MasBen • Jul 26 2026 • 6 Dilihat

Ada masa ketika nomor 10 adalah pusat dari seluruh semesta sepak bola.
Ia tidak berlari paling cepat. Tidak bertahan paling keras. Bahkan kadang terlihat berjalan ketika pemain lain sibuk mengejar bola. Namun begitu bola sampai di kakinya, seluruh stadion mendadak diam. Semua tahu sesuatu akan terjadi. Entah sebuah umpan yang memecah pertahanan, sebuah dribel yang mempermalukan bek lawan, atau tendangan yang membuat penjaga gawang hanya bisa menoleh.
Nomor 10 klasik tidak bekerja dengan otot. Mereka bekerja dengan imajinasi.
Maradona, Platini, Zico, Baggio, Riquelme, Zidane, Ronaldinho, hingga Kaka lahir dari zaman ketika sepak bola masih memberi ruang bagi pemain untuk berpikir beberapa detik lebih lama. Mereka hidup di antara lini tengah dan pertahanan lawan, menikmati ruang yang hari ini hampir mustahil ditemukan. Di era itu, kreativitas adalah kemewahan yang sengaja dipelihara.
Lalu sepak bola berubah.
Masuk ke dekade 2010-an, permainan menjadi semakin cepat, semakin fisikal, dan semakin obsesif terhadap organisasi. Guardiola memperkenalkan penguasaan ruang yang presisi, Klopp mempopulerkan gegenpressing yang membuat lawan nyaris tidak punya waktu bernapas, sementara pelatih-pelatih lain ikut membangun sepak bola yang semakin sistematis. Ruang di lapangan menyempit. Waktu berpikir semakin pendek. Semua pemain dituntut menekan, berlari, dan bertahan.
Sepak bola modern perlahan menghapus habitat nomor 10 klasik. Bukan karena mereka tiba-tiba kehilangan bakat. Dunia saja yang berhenti menyediakan tempat bagi tipe pemain seperti mereka.
Juan Roman Riquelme tetap menjadi Riquelme, tetapi permainan bergerak menjauh darinya. Mesut Ozil masih memiliki visi yang luar biasa, tetapi sepak bola mulai menuntut nomor 10 yang juga sanggup mengejar bek sayap lawan. James Rodriguez, bahkan Kaka di penghujung kariernya, merasakan hal yang sama. Mereka bukan pemain yang lebih buruk. Mereka hanya lahir untuk dunia yang berbeda.
Lalu ada satu pengecualian. Lionel Messi.
Ironisnya, Messi lahir dari spesies yang sama.
Ia adalah nomor 10 klasik yang menyamar sebagai penyerang sayap. Sejak muda, kekuatannya bukan terletak pada duel udara atau kekuatan fisik, melainkan pada kemampuan membaca ruang sebelum orang lain menyadarinya. Ia menggiring bola seolah tahu ke mana lawan akan bergerak beberapa detik kemudian. Ia melihat celah yang bahkan kamera televisi baru menemukannya setelah tayangan ulang diputar.
Namun ketika dunia berubah, Messi melakukan sesuatu yang gagal dilakukan banyak seniman sepak bola.
Ia tidak mempertahankan posisinya. Ia mempertahankan cara berpikirnya.
Perjalanan kariernya adalah cerita tentang evolusi. Dari penyerang sayap kanan yang menusuk ke dalam, ia berubah menjadi false nine yang memancing bek keluar dari posisinya. Ketika usianya bertambah, ia bergerak lebih dalam sebagai kreator utama. Lalu perlahan menjadi pengatur tempo yang mengendalikan pertandingan bukan dengan jumlah sprint, melainkan dengan kualitas keputusan.
Ia tidak pernah berhenti menjadi nomor 10.
Ia hanya terus mengubah bentuk nomor 10 itu sendiri.
Piala Dunia 2022 di Qatar adalah bukti paling sempurna dari evolusi tersebut. Banyak orang mengingat trofi yang akhirnya berhasil diangkat Messi. Padahal yang lebih menarik justru adalah bagaimana Argentina memainkan sepak bola di sekelilingnya.
Messi memang masih menjadi pusat permainan. Ia masih turun menjemput bola hingga ke area tengah, masih menggiring melewati pemain lawan, masih menciptakan peluang, sekaligus menyelesaikannya sendiri. Hampir setiap momen penting Argentina selalu melibatkan kaki kirinya.
Namun Argentina tidak lagi meminta Messi melakukan semuanya.
