Sutomo Putro • Jan 07 2026 • 138 Dilihat

Menjadi siswa keren zaman now itu bukan cuma soal penampilan atau seberapa mahal barang yang dipakai. Keren yang sesungguhnya adalah soal karakter—bagaimana kita bersikap kepada diri sendiri dan orang lain. Di SMA Babussalam, OSIS punya “resep rahasia” untuk mencetak siswa yang moderat dan cinta damai.
Ternyata, ada 9 nilai perdamaian yang kalau diterapkan, dijamin bikin pergaulan di sekolah jadi asyik dan jauh dari drama. Yuk, simak apa saja nilainya!
1. Menerima Diri Sendiri (Self-Acceptance)
Kunci pertama perdamaian dimulai dari cermin. Kita diajarkan untuk bersyukur atas apapun yang diciptakan Tuhan pada diri kita. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadi, nggak perlu insecure atau iri melihat kelebihan teman lain. Kalau kamu jago menyanyi, kembangkan itu, nggak usah memaksa diri harus jago bulu tangkis kalau memang bukan bakatmu.
2. Buang Jauh Prasangka (No Prejudice)
Seringkali konflik meledak cuma karena kita main hakim sendiri sebelum tahu faktanya. Siswa yang cerdas itu nggak gampang berprasangka buruk (suudzon). Waspada boleh, tapi mencurigai teman tanpa alasan jelas cuma bakal bikin hubungan retak.
3. Rayakan Perbedaan Etnis
Siswa di sekolah kita datang dari berbagai penjuru, mulai dari Jawa, Madura, Kalimantan, Sulawesi, sampai Lampung. Perbedaan warna kulit atau logat bicara itu bukan bahan olokan, tapi justru kekayaan yang bikin sekolah kita berwarna. Kita diajarkan untuk mengenali dan menikmati perbedaan itu, bukan mempermasalahkannya.
4. Laki-laki dan Perempuan Saling Melengkapi
Ingat prinsip “Male and female both are human”. Tuhan menciptakan perbedaan jenis kelamin supaya kita saling tolong-menolong, bukan saling menghina. Berteman dengan lawan jenis itu sah-sah saja, asalkan tetap menjaga norma dan saling menghormati.
5. Status Ekonomi Bukan Ukuran
Ini prinsip penting: Rich but not proud, poor but not embarrassed (kaya tidak sombong, miskin tidak minder). Nilai seseorang tidak ditentukan dari merek sepatu atau jumlah uang saku. Di sekolah, saat kerja bakti atau gotong royong, semua status itu luntur. Semuanya sama-sama warga sekolah yang punya kewajiban sama.
6. Anti Geng Eksklusif (Gentlemen Don’t Need to be Gangsters)
Punya circle pertemanan itu wajar, tapi kalau sampai bikin geng eksklusif yang memusuhi kelompok lain, itu bibit perpecahan. OSIS SMA Babussalam menekankan bahaya “geng-gengan”. Gaul itu harus luas! Bertemanlah dengan siapa saja tanpa membatasi diri pada kelompok tertentu.
7. Keindahan dalam Keberagaman (The Beauty of Diversity)
Indonesia itu indah karena Bhinneka Tunggal Ika. Lewat berbagai lomba seperti orasi budaya, kita diingatkan bahwa perbedaan budaya dan adat istiadat adalah sesuatu yang patut dibanggakan, bukan dipertentangkan.
8. Mengelola Konflik dengan Dewasa (Conflict Can Help You)
Masalah atau konflik pasti akan selalu ada dalam hidup. Bedanya, siswa yang keren melihat konflik sebagai kesempatan untuk belajar jadi lebih dewasa. Kalau ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin, maafkan, dan cari jalan damai. Jangan malah menyalahkan orang lain atau lari dari masalah.
9. Tolak Kekerasan, Pakai Otak (Use Your Brain, Not Your Brawn)
Menyelesaikan masalah dengan kekerasan itu ibarat memadamkan api pakai minyak tanah; malah makin parah. Kekerasan, baik fisik maupun verbal (seperti bullying), hanya melahirkan dendam dan ketakutan. Anak muda yang hebat itu pakai otak untuk berdialog, bukan pakai otot untuk memukul.
Dengan menanamkan kesembilan nilai ini, sekolah bukan hanya tempat mencari nilai akademis, tapi kawah candradimuka untuk membentuk pribadi yang moderat: bersikap tengah-tengah (tawassuth), seimbang (tawazun), adil (i’tidal), dan toleran (tasamuh).
Terhitung sejak bergantinya kepemimpinan presiden, Indonesia mengalami beberapa perubahan tatanan ya...
Di sebuah ruang guru yang tenang, Pak Ahmad menatap layar tabletnya. Sebagai seorang pengawas pendid...
Bukan Sekadar Angka yang “Rontok” Belakangan ini, selain angka IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan...
Futsal Indonesia hari ini bergerak seperti seseorang yang mulai mengenali bayangannya sendiri. Ia be...
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, pesantren tidak lagi cukup hanya bertahan dengan tradisi la...
Perkembangan Generative Artificial Intelligence (GenAI) menandai sebuah fase baru dalam sejarah pera...
