AvePress.com

Belajar dari Komentar

Ekologi dan Mitos 20.000 Ekor Sapi di Muara Kaman: Menelusuri Jejak Sabana Kuno di Jantung Borneo

Di balik prasasti yang mengabadikan kemurahan hati Raja Mulawarman, tersimpan pertanyaan tentang bentang alam Kalimantan pada abad keempat Masehi. Benarkah Muara Kaman pernah memiliki padang

Di balik prasasti yang mengabadikan kemurahan hati Raja Mulawarman, tersimpan pertanyaan tentang bentang alam Kalimantan pada abad keempat Masehi. Benarkah Muara Kaman pernah memiliki padang rumput luas yang menopang kehidupan ternak dalam jumlah besar, ataukah angka 20.000 ekor sapi merupakan simbol kemakmuran dan legitimasi kekuasaan?

Sejarah tidak hanya tersimpan dalam prasasti, bangunan, dan catatan tentang pergantian kekuasaan. Sebagian kisah masa lalu justru tersembunyi di dalam lapisan tanah, sedimen sungai, sisa-sisa tumbuhan, dan perubahan bentang alam yang berlangsung selama ribuan tahun.

Kalimantan, yang kini dikenal sebagai salah satu kawasan hutan hujan tropis terpenting di dunia, tidak selalu memiliki wajah ekologis seperti sekarang. Jauh sebelum batas administratif, konsesi perkebunan, dan tata ruang modern terbentuk, Borneo telah mengalami perjalanan lingkungan yang panjang. Perubahan iklim, dinamika sungai, sedimentasi, serta pergeseran vegetasi turut membentuk ekosistem yang silih berganti.

Di tengah perjalanan tersebut, terdapat sebuah catatan sejarah yang menarik untuk dikaji. Prasasti Yupa dari Muara Kaman, peninggalan Kerajaan Kutai Martapura, mencatat pemberian 20.000 ekor sapi oleh Maharaja Mulawarman kepada kaum Brahmana.

Angka itu bukan sekadar gambaran kemurahan hati seorang raja. Ia juga menghadirkan pertanyaan yang lebih luas: seperti apa kondisi lingkungan yang memungkinkan persembahan ternak dalam jumlah sebesar itu?

Apakah kawasan Muara Kaman pada abad keempat Masehi pernah memiliki padang rumput yang cukup luas? Apakah bentang alam Kalimantan ketika itu lebih terbuka dibandingkan kondisi hutan tropis yang kita kenal sekarang? Ataukah angka tersebut merupakan ungkapan simbolis tentang kemakmuran dan kebesaran kekuasaan kerajaan?

Pertanyaan-pertanyaan ini mempertemukan sejarah, arkeologi, epigrafi, dan paleoekologi. Namun, satu hal perlu ditegaskan sejak awal: belum terdapat bukti ilmiah yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Muara Kaman pernah menjadi sabana luas pada masa Mulawarman. Kemungkinan tersebut merupakan hipotesis yang menarik untuk diteliti, bukan fakta yang sudah terbukti.

 

Membaca Prasasti, Membayangkan Lanskap

Tujuh prasasti Yupa yang ditemukan di Muara Kaman merupakan salah satu sumber tertulis terpenting dalam sejarah awal Nusantara. Ditulis menggunakan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa, prasasti tersebut mengabadikan silsilah penguasa yang mencakup Kudungga, Aswawarman, dan Mulawarman.

Dalam kajian J. Ph. Vogel (1918), prasasti-prasasti tersebut ditempatkan sebagai bukti penting perkembangan kekuasaan bercorak Hindu di wilayah Kalimantan Timur. Berdasarkan kajian paleografi, prasasti Yupa diperkirakan berasal dari paruh kedua abad keempat Masehi.

Salah satu prasasti menyebut pemberian 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di tempat suci bernama Waprakeswara. Pemberian tersebut diperingati melalui pendirian Yupa oleh para penerima persembahan.

Catatan ini memperlihatkan hubungan erat antara kekuasaan politik dan kehidupan keagamaan. Dalam tradisi Veda, sapi memiliki kedudukan penting sebagai simbol kemakmuran, kesuburan, dan sumber kehidupan. Karena itu, pemberian ternak dalam jumlah besar tidak dapat dipisahkan dari makna ritual dan kedudukan sosial penguasa.

Namun, ketika prasasti dibaca melalui perspektif ekologi, muncul persoalan yang berbeda.

Sapi merupakan hewan herbivora yang membutuhkan ketersediaan pakan, air, dan ruang pemeliharaan. Jika angka 20.000 ekor dibaca secara harfiah, pertanyaan mengenai asal-usul ternak, distribusi pakan, dan sistem pengelolaannya menjadi relevan.

Apakah seluruh sapi tersebut dipelihara di sekitar pusat kerajaan? Apakah ternak berasal dari permukiman lain yang kemudian dihimpun untuk kepentingan upacara? Ataukah jumlah tersebut merupakan representasi kekayaan yang disampaikan melalui bahasa keagamaan?

Penelitian arkeologi di Muara Kaman memberikan gambaran bahwa kawasan ini sejak masa protohistoris telah menjadi ruang pertemuan antara masyarakat pedalaman dan kelompok pedagang dari luar Kalimantan. Gunadi Kasnowihardjo (2006) menjelaskan bahwa Muara Kaman memiliki peran sebagai kawasan transit sekaligus tempat pertemuan berbagai kelompok masyarakat.

Temuan tersebut membuka kemungkinan bahwa kemampuan kerajaan menghimpun sumber daya tidak hanya bergantung pada lingkungan di sekitar pusat pemerintahan, tetapi juga pada jaringan hubungan sosial dan ekonomi yang lebih luas.

Dengan demikian, persoalan 20.000 ekor sapi tidak semata-mata harus dijawab melalui keberadaan padang penggembalaan. Kemampuan mobilisasi sumber daya masyarakat juga perlu diperhitungkan.

 

Sabana Purba: Hipotesis yang Memerlukan Bukti

Dalam ilmu paleoekologi, rekonstruksi lingkungan masa lampau tidak cukup dilakukan dengan membaca prasasti atau membandingkan kondisi alam sekarang dengan gambaran sejarah.

Para peneliti membutuhkan bukti biologis dan geologis yang tersimpan dalam tanah dan sedimen. Serbuk sari tumbuhan purba, fitolit, arang, fosil, serta karakteristik lapisan tanah dapat memberikan petunjuk mengenai vegetasi yang pernah tumbuh di suatu wilayah.

Sebagai contoh, dominasi serbuk sari tumbuhan kelompok rumput dapat menjadi petunjuk adanya vegetasi terbuka. Sebaliknya, meningkatnya serbuk sari tumbuhan berkayu dapat mengindikasikan perkembangan tutupan hutan.

Namun, bukti tersebut tetap harus dibaca secara hati-hati. Keberadaan tumbuhan rumput tidak otomatis membuktikan terbentuknya sabana. Para peneliti juga harus membedakan padang rumput alami dari kawasan terbuka yang muncul akibat aktivitas manusia, kebakaran, atau perubahan hidrologis.

Dalam konteks Kalimantan, dinamika Sungai Mahakam menjadi faktor penting. Perubahan aliran sungai, pembentukan dataran banjir, pengendapan material aluvial, serta fluktuasi muka air dapat memengaruhi persebaran vegetasi.

Kajian mengenai tanah organik dan pertanian di kawasan tropis lembap Indomalaya oleh Driessen dan Soepraptohardjo (1974) memberikan konteks mengenai kompleksitas karakteristik tanah di wilayah tropis. Akan tetapi, kajian tersebut tidak dapat digunakan sebagai bukti langsung keberadaan sabana purba di Muara Kaman.

Karena itu, kemungkinan adanya lanskap yang lebih terbuka pada masa lalu tetap perlu diuji melalui penelitian khusus di kawasan tersebut.

Boleh jadi, bentang alam Muara Kaman dahulu bukan berupa sabana luas sebagaimana yang sering dibayangkan. Bisa saja wilayah itu terdiri atas mosaik ekosistem berupa hutan terbuka, padang rumput musiman, rawa, tepian sungai, dan dataran aluvial.

Lingkungan yang beragam seperti itu lebih memungkinkan untuk dipertimbangkan dalam rekonstruksi ekologis Borneo dibandingkan anggapan bahwa seluruh kawasan merupakan hamparan padang rumput tanpa pepohonan.

Dengan kata lain, perubahan bentang alam Kalimantan tidak harus dipahami sebagai pergantian sederhana dari sabana menjadi hutan. Setiap kawasan memiliki dinamika ekologisnya sendiri.

 

Angka 20.000 dan Politik Kemurahan Hati

Selain persoalan lingkungan, angka 20.000 ekor sapi juga perlu dibaca melalui perspektif sejarah politik.

Dalam masyarakat kerajaan kuno, kekuasaan tidak hanya dibangun melalui penguasaan wilayah atau kekuatan militer. Kemampuan mengumpulkan kekayaan, mendistribusikan sumber daya, dan memperoleh pengakuan dari kelompok berpengaruh juga menjadi bagian penting dari legitimasi seorang penguasa.

O.W. Wolters (1967), dalam kajiannya mengenai perdagangan awal Indonesia dan pembentukan kekuasaan di Asia Tenggara, memperlihatkan pentingnya jaringan hubungan dan pertukaran dalam perkembangan kerajaan-kerajaan awal. Meskipun kajiannya tidak secara khusus membahas persembahan Mulawarman, perspektif tersebut membantu menjelaskan bagaimana hubungan ekonomi dan sosial dapat menopang kekuasaan politik.

