AveSticker

Memupuk Indahnya Integrasi Sosial di Hari Fitri

Sep 12 2010699 Dilihat

Selesai sholat idulfitri, bersama para tetangga kanan kiri saya membentuk kelompok besar bersama-sama berkunjung ke rumah-rumah tetangga lain. Tidak ada lelah, jalan desa terus kami susuri untuk berkunjung ke para tetangga, baik yang berada di tepi jalan hingga masuk melalui jalan-jalan sempit yang becek.

Inilah suasana khas lebaran. Tali-tali silaturohim yang terlihat renggang seolah ingin kita benahi semua. Teman-teman dari berbagai penjuru nusantara silih berganti mengirimkan ucapan maaf melalui SMS. Tidak ada beban untuk mengaku khilaf dan meminta maaf, sampai pada teman yang dulu seolah tidak bisa memaafkan saya, atau teman yang sulit saya lupakan kesalahannya. Idulfitri memang menjadi oase yang memudahkan kita untuk menyederhanakan semua perbedaan itu.

Begitupun dengan tetangga kami dari aliran lain yang selama ini sering menjadi gunjingan para tetangga. Tidak tampak lagi suasana kaku untuk berkunjung ke rumahnya dan meneguhkan saling meminta maaf. Seolah-seolah ada mekanisme kultur yang menjalankan roda-roda rohaniah dan emosi kita untuk meluruhkan semua perbedaan. Semua perbedaan itu seolah telah kita lupakan dan kita mengalami kepuasan tersendiri karena telah berhasil melakukan integritasi sosial yang luar biasa.

Begitupun dengan kekerabatan sanak family yang terpisahkan oleh perbedaan ekonomi ataupun jarak domisili. Bagi masyarakat urban, idlufitri menjadi momentum kembali pada tradisi leluhur menikmati syahdunya hidup dalam satu ikatan keluarga besar, menyatukan kembali hirarki kekeluargaan yang sudah ada. Setiap anggota keluarga seolah ingin mengukuhkan pengakuan bahwa dirinya adalah bagian dari komunitas keluarga di desanya.a

Tali-tali persaudaraan dan silaturrohim memang sering terceraikan oleh berbagai perbedaan, baik ekonomi, sosial atau bahkan tatanan fiqh kita masing-masing yang hampir-hampir saja menjerumuskan kita pada sulitnya pemersatuan. Namun di hari ini, hati kita dibuka ruangnya untuk merefleksikan kembali indahnya perbedaan itu jika kita tetap mampu melakukan integrasi sosial dengan meluruhkan semua perbedaan yang ada pada wilayah sosial. Allohuakbar. Walillahilhamd.

Share to

Alumni Universitas Muhammadiyah Malang. Tinggal di Blitar.

Topik Terkait

Podcast dan Dunia yang Terlalu Banyak Bi...

by Apr 18 2026

Dunia hari ini tampaknya semakin sulit berdamai dengan sunyi. Jeda kecil dalam hidup segera diisi su...

Politik Di Ujung Jari Generasi Muda

by Apr 15 2026

Hari ini, politik tidak hanya hadir di ruang debat atau panggung kampanye. Ia ada di layar kecil yan...

Sepak Bola, Amerika, dan Dunia yang Tida...

by Apr 11 2026

Sepak bola selalu menawarkan janji yang sama: sembilan puluh menit di mana dunia seolah bisa diseder...

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

Untuk Mereka yang Mengira Rindu Lebaran ...

by Mar 21 2026

Yth. Siapa pun Anda di luar sana— entah pejabat, pengambil kebijakan, penyusun kalender, atau seka...

Ramadan yang Tak Lagi Sama

by Mar 14 2026

Ada perubahan yang tidak selalu datang sebagai kehilangan yang jelas. Ia tidak berisik, tidak dramat...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top