AveSticker

Mukmin, Tawa yang Disunting, dan Imajinasi Politik Netizen

Jun 09 202617 Dilihat

 

Sependek ingatan saya sebagai penggemar stand-up comedy, tidak banyak Grand Final SUCI dari musim ke musim yang membuat juri sulit memilih siapa yang layak menjadi juara. Biasanya selalu ada satu peserta yang tampak sedikit lebih unggul dibanding yang lain. Namun, Grand Final SUCI 12 terasa berbeda.

Ratanca, Ejja Saputra, dan Mukmin datang ke panggung terakhir dengan kekuatan yang sama-sama meyakinkan percaya diri dengan performa dan materi terbaik masing-masing. Bahkan Ratanca yang dikenal dengan persona tukang odong-odong sampai membawa “tunggangannya” itu di salah satu babak. Ejja pun tak kalah effort. Bapak muda yang merintis usaha kuliner ini sampai membagikan nasi goreng Padang ke banyak penonton sebagai door prize, sekaligus menjadikannya “amunisi” untuk menyerang rivalnya.

Sementara itu, Mukmin, sang guru honorer, juga tidak mau ketinggalan. Ia membawa meja guru di salah satu babak dan menyuguhkan sketsa tipis tentang dirinya yang mengabsen murid di kelas, yang sukses menggulung tawa penonton. Meskipun, “inovasi” Mukmin tersebut sempat menjadi perdebatan kecil di meja juri, apakah format tersebut masih masuk kategori stand-up atau sudah bergeser ke komedi sketsa.

Sepanjang tiga babak Grand Final (Best of Me, Battle of Three, dan Tema Juara), ketiganya bergantian membuat studio meledak oleh tawa. Malam itu terasa seperti pesta komedi yang sesungguhnya. Para juri yang terdiri dari Cing Abdel, Raditya Dika, Indro Warkop, Nirina Zubir, dan Rian Adriandi beberapa kali tampak tertawa lepas. Namun di sisi lain, mereka terlihat kesulitan menilai siapa yang paling unggul. Ketiga finalis di semua babak sama-sama mendapat “kompor gas” dari Pak Dhe Indro.

Akhirnya, Mukmin, sang guru honorer, keluar sebagai juara 1. Jujur, hal itu cukup mengagetkan bagi saya. Bukan berarti tidak setuju. Mukmin saat itu memang tampil sangat lucu dan menghibur, bahkan membuat saya terpingkal berkali-kali. Hanya saja, materi Mukmin sering kali “nyrempet jurang”, menyentil pejabat, program pemerintah, dan hal-hal serupa. Itulah mengapa penampilannya di versi digital SUCI 12 ini banyak berhadapan dengan “editor” Kompas TV.

Termasuk penampilannya di Grand Final kali ini. Ke-“nakal”-annya dalam menyentil isu isu politik tambah lebih parah. Di sisi lain, di babak terakhir Mukmin sempat melakukan kesalahan teknis yang menyebabkan poinnya dikurangi. Makanya secara prediktif, meski saya akui dia paling lucu malam itu, Mukmin saya kira hampir tidak mungkin jadi jawara SUCI session ini.

Tapi, dalam tulisan ini, saya tidak hendak mengulas mengapa Mukmin bisa menang. Yang lebih menarik adalah bagaimana netizen membaca Mukmin dan kemenangannya di SUCI 12. Di media sosial, potongan stand-up sang juara sudah banyak beredar dan dan diperbincangkan. Dan saya akan menguliknya di salah satu kanal saja, YouTube Stand Up Comedy Kompas TV. Di channel ini, perbincangan hangat tentang Mukmin masih terus bergulir hingga kini.

Salah satu kekuatan Mukmin sepanjang kompetisi adalah latar ekonomi “300 ribu per bulan” yang di bawanya ke atas panggung. Berbeda dengan banyak komika yang tumbuh dari pengalaman perkotaan, Mukmin datang dari Ternate dan bekerja sebagai guru honorer di Jogja. Tentu saja profesi guru honorer bukan sesuatu yang otomatis membuat seseorang lucu. Namun latar belakang tersebut memberi warna tersendiri pada persona komedi Mukmin. Menariknya, sebagian penonton tidak hanya melihat Mukmin sebagai komika. Mereka juga melihatnya sebagai representasi kelompok sosial tertentu.

