Heri Setiyono • Jan 23 2026 • 95 Dilihat

Menurut beberapa teman, instingku hebat. Alasan mereka, karena aku bisa tahu buah mangga di depan Averroes Mojolangu itu masak atau tidak hanya dengan melihatnya. Malah, ada teman yang bilang bahwa aku bisa mengetahui kematangan mangga tanpa harus melihatnya, melainkan dengan merasakannya. Hmm…anggapan yang sedikit berlebihan, menurutku.
Sebenarnya, untuk mengetahui buah mangga sudah masak pohon atau tidak, cukup hanya dengan mengandalkan ‘Ilmu Titen’. Ilmu ini warisan para nenek moyang kita terdahulu. Dengan ilmu ini sudah dihasilkan ribuan karya ilmu pengetahuan, misalnya berbagai macam primbon. Kembali ke soal mengetahui masak atau tidaknya mangga di pohon, cukup dilihat dari buahnya. Kalau sudah ada sedikit lebam pada buahnya, berarti mangga itu sudah masak dan bisa dipetik. Memang, lebam pertanda masak sedikit berbeda dengan lebam karena kerap dipijit. Cara terakhir, yakni dipijit, sering digunakan oleh para ‘codot siang malam’ untuk mengetahui kematangan mangga di Averroes. Kalau mangga sudah agak sedikit lunak kala dipijit, berarti sudah cukup matang, pikir mereka. Dan untuk tahu matang atau tidaknya mangga tanpa harus melihat langsung, sebenarnya cukup gampang: dengan memanjat, melihat dan atau memijit mangga, sebenarnya sudah cukup bisa diperkirakan kapan mangga yang telah dilihat atau dipijit itu akan matang. Bisa besok atau lusanya. Maka, besok atau lusa, sang mangga sudah bisa dipetik.
Pohon mangga di depan Averroes itu memang istimewa. Setiap musim, ia selalu berbuah, dan tidak pernah sedikit buahnya. Padahal, ia tidak pernah dipupuk atau diperlakukan yang lain yang ditujukan untuk menambah kesuburannya. Rasanya juga tidak kalah manis dengan mangga-mangga yang dijual di pasar, kios pinggir jalan, atau di supermarket. Apalagi, jika mangga itu masak pohon. Rasanya akan lebih segar ketimbang mangga yang dipetik kala setengah matang dan diperam terlebih dahulu.
Namun, yang lebih istimewa lagi adalah cara warga Averroes memperlakukannya. Siapapun orang yang berkeinginan untuk memetik mangga itu, pasti diijinkan. Apalagi, jika yang meminta mangga adalah perempuan, dan apalagi perempuan cantik, warga Averroes pasti ringan hati, kaki, dan tangan untuk memetikkan mangga dari tangkainya. Tidak perduli harus dengan memanjat atau dengan cara lain. Bahkan, semakin keras pengorbanan yang diperlukan, akan semakin bangga rasanya jika dipertunjukkan di depan perempuan cantik. Seolah, pahlawan di dunia ini hanyalah dia, khususnya di hadapan si perempuan cantik.
Cara warga Averroes memanen mangga juga istimewa. Jika ada salah satu warga Averroes yang memetik mangga, entah dengan memanjat atau menggunakan galah panjang, pasti tidak pernah mengambil satu mangga saja. Bisa tiga, empat atau lebih. Sebab, dia tidak mungkin tega hati untuk memakannya sendiri tanpa berbagi kepada warga Averroes lain. Malah, seringkali, demi mangga-mangga itu bisa dinikmati bareng-bareng dengan lebih nikmat, ada salah seorang teman yang mengupas dan sekaligus mengiris mangga-mangga yang sudah dipetik, lantas diletakkan di piring atau baki, beserta garpu untuk mengambil irisan mangga segar itu. Memakannya, bisa sambil ngobrol, nonton tivi atau sambil bermain ‘Meng’. Sungguh, cara panen yang istimewa.
Keistimewaan lain, warga Averroes tidak memanen mangga secara berlebihan. Jadi, dibiarkanlah buah-buah mangga di pohon itu agar menjadi masak pohon. Tidak ada pikiran untuk memetik keseluruhannya, termasuk yang masih setengah matang, kemudian diperam. Cara panen yang secukupnya, dan tidak eksploitatif ini yang istimewa. Jadi tidak menggunakan aji mumpung: mumpung sedang memanjat, mumpung banyak yang bisa dipetik, lantas dipetiklah semuanya. Melainkan, diambil secukupnya: cukup untuk dimakan sendiri dan dibagikan kepada teman yang lain. Sungguh, sesuai dengan cara hidup yang diajarkan oleh para senior di Dewan Penasehat dan Dewan Pengawas di Averroes: hidup pas-pasan dan cukup, yakni pas butuh pas ada, dan cukup untuk memiliki apapun yang diperlukan.
Maka, tak pantas kiranya jika ada orang yang mengatakan bahwa Averroes kita ini dzalim dan serakah.
ABM Permai
tahun itu
Tidak ada waktu yang lebih jujur di kantor selain jam dua siang. Pagi masih menyimpan sisa ambisi. G...
Sepak bola modern adalah dunia yang curiga pada kebebasan. Ia meminta semua orang tahu ruang, tahu w...
Mei 2026 datang bersama kalender yang tampak terlalu baik hati. Tanggal merah berderet, cuti bersama...
Dunia hari ini tampaknya semakin sulit berdamai dengan sunyi. Jeda kecil dalam hidup segera diisi su...
Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yan...
Sepak bola selalu menawarkan janji yang sama: sembilan puluh menit di mana dunia seolah bisa diseder...

Belum ada komentar.