Sutomo Putro • Jan 07 2026 • 84 Dilihat

Pernahkah kalian membayangkan sekolah sebagai sebuah dapur besar? Di dalamnya terdapat bermacam-macam “bahan” dengan rasa yang berbeda-beda. Ada siswa dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Lampung . Ada yang pendiam, ada yang vokal. Ada yang dari keluarga berada, ada yang sederhana. Jika tidak pandai “memasaknya”, perbedaan ini bisa bikin rasa masakan jadi kacau alias konflik. Tapi, jika diolah dengan resep yang tepat, hasilnya adalah sajian kebhinekaan yang lezat.
Di SMA Babussalam Banjarejo, Pagelaran, Malang, OSIS bertindak sebagai “koki” yang meracik keberagaman ini menjadi harmoni . Mereka punya misi khusus: membentuk karakter siswa yang moderat. Penasaran apa saja resepnya? Yuk, kita intip dapur perdamaian mereka!
Resep pertama adalah membuang jauh-jauh rasa eksklusif. Di SMA Babussalam, kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah bukan sekadar menyapu halaman. Ini adalah momen untuk “mengaduk rata” semua status sosial . Tidak peduli anak orang kaya atau miskin, semuanya harus mau kotor demi kebersihan bersama .
Di sinilah nilai Musaawah (tidak diskriminatif) dan I’tidal (adil) dimasak matang-matang . Sekolah ingin mengajarkan bahwa kita semua setara. Laki-laki dan perempuan bekerja sama, saling melengkapi, bukan saling merendahkan.
Bumbu penyedap berikutnya adalah lomba-lomba kreatif. OSIS mengadakan lomba orasi bertema “Mencintai Persatuan dan Bhinneka Tunggal Ika” . Lewat ajang ini, siswa diajak untuk bangga dengan identitas budayanya sekaligus menghargai budaya teman lain.
Lebih dari itu, kompetisi mengajarkan siswa berdamai dengan diri sendiri. Kalau kalah, tidak perlu mengamuk, tapi terima dengan lapang dada sebagai risiko permainan . Ini melatih sikap Tawazun (menjaga keseimbangan) emosi dan Tawassuth (tengah-tengah), agar tidak ekstrem dalam merespons kemenangan maupun kekalahan .
Sebagai “garnish” yang mempercantik karakter, OSIS menyajikan pesan-pesan damai lewat media majalah dinding (mading) . Isinya bukan gosip, tapi kampanye stop bullying, anti-kekerasan, dan dampak buruk perundungan .
Ditambah lagi dengan “nutrisi” otak melalui seminar-seminar santai selepas ujian. Siswa diajak berdiskusi bareng guru agama atau BK tentang cara menyelesaikan masalah tanpa emosi dan pentingnya menjauhi prasangka buruk . Tujuannya agar tumbuh sikap Tasamuh, yaitu toleran dan mampu menghargai perbedaan pendapat .
Dengan racikan strategi di atas—mulai dari keteladanan, pembiasaan, hingga literasi—SMA Babussalam berupaya menyajikan “hidangan utama” berupa karakter siswa yang moderat .
Menjadi pelajar moderat itu asyik. Kamu bisa berteman dengan siapa saja tanpa memandang suku (lintas etnis), tidak fanatik buta pada kelompok sendiri, dan selalu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin . Inilah resep jitu untuk menjaga Indonesia tetap damai, dimulai dari bangku sekolah.
Terhitung sejak bergantinya kepemimpinan presiden, Indonesia mengalami beberapa perubahan tatanan ya...
Di sebuah ruang guru yang tenang, Pak Ahmad menatap layar tabletnya. Sebagai seorang pengawas pendid...
Bukan Sekadar Angka yang “Rontok” Belakangan ini, selain angka IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan...
Futsal Indonesia hari ini bergerak seperti seseorang yang mulai mengenali bayangannya sendiri. Ia be...
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, pesantren tidak lagi cukup hanya bertahan dengan tradisi la...
Perkembangan Generative Artificial Intelligence (GenAI) menandai sebuah fase baru dalam sejarah pera...

Belum ada komentar.