Judul : Kretek sebagai Warisan Budaya
Penulis : Hairus Salim HS dkk.
Penerbit : Insist Press
Tahun: 2014

Isi buku WACANA ini adalah kumpulan jurnal dengan isu kebudayaan. Topik yang diangkat adalah kretek sebagai warisan budaya.

Kretek Sebagai Warisan Budaya

Sejarah mencatat, sejak Haji Djamhari menemukan secara tidak sengaja suatu perpaduan dari tembakau dan cengkeh yang dipilin dengan kulit jagung kering, kretek telah menjadi budaya kehidupan di Nusantara.

Jaman dahulu , orang-orang di Nusantara mengenal tradisi nginang; mengunyah sirih yang dicampur dengan cengkeh, tembakau, gambir, dll. Namun, kebiasaan orang menginang untuk meludah serta tampilan gigi dan lidah yang berwarna darah dipandang tidak bersih oleh pemerintah kolonial. Dengan motif ekonomi, pemerintah kolonial menggeser kebiasaan menginang dengan mengisap tembakau yang dibungkus kertas putih.

Dari sinilah ilham lahirnya kretek, yang bisa dikatakan sebagai “benda budaya hibrid” khas Nusantara. Hibriditasnya tercermin dari pencampuran simbol budaya dan bahan-bahan dari tanaman asli dengan komoditas yang diperkenalkan kaum kolonial. Pada awal pengenalannya, kretek disebut “rokok cengkeh”. Nama “kretek” yang berasal dari bunyi rokok ketika dibakar, menghapus rujukan liguistik Belanda. Pendefinisian kretek diluar leksikon Belanda adalah aksi “penentangan dan perlawanan aktif” terhadap kolonial. ( tulisan Mellisa C. Mitchell dari George Mason University).

Tinjauan Sosiohistoris

Kretek yang dalam bahasa Belanda disebut “sigaret”, mempunyai definisi sebagai “gulungan tembakau yang dibumbui dan diberi cengkeh sehingga akan mengeluarkan bunyi meretih saat tembakau dibakar, “kretek-kretek” (Margana 2014:41). Hal ini bebeda dengan rokok putih yang disebut “sigaret putih”, yakni rokok tanpa campuran cengkeh. Jadi antara kretek dengan rokok putih memiliki materialitas yang berbeda.

Tembakau sudah dikenal lama di Nusantara meski belum dinikmati dengan campuran bumbu (perisa) dan cengkeh. Namun, Portugis disinyalir menjadi negara asing yang pertama kali memperkenalkan tembakau kepada masyarakat Nusantara. Belum ada data spesifik yang menjelaskan perbedaan tembakau Nusantara dengan tembakau Portugis. Meski bangsa-bangsa Eropa datang ke Nusantara sejak abad ke-16 melakukan budidaya tembakau, sulit menulusuri orisinalitas tembakau karena di Nusantara juga telah tumbuh tembakau sebelumnya.

Seiring berjalannya waktu, pada awal abad ke-20, kretek yang awalnya hanya terdiri dari tembakau dan cengkeh, masing-masing perusahaan mulai menemukan cita rasa khas dengan menambahkan perisa atau saus perasa.
Unsur estetis lain dari kretek adalah tahapan produksi kretek yang dimulai dari nglinting dan diakhiri dengan mbatil. Nglinting adalah pekerjaan membentuk kerucut dengan alat contong, besut, lem dan tali. Sedangkan mbatil adalah kegiatan merapikan dua ujung kretek yang sudah dilinting dengan gunting.

Jika perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Kretek sudah layak menjadi Warisan Budaya karena telah melebihi syarat batas 50 tahun di dalam Undang-Undang No. 11 tahun 2011 tentang Cagar Budaya.

Tinjauan Sistem Pemaknaan

Di Indonesia, tembakau adalah objek penaklukan yang melalui proses hibriditas kemudian terhubung dengan pejuangan kemerdekaan dan nasionalisme. Belakangan, tembakau digunakan sebagai bahan kretek, yang dipandang sebagai perlawanan terhadap struktur kekuasaan dominan, yang mengebiri pertumbuhan sosial ekonomi dan politik Indonesia. Seiring berjalannya waktu, kretek mendorong industri rumah tangga dan menjadi rokok yang paling digemari dibandingkan “rokok putih”.

Meski muncul asosiasi negatif, sirih tetap memainkan peran sosial dan simbolis dalam kehidupan perempuan Belanda di Indonesia. Perempuan Belanda menyirih digunakan sebagai jembatan dalam pergaulan sosial antar perempuan Eropa di negri jajahan.

Sepanjang periode politik etis atau politik balas budi Belanda kepada Negara jajahan, tembakau menyelusup kuat-kuat dalam budaya negri, sedangkan pamor sirih kian merosot. Meskipun kolonial Belanda berakhir oleh pendudkan Jepang pada 1942-1945, namun dampak tembakau terlanjur mengakar. Bagi generasi muda masa itu, dorongan modernisasi mempengaruhi cara mereka mengadaptasi dan mempertahankan praktik budaya yang berkaitan dengan sirih dan tembakau.

Mencuplik narasi pramoedya yang tertuang dalam buku ini, menjelaskan tentang peran kretek pada jaman pendudukan Jepang bisa menunjukkan bagaimana rokok khas Indonesia ini berubah menjadi simbol nasional. Melalui perjuangan dan penindasan, merokok menjadi sarana menangkal dampak fisik dan psikososial masa pendudukan.

Sedangkan rokok putih sebagai objek budaya Belanda , bertindak sebagai garis pembatas bagi orang Indonesia. Kertas putih sebagai pembungkus rokok digunakan untuk merujuk segala yang dianggap barat, asing dan nonpribumi.

Kiprah Komunitas Rokok

Komunitas kretek berdiri di Jember pada 3 oktober 2010. Proses pendiriannya diawali oleh sejumlah orang muda di Yogyakarta dari berbagai organisasi yang melakukan serangkaian diskusi, penelitian, pengorganisasian, dan refleksi atas isu-isu yang berkaitan dengan kedaulatan ekonomi dan politik Bangsa Indonesia.

Dalam penelitian komunitas kretek menjelaskan bahwa, Kretek adalah penyumbang cukai terbesar yaitu sekitar 97 % dari total seluruh jenis cukai. Untuk 2013, pendapatan dari cukai rokok melampui target yang awalnya 87 trliun rupiah menjadi sebesar 103,6 triliun rupiah. Serapan tenaga kerja dari hulu ke hilir industri kretek mencapai 50,3 juta orang.

Komunitas Kretek sangat gerah adanya Wacana rokok yang memberikan sentiment negative. Wacana rokok di Indonesia telah tereduksi menjadi hanya dalam satu cara pandang medis. Komunitas kretek dan jejaringnya menawarkan cara pandang lain dalam melihat kretek atau rokok bukan hanya sudut pandang medis namun juga sudut pandang ekonomi, budaya, dan politik. Aktivis komunitas kretek menyadari bahwa wacana anti rokok adalah wacana utama dan jarang yang tahu ada hal berbeda antara rokok dan kretek. Kretek adalah produk Indonesia, sedangkan rokok (rokok putih) adalah rokok “made in non-Indonesia”. Kretek berkaitan dengan nasionalisme, kedaulatan ekonomi, kedaulatan konsumen, kedaulatan petani, warisan budaya, pendapatan bagi Negara, dan pola hidup sehat.

Untuk menggencarkan wacana tanding tentang rokok, komunitas kretek memanfaatkan media sosial seperti: facebook, youtube, kaskus, kompasiana, dan twitter. Hasil pengamatan komunitas kretek menunjukkan bahwa jumlah pemberitaan dengan sentiment negatif dan positif tidak terpaut jauh berkat wacana tanding yang telah dilakukan.

Kudus Kota Kretek

Cover buku Kretek Sebagai Warisan Budaya
Cover buku Kretek Sebagai Warisan Budaya

Seperti yang telah diketahui di atas, penemu rokok kretek adalah Hadji Djamhuri dari Kudus. Hal ini menegaskan dari sejarah memang Kudus adalah Kota Kretek. Sejumlah nama Raja Kretek di Kudus adalah M.sirin (cap Garbs), Muslich ( cap Taboe dan Jagung), Atmowidjojo (cap Goenoeng dan Klapa), Noorchamid (cap Nojorono), dan yang paling terkenal adalah Nitisemito (cap Bal Tiga) pada tahun 1920-an.

Pada era 1920-an, tugas untuk menggulung rokok diborongkan kepada abon. Namun pada 1930-an, sistem abon digantikan dengan sistem pabrik. Kata abon berasal dari “abonne” yang dapat diartikan sebagai abonemen atau bayaran atas rokok yang mereka hasilkan.

Pada 1960, era pabrik rokok sudah maju, tercatat ada 192 pabrik rokok di Kudus. Pabrik-pabrik rokok yang terkemuka di Kudus adalah, Nojorono (1932), Djambu Bol (1937), Sukun (1949), dan Djarum (1951).

Sebagai infomasi, bahwa kontribusi cukai rokok di kudus tahun 2012 adalah sebesar 17 triliun rupiah.

Untuk menegaskan hierarki lokal kretek, Pemerintah membangun Museum Kretek. Museum ini diresmikan pada oktober 1986 . Museum kretek adalah salah satu proyek bangunan yang didesain untuk mempromosikan pariwisata di sepanjang pantai utara Jawa pada 1980-an. Menyambangi museum dapat diartikan museum secara umum memberikan penghormatan kepada yang telah berpulang melalui simulasi di ruang pameran, dan mengisyaratkan patronase kontemporer dalam setiap bagian pameran.

Secara kesuluruhan Buku ini diciptakan karena adanya keresahan tentang kretek. Kretek dicitrakan menjadi musuh yang menhantui kehidupan manusia. Kampanye antirokok yang marak beberapa tahun ini telah merusak persepsi mengenai sejarah, budaya, dan hal-hal lain tentang kretek.

Buku ini juga menyadarkan bahwa betapa kretek telah menjadi bagian penting dari kehidupan sosial, budaya, identitas, dan kebanggaan nasional.
Bagaimanapun buku ini sangat “renyah” untuk dibaca. Dengan gaya bahasa yang mudah dicerna, menjadikan buku ini sangat informatif bagi siapapun yang senang akan warisan dan sejarah Bangsa.