Dalam kerangka ini, pemberian 20.000 ekor sapi dapat dibaca sebagai bentuk patronase kerajaan. Persembahan tersebut tidak hanya menunjukkan kemurahan hati, tetapi juga memperlihatkan kemampuan penguasa mengelola dan mendistribusikan kekayaan.

Angka yang besar memiliki kekuatan simbolis. Ia membangun citra seorang raja sebagai penguasa yang makmur, berpengaruh, dan memiliki kedudukan spiritual.

Karena itu, tidak tertutup kemungkinan bahwa jumlah tersebut mencerminkan kemakmuran kerajaan melalui bahasa simbolik yang lazim digunakan dalam tradisi kekuasaan dan keagamaan pada masa itu.

Namun, kemungkinan tersebut tidak berarti bahwa angka dalam prasasti dapat diabaikan sebagai sekadar kiasan. Teks Yupa tetap merupakan sumber sejarah utama yang harus dibaca berdasarkan isi dan konteks zamannya.

Persoalannya adalah kita belum memiliki informasi yang cukup untuk memastikan bagaimana persembahan itu dihimpun, apakah seluruh ternak berada di satu tempat, dan bagaimana proses distribusinya berlangsung.

Kehadiran kaum Brahmana juga memperlihatkan hubungan antara otoritas keagamaan dan kekuasaan politik. Penggunaan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa menunjukkan adanya penerimaan unsur kebudayaan India dalam lingkungan penguasa lokal.

Namun, proses tersebut tidak berarti masyarakat Kutai sepenuhnya meniru kehidupan India. Tradisi yang datang dari luar berinteraksi dengan kondisi sosial, budaya, dan lingkungan masyarakat setempat.

Dalam konteks ini, persembahan Mulawarman dapat dipahami sebagai tindakan keagamaan sekaligus pernyataan kekuasaan. Seorang raja tidak hanya menunjukkan kemampuannya memerintah, tetapi juga kemampuannya memberi.

Di sisi lain, prasasti Yupa memiliki keterbatasan sebagai sumber sejarah. Catatan tersebut terutama merekam tindakan penguasa dan hubungan dengan kaum Brahmana. Ia tidak memberikan gambaran lengkap tentang kehidupan masyarakat biasa, seperti petani, nelayan, pencari hasil hutan, maupun komunitas yang tinggal jauh dari pusat kekuasaan.

Sejarah yang tertulis di atas batu, dengan demikian, bukanlah keseluruhan kenyataan masa lampau.

 

Sungai Mahakam dan Perubahan Peradaban

Perjalanan sejarah kawasan Muara Kaman tidak berhenti pada masa Mulawarman. Berabad-abad kemudian, wilayah aliran Sungai Mahakam kembali mengalami perubahan politik, kebudayaan, dan orientasi keagamaan.

Perkembangan Kesultanan Kutai Kartanegara dan penyebaran Islam sejak sekitar abad ke-17 menandai babak baru dalam sejarah kawasan tersebut.

Penelitian arkeologi-sejarah yang dilakukan Dwi Cahyono dan Gunadi (2007) memperlihatkan bahwa perjalanan budaya Muara Kaman berlangsung melalui lapisan-lapisan masa yang panjang. Dengan demikian, sejarah kawasan ini tidak dapat dibatasi hanya pada periode tujuh prasasti Yupa.

Perubahan politik dan keagamaan berjalan beriringan dengan perkembangan jaringan perdagangan, teknologi, serta pola pemanfaatan sumber daya alam.

Sungai Mahakam menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Ia bukan sekadar jalur transportasi, melainkan juga sumber pangan, ruang produksi, dan penghubung antarkomunitas.

Perikanan, pertanian, pemanfaatan hasil hutan, serta perdagangan menjadi bagian dari strategi penghidupan masyarakat yang menyesuaikan diri dengan karakter lingkungan setempat.

Dalam perspektif tersebut, terdapat hubungan menarik antara sejarah kekuasaan dan sejarah ekologi. Pada masa Mulawarman, prasasti mengabadikan persembahan ternak dalam jumlah besar. Pada masa-masa berikutnya, kehidupan masyarakat Mahakam memperlihatkan beragam pola pemanfaatan sumber daya sungai dan hutan.

Keduanya tidak harus dipertentangkan. Kemungkinan adanya persembahan ternak pada masa kerajaan tidak berarti masyarakat ketika itu sepenuhnya hidup dari peternakan. Begitu pula dominannya perikanan dan pemanfaatan hasil hutan pada periode berikutnya tidak membuktikan bahwa peternakan tidak pernah berkembang.