Rodrigo De Paul berlari untuk dua orang. Alexis Mac Allister menghubungkan lini tengah dengan lini depan. Enzo Fernández mengatur keseimbangan permainan. Julián Álvarez menjadi penyerang pertama yang melakukan pressing. Mereka semua melakukan pekerjaan yang mungkin tidak akan masuk video kompilasi di YouTube, tetapi justru membuat Messi tetap menjadi Messi.
Argentina tidak bergantung kepada Messi. Argentina memahami Messi.
Dan itu, berbeda.
Lionel Scaloni tidak memaksa pemain terbaiknya mengikuti tuntutan sepak bola modern secara membabi buta. Sebaliknya, ia membangun sistem yang membuat pemain lain bekerja lebih keras agar kreativitas Messi tetap memiliki ruang hidup. Di saat banyak tim meminta semua pemain melakukan hal yang sama, Argentina justru menerima bahwa pemain terbaiknya memang berbeda.
Dan keputusan itu membawa mereka menjadi juara dunia.
Pada Piala Dunia 2026, evolusi itu kembali berubah.
Usia membuat Messi tidak lagi mampu bermain dengan intensitas yang sama seperti empat tahun sebelumnya. Ia lebih sering berjalan, lebih sedikit menggiring bola dari tengah lapangan, dan tidak lagi mengejar setiap duel. Sekilas, bagi mata yang hanya menghitung kilometer lari, Messi tampak menurun.
Padahal yang berkurang hanyalah langkahnya.
Bukan pikirannya.
Messi mulai memainkan peran yang lebih sunyi. Ia tidak lagi berusaha mengendalikan setiap detik pertandingan. Ia memilih mengendalikan detik-detik yang paling menentukan. Sentuhannya mungkin lebih sedikit, tetapi hampir setiap sentuhan membawa konsekuensi besar. Ia menunggu ruang terbuka, lalu masuk pada waktu yang tepat. Ia membiarkan pertandingan mengalir, sebelum mengubah arahnya hanya dengan satu keputusan.
Jika pada 2022 Messi adalah jantung yang memompa permainan Argentina, maka di fase akhir kariernya ia menjelma menjadi otak yang menentukan kapan permainan harus dipercepat, kapan harus diperlambat, dan kapan satu umpan sederhana lebih berbahaya daripada lima kali dribel.
Itulah bentuk adaptasi yang paling sulit dilakukan.
Sebagian pemain bertahan dengan mengandalkan fisik.
Sebagian lagi bertahan karena disiplin.
Messi bertahan karena ia terus belajar menjadi versi baru dari dirinya sendiri.
Mungkin di situlah letak kesalahpahaman terbesar dalam perdebatan tentang Lionel Messi. Orang-orang terlalu sibuk menghitung gol, assist, Ballon d’Or, atau trofi, hingga lupa bahwa kehebatan paling langka justru terletak pada kemampuannya bertahan hidup di tengah perubahan zaman.
Sepak bola modern membunuh nomor 10 klasik.
Tetapi Messi tidak ikut mati bersamanya.
Ia tidak meminta dunia kembali seperti dulu. Ia tidak mengeluh karena ruang bermain semakin sempit atau pressing semakin ganas. Ia memilih memahami dunia yang baru, lalu menemukan cara untuk tetap menjadi pemain terbaik di dalamnya.
Karena pada akhirnya, pemain hebat memang mampu memenangkan pertandingan.
Namun hanya sedikit pemain yang mampu memenangkan pertarungan melawan zaman.
Dan mungkin itulah alasan Lionel Messi tidak sekadar dikenang sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa. Ia akan dikenang sebagai nomor 10 terakhir yang berhasil membuktikan bahwa kreativitas tidak pernah benar-benar kalah—ia hanya belajar beradaptasi.
Ada hari dimana pemimpin harus terdengar seperti sejarah. Kalimatnya panjang, suaranya menggelegar, ...
Tidak mudah bagi anak-anak eksakta (ilmu pasti, red), untuk dapat dianggap mampu memimpin atau mengo...
Menyamakan Anies Baswedan dan Cristiano Ronaldo sebenarnya bukan ide yang aneh. Yang aneh justru key...
Terinspirasi lalu tenggelam dalam, karakter oposan novel Rahuvana Tattwa karya KH. Agus Sunyoto. Seo...
Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...
E fructu arbor cognoscitur. Ungkapan latin yang berarti, “sebatang pohon bisa dikenali dari buahny...

Belum ada komentar.