Hal itu terlihat dari komentar seorang netizen:

 “Gue sangat seneng dan bangga ada perwakilan guru honorer di grand final SUCI bahkan sampai juara.” — @Meoww_201

Komentar ini menyiratkan , kemenangan Mukmin tidak dibaca semata sebagai kemenangan individu. Ia dibaca sebagai kemenangan seseorang yang berasal dari kelompok yang jarang mendapat sorotan. Dengan kata lain, bahkan sebelum bicara soal politik, publik sudah mulai memberikan makna sosial terhadap kemenangan tersebut.

Namun yang membuat Mukmin berbeda dari banyak finalis sebelumnya bukan hanya latar belakangnya. Sepanjang musim SUCI 12, nama Mukmin beberapa kali menjadi bahan pembicaraan karena materi-materinya yang menyentuh isu sosial dan politik yang sedang ramai diperbincangkan publik.

Sebagian penonton bahkan memperhatikan bahwa beberapa bagian materi Mukmin pada versi digital yang diunggah ke platform daring tidak selalu tampil utuh. Potongan-potongan tertentu dianggap mengalami penyuntingan. Entah karena pertimbangan penyiaran, editorial, atau alasan lain, fenomena tersebut cukup sering dibicarakan oleh para penonton. Saya tentu tidak mampu menjangkau motif di balik penyuntingan tersebut. Tapi, yang perlu dicatat adalah efeknya. Fenomena itu membentuk persepsi netizen, setidaknya para penggemar komedi.

Perlahan-lahan Mukmin tidak lagi dibaca hanya sebagai komika yang lucu. Ia mulai dibaca sebagai komika yang berani menyentuh wilayah-wilayah yang dianggap sensitif. Karena itulah setiap referensi politik yang muncul dari mulutnya memperoleh perhatian yang lebih besar dibandingkan komika lain.

Persepsi publik tersebut mencapai puncaknya pada Grand Final. Pada salah satu segmen, Mukmin membuka penampilannya dengan kalimat:

“Perkenalkan saya Mukmin juara tiga. Itu kan yang kalian mau? Saya Guru honorer sering diremehkan. Namun Pada malam ini saya akan lawan.”

Secara komedi, kalimat itu sederhana. Namun sebagian penonton segera menangkap referensi politik yang sedang dimainkan.

Dalam segmen lain, Mukmin mengaitkan pembagian nasi goreng yang dilakukan Ejja dengan program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu isu publik paling banyak dibicarakan beberapa waktu terakhir. Tawa kembali pecah.

Tetapi bukan hanya karena struktur leluconnya. Sebagian penonton tertawa karena memahami konteks yang sedang disentil. Puncaknya terjadi pada sesi penutup.

Sebagai seorang guru, Mukmin membangun materi melalui adegan absensi kelas. Nama-nama juri dipanggil satu per satu dengan gaya khas seorang guru yang sedang mengecek kehadiran murid. Namun sejatinya satu persatu diroasting. Singkat, tapi mengena. Dan pastinya, Penonton tertawa.

Namun gelombang tawa yang lebih besar muncul ketika absensi tersebut meluas ke sejumlah nama yang  tidak berada di situ.

“Joko hadir?”

“Oh pulang kampung? Jadi rakyat biasa ya.”

Masih lanjut.

“Raka hadir?”

“Oh. Raka ga sekolah…”

Tawa meledak.

Ketika Mukmin memanggil nama “Joko” dalam sesi absensi itu, studio sebenarnya sudah tertawa sejak sebelum punchline selesai. Penonton tahu ke mana arah lelucon itu berjalan. Mereka menangkap referensinya. Dan ketika nama berikutnya dipanggil, gelombang tawa yang lebih besar datang. Di titik itu saya mulai menyadari bahwa yang sedang bekerja bukan hanya teknik stand-up. Ada konteks politik yang ikut tertawa bersama penonton.

