
Masa SMA sering disebut sebagai masa paling indah, namun di sisi lain, ini adalah fase di mana ego sedang tinggi-tingginya dan rasa ingin tahu meledak-ledak. Sayangnya, energi besar ini jika tidak diarahkan dengan benar sering kali berujung pada hal negatif. Kita bisa melihat fenomena kekerasan fisik maupun non-fisik yang marak terjadi belakangan ini, mulai dari perundungan (bullying) hingga tawuran antarpelajar.
Tentu kita tidak ingin hal menakutkan itu terjadi di lingkungan kita. Di sinilah Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMA Babussalam Banjarejo, Pagelaran, Malang, mengambil peran vital. Bukan sekadar menjadi panitia acara sekolah, OSIS kini menjelma menjadi garda terdepan dalam menginternalisasikan nilai-nilai perdamaian untuk membentuk karakter siswa yang moderat.
Runtuhkan Sekat “Geng” dan Status Sosial
Salah satu sumber konflik terbesar di sekolah adalah eksklusivitas atau “geng-gengan”. Ada kecenderungan siswa hanya mau bergaul dengan kelompoknya sendiri, yang akhirnya memicu gesekan. OSIS SMA Babussalam hadir dengan prinsip “Gentlemen don’t need to be gangsters”. Teman sejati tidak perlu membuat kelompok eksklusif yang justru menyakiti orang lain.
trateginya cukup unik namun mengena. Melalui kegiatan sederhana seperti kerja bakti dan gotong royong membersihkan lingkungan sekolah, seluruh sekat itu diruntuhkan. Di sana, tidak ada si kaya atau si miskin, tidak ada perbedaan etnis—baik yang dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Lampung—semua berbaur. Semuanya harus mau kotor demi kebersihan bersama. Ini adalah wujud nyata dari nilai Musaawah (tidak diskriminatif) dan I’tidal (adil). Sekolah ingin mengajarkan: kaya tapi tidak sombong, miskin tapi tidak minder (rich but not proud, poor but not embarrassed).
Pakai Otak, Jangan Main Otot
Kekerasan, sekecil apapun, ibarat memadamkan api dengan minyak tanah; hanya akan memperparah masalah. OSIS SMA Babussalam gencar mengampanyekan slogan “Use your brain, not your brawn” (pakai otak, jangan main otot). Edukasi ini dilakukan lewat cara-cara kreatif yang disukai siswa, seperti majalah dinding (mading) yang penuh pesan visual menarik tentang stop bullying dan cinta damai.
Selain itu, kompetisi positif seperti lomba orasi bertema “Mencintai Persatuan dan Bhinneka Tunggal Ika” rutin digelar. Tujuannya jelas: agar siswa sadar bahwa perbedaan itu indah (the beauty of diversity), bukan alasan untuk bermusuhan.
Mencetak Generasi Moderat
Semua upaya ini bermuara pada satu tujuan besar: melahirkan siswa berkarakter moderat. Siswa yang memiliki sikap Tawassuth (tengah-tengah, tidak ekstrem kanan atau kiri), Tawazun (seimbang), dan Tasamuh (toleran).
Hasilnya perlahan mulai terlihat. Siswa belajar menerima kekalahan dalam perlombaan tanpa dendam, menyadari bahwa konflik bisa diselesaikan dengan kepala dingin, dan mampu berteman tanpa memandang suku atau ras. Memang, mengubah karakter butuh proses panjang. Namun, dengan langkah konkret dari OSIS ini, SMA Babussalam tengah menata masa depan emas bagi anak-anak bangsa, membentengi mereka dari pengaruh negatif, dan menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang aman dan damai bagi siapa saja.










0 thoughts on “OSIS SMA Babussalam Malang Wujudkan Sekolah Inklusi”