Yang perlu dipahami adalah bahwa masyarakat selalu beradaptasi dengan kondisi lingkungan, kebutuhan ekonomi, dan perubahan struktur kekuasaan.

 

Membaca Masa Lalu untuk Memahami Masa Kini

Pertanyaan mengenai 20.000 ekor sapi di Muara Kaman pada akhirnya membawa kita pada persoalan yang lebih besar: bagaimana hubungan manusia dan alam membentuk perjalanan peradaban di Kalimantan?

Lanskap bumi bukanlah sesuatu yang statis. Hutan, rawa, sungai, dan padang terbuka mengalami perubahan melalui proses alam maupun aktivitas manusia. Karena itu, kondisi ekologis Kalimantan sekarang tidak dapat dijadikan satu-satunya gambaran untuk memahami lingkungan ribuan tahun lalu.

Namun, kehati-hatian juga diperlukan. Tidak setiap perubahan vegetasi membuktikan adanya sabana purba. Tidak setiap catatan tentang ternak dalam jumlah besar menunjukkan keberadaan padang penggembalaan yang luas.

Diperlukan penelitian lintas disiplin untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kajian paleobotani, sedimentologi, paleoklimatologi, arkeologi, dan epigrafi perlu dipertemukan agar rekonstruksi sejarah lingkungan Muara Kaman memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Ada ironi ketika kita memandang Kalimantan dari perspektif masa kini. Pulau yang memiliki sejarah ekologis panjang ini menghadapi tekanan perubahan bentang alam akibat pertambangan, perkebunan, pembangunan infrastruktur, dan berbagai aktivitas manusia.

Dalam situasi tersebut, memahami sejarah lingkungan bukan sekadar upaya memuaskan rasa ingin tahu. Ia juga menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam selalu memiliki konsekuensi lintas generasi.

Mungkin kita tidak akan pernah mengetahui secara utuh bagaimana 20.000 ekor sapi itu dihimpun, dari mana asalnya, atau seperti apa kondisi vegetasi Muara Kaman pada abad keempat Masehi. Namun, ketidaklengkapan informasi bukan alasan untuk berhenti bertanya.

Justru di situlah pentingnya penelitian sejarah dan lingkungan. Prasasti memberikan kesaksian tentang tindakan manusia, sedangkan lapisan tanah dan sedimen menyimpan rekaman perubahan alam yang mungkin tidak pernah dituliskan.

Pada akhirnya, angka 20.000 ekor sapi bukan hanya cerita tentang kemurahan hati Maharaja Mulawarman. Ia merupakan pintu masuk untuk memahami hubungan antara kekuasaan, agama, jaringan ekonomi, dan kemungkinan perubahan ekologi di jantung Borneo.

Boleh jadi, pertanyaan terpenting bukanlah apakah Kalimantan pernah menjadi padang rumput raksasa. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah bagaimana manusia pada masa lalu membangun peradaban dengan memanfaatkan dan menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang terus berubah.

Di tepian Mahakam, tujuh Yupa Muara Kaman tetap berdiri sebagai saksi sejarah. Namun, untuk memahami dunia yang melahirkan prasasti tersebut, kita tidak cukup hanya membaca tulisan pada batu. Kita juga perlu membaca sungai, tanah, vegetasi, dan jejak lingkungan yang masih tersimpan di bawah permukaan bumi.

Sebab, sejarah peradaban Borneo tidak hanya tertulis pada prasasti. Sebagian lainnya masih menunggu untuk ditemukan dalam rekaman alamnya.***

 

Referensi

Bosch, F. D. K. (1925). Aanteekeningen over de Yupa-inscripties van Koetei. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 81(1), 210–223.

Cahyono, M. D., & Gunadi. (2007). Kajian arkeologi sejarah Kerajaan Kutai Martapura. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Driessen, P. M., & Soepraptohardjo, M. (1974). Organic soils and agriculture in the Indomalayan humid tropics. Soils Research Institute.

Kasnowihardjo, G. (2006). Penelitian situs Muara Kaman dan upaya pengembangannya. Berkala Arkeologi, 26(1), 45–66.

Mohtar, O. (2023, 20 Oktober). Tujuh prasasti Yupa digurat mengiringi fajar sejarah Nusantara. Tirto.id.

Poerbatjaraka, R. Ng. (1952). Riwayat Indonesia (Jilid I). Jajasan Pembangunan.

Vogel, J. Ph. (1918). The Yūpa inscriptions of King Mūlavarman, from Koetei (East Borneo). Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 74, 167–232.

Wolters, O. W. (1967). Early Indonesian commerce: A study of the origins of Srivijaya. Cornell University Press.

 

 

Ronall J Warsa

Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AvePress.com

Belajar dari Komentar