Dan seperti hampir semua satire yang efektif, yang bekerja bukan hanya kata-katanya. Yang bekerja adalah konteks yang dipahami bersama antara komika dan audiens. Di sinilah bagian yang paling menarik. Jika kita membaca kolom komentar di kanal resmi Kompas TV, terlihat bahwa publik tidak memaknai kemenangan Mukmin secara tunggal. Sebagian penonton melihatnya sebagai kemenangan komedi murni.

Salah satu komentar berbunyi:

“SUCI 12 suci terbaik sejak entah berapa tahun yang lalu. Paling banyak tawanya dan lucunya rata.” — @RandomVideo-7x

Bagi sebagian netizen, perhatian utama tetap pada kualitas pertunjukan.Mereka tidak sedang membicarakan politik. Mereka sedang membicarakan komedi. Namun pembacaan lain segera muncul.

Namun bagi netizen lain maknanya bisa lebih spesifik. Seorang netizen menulis:

 “Akhirnya yang juara 1 adalah musuh pemerintah 😂” — @Shinobi-w2l

Komentar lain menyebut:

 “Banyak banget yang nyenggol politik, memang selucu itu politik negeri kita.” — @TheRomanisti91

Komentar komentar ini menarik. Tidak ada bukti bahwa Mukmin adalah “musuh pemerintah”. Bahkan besar kemungkinan komentator sendiri tidak bermaksud demikian. Tetapi komentar ini menunjukkan sesuatu yang lebih penting. Bagi sebagian penonton, Mukmin telah dikonstruksikan sebagai figur yang identik dengan kritik dan satire politik. Yang mereka rayakan bukan semata-mata kelucuan. Mereka merayakan keberanian menyentuh isu yang dianggap dekat dengan kekuasaan. Yang hari ini, hal beginian itu sensitif dan beresiko sehingga sering dihindari, atau setidaknya diedit ketika muncul secara virtual.

Di titik ini, Mukmin tidak lagi hanya tampil sebagai komika. Ia telah berubah menjadi simbol tertentu dalam imajinasi sebagian audiens.

Pembacaan yang paling menarik datang dari komentar yang memperoleh dukungan terbesar di kolom komentar tersebut.

Seorang netizen menulis:

“Fakta bahwa Mukmin juara 1 menunjukkan negara kita sedang sangat tidak baik-baik saja. Mungkin ini salah satunya kritik yang bisa disampaikan terhadap apa yang sedang terjadi di negara ini.”

Komentar ini memperoleh ratusan tanda suka.

 

Tentu saja, kita tidak dapat menerima kesimpulan tersebut begitu saja. Kemenangan seorang komika tidak bisa dijadikan alat ukur kondisi negara. Tetapi sekali lagi, yang menarik bukan benar atau salahnya kesimpulan tersebut. Yang menarik adalah mengapa sebagian penonton sampai berpikir demikian. Mengapa kemenangan seorang komika bisa dibaca sebagai indikator kondisi politik? Mengapa sebuah acara hiburan bisa berubah menjadi ruang proyeksi keresahan sosial?

Dalam karya Domination and the Arts of Resistance, ilmuwan sosial politik James C. Scott menjelaskan bahwa kritik terhadap kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang formal. Tidak semua kritik lahir melalui demonstrasi. Tidak semua kritik muncul dalam pidato politik. Sering kali kritik hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: cerita, simbol, sindiran, humor, dan percakapan sehari-hari.

Humor memiliki keistimewaan tersendiri. Ia memungkinkan sesuatu yang sulit diucapkan secara langsung menjadi lebih mudah diterima. Orang tertawa terlebih dahulu. Maknanya menyusul kemudian.Dalam konteks ini, yang menarik bukan apakah Mukmin memang sedang melakukan kritik politik atau tidak. Yang menarik adalah bahwa sebagian audiens membaca materi-materinya sebagai kritik politik.

Artinya, makna politik tidak hanya lahir dari panggung. Makna politik juga lahir dari penonton. Dari interpretasi mereka. Dari pengalaman sosial mereka. Dari keresahan yang mereka bawa ketika menonton.

Pada akhirnya, kemenangan Mukmin memperlihatkan sesuatu yang lebih luas daripada sekadar hasil kompetisi komedi. Ia memperlihatkan bagaimana publik Indonesia hari ini mengonsumsi dan memaknai hiburan. Di mata sