AveSticker

Memupuk Indahnya Integrasi Sosial di Hari Fitri

Sep 12 2010664 Dilihat

Selesai sholat idulfitri, bersama para tetangga kanan kiri saya membentuk kelompok besar bersama-sama berkunjung ke rumah-rumah tetangga lain. Tidak ada lelah, jalan desa terus kami susuri untuk berkunjung ke para tetangga, baik yang berada di tepi jalan hingga masuk melalui jalan-jalan sempit yang becek.

Inilah suasana khas lebaran. Tali-tali silaturohim yang terlihat renggang seolah ingin kita benahi semua. Teman-teman dari berbagai penjuru nusantara silih berganti mengirimkan ucapan maaf melalui SMS. Tidak ada beban untuk mengaku khilaf dan meminta maaf, sampai pada teman yang dulu seolah tidak bisa memaafkan saya, atau teman yang sulit saya lupakan kesalahannya. Idulfitri memang menjadi oase yang memudahkan kita untuk menyederhanakan semua perbedaan itu.

Begitupun dengan tetangga kami dari aliran lain yang selama ini sering menjadi gunjingan para tetangga. Tidak tampak lagi suasana kaku untuk berkunjung ke rumahnya dan meneguhkan saling meminta maaf. Seolah-seolah ada mekanisme kultur yang menjalankan roda-roda rohaniah dan emosi kita untuk meluruhkan semua perbedaan. Semua perbedaan itu seolah telah kita lupakan dan kita mengalami kepuasan tersendiri karena telah berhasil melakukan integritasi sosial yang luar biasa.

Begitupun dengan kekerabatan sanak family yang terpisahkan oleh perbedaan ekonomi ataupun jarak domisili. Bagi masyarakat urban, idlufitri menjadi momentum kembali pada tradisi leluhur menikmati syahdunya hidup dalam satu ikatan keluarga besar, menyatukan kembali hirarki kekeluargaan yang sudah ada. Setiap anggota keluarga seolah ingin mengukuhkan pengakuan bahwa dirinya adalah bagian dari komunitas keluarga di desanya.a

Tali-tali persaudaraan dan silaturrohim memang sering terceraikan oleh berbagai perbedaan, baik ekonomi, sosial atau bahkan tatanan fiqh kita masing-masing yang hampir-hampir saja menjerumuskan kita pada sulitnya pemersatuan. Namun di hari ini, hati kita dibuka ruangnya untuk merefleksikan kembali indahnya perbedaan itu jika kita tetap mampu melakukan integrasi sosial dengan meluruhkan semua perbedaan yang ada pada wilayah sosial. Allohuakbar. Walillahilhamd.

Share to

Alumni Universitas Muhammadiyah Malang. Tinggal di Blitar.

Topik Terkait

Tangi (3)

by Feb 15 2026

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...

Tangi (2)

by Feb 12 2026

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Makan Bergizi Gratis dan Logika Kebijaka...

by Feb 11 2026

Terhitung sejak bergantinya kepemimpinan presiden, Indonesia mengalami beberapa perubahan tatanan ya...

Tangi (1)

by Feb 10 2026

Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...

Muraqabah di Era Digital: Esensi Pengawa...

by Feb 10 2026

Di sebuah ruang guru yang tenang, Pak Ahmad menatap layar tabletnya. Sebagai seorang pengawas pendid...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (3)  

by Feb 09 2026

Keliling Kampung, Menuai Kebersamaan Langit di Desa Miau Baru Kecamatan Kongbeng pada Kamis malam (3...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top