.com

Belajar dari Komentar

Seni Merawat Prestasi dan Kehangatan Keluarga

Di tengah modernitas yang ditandai oleh percepatan waktu, tuntutan produktivitas, dan penetrasi teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari, manusia menghadapi tantangan serius dalam menjaga keseimbangan antara

Di tengah modernitas yang ditandai oleh percepatan waktu, tuntutan produktivitas, dan penetrasi teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari, manusia menghadapi tantangan serius dalam menjaga keseimbangan antara prestasi profesional dan kehangatan keluarga. Dua ruang kehidupan ini semakin tampak terpisah secara fungsional, tetapi justru semakin saling memengaruhi secara substantif.

Dalam perspektif sosiologi fungsionalisme struktural Fungsionalisme Struktural, masyarakat dipandang sebagai sistem yang terdiri atas berbagai subsistem yang saling bergantung, termasuk keluarga dan dunia kerja. Keluarga berfungsi sebagai agen sosialisasi primer yang membentuk nilai, emosi, dan kepribadian individu, sedangkan dunia kerja berfungsi sebagai ruang pencapaian peran instrumental dan ekonomi. Ketidakseimbangan salah satu subsistem akan berdampak pada disfungsi sistem sosial secara keseluruhan.

Namun, dalam realitas masyarakat modern, terjadi apa yang oleh Teori Konflik dipahami sebagai ketegangan struktural antara tuntutan sistem ekonomi kapitalistik dengan kebutuhan reproduksi sosial dalam keluarga. Dunia kerja menuntut efisiensi, kompetisi, dan produktivitas tanpa batas, sementara keluarga membutuhkan waktu, kehadiran emosional, dan stabilitas relasional. Ketegangan ini sering melahirkan apa yang disebut sebagai role strain (ketegangan peran).

Fenomena ini semakin kompleks dalam konteks masyarakat digital. Teori Interaksionisme Simbolik membantu menjelaskan bahwa makna “hadir” dalam keluarga tidak lagi bersifat fisik semata, tetapi juga simbolik dan interaksional. Seseorang bisa berada di rumah, tetapi tidak benar-benar “hadir” secara sosial karena perhatian dan makna interaksinya terserap oleh dunia kerja melalui gawai dan komunikasi digital.

Dengan demikian, terjadi pergeseran bentuk kehadiran sosial dari co-presence (kehadiran fisik bersama) menuju divided presence (kehadiran yang terpecah). Hal ini berdampak pada menurunnya kualitas emotional bonding dalam keluarga, yang dalam kajian sosiologi keluarga dipandang sebagai elemen kunci dalam pembentukan solidaritas internal.

Di sisi lain, teori Sosiologi Keluarga menegaskan bahwa keluarga tidak hanya berfungsi sebagai unit privat, tetapi juga sebagai institusi sosial yang memproduksi stabilitas masyarakat. Ketika kehangatan keluarga melemah, dampaknya tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial: meningkatnya stres, disorientasi nilai, hingga melemahnya kontrol sosial.

Dalam konteks ini, seni merawat prestasi dan kehangatan keluarga dapat dipahami sebagai upaya menjaga keseimbangan antara instrumental rationality dan affective rationality. Prestasi mewakili rasionalitas instrumental—orientasi pada hasil, target, dan efisiensi—sementara kehangatan keluarga mewakili rasionalitas afektif yang berorientasi pada kasih sayang, relasi, dan makna.

Teori Tindakan Sosial Max Weber memperkuat analisis ini dengan menunjukkan bahwa tindakan manusia tidak semata-mata rasional instrumental, tetapi juga dipandu oleh nilai (wertrational) dan emosi. Dengan demikian, menyeimbangkan prestasi dan keluarga bukan sekadar pilihan teknis, tetapi merupakan tindakan sosial yang sarat makna nilai.

Dalam praktiknya, modernitas sering mendorong dominasi rasionalitas instrumental sehingga waktu keluarga terpinggirkan. Di sinilah pentingnya kesadaran reflektif untuk mengembalikan keseimbangan hidup. Kehangatan keluarga tidak boleh dipandang sebagai residu dari waktu luang, tetapi sebagai fondasi eksistensial yang menopang keberlanjutan prestasi itu sendiri.

Dalam perspektif ini, prestasi dan keluarga bukan dua kutub yang saling meniadakan, tetapi dua sistem yang saling menguatkan dalam kerangka keseimbangan sosial. Individu yang mampu menjaga kehangatan keluarga cenderung memiliki stabilitas emosional yang lebih baik, yang pada akhirnya berdampak pada produktivitas dan keberlanjutan prestasi.

Pada akhirnya, seni merawat prestasi dan kehangatan keluarga adalah seni menjaga keseimbangan struktural sekaligus keseimbangan batin. Ia menuntut kemampuan untuk tidak terjebak pada logika produktivitas semata, tetapi juga memberi ruang bagi relasi, kasih sayang, dan makna hidup yang lebih dalam.

Sebab dalam kehidupan sosial, manusia bukan hanya “pekerja” atau “produsen”, tetapi juga “makhluk relasional” yang hidup dari dan untuk kehangatan hubungan sosial, terutama dalam keluarga.

 

Sutomo Putro

Pegiat Averroes Community, Staf Pengajar Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AvePress.com

Belajar dari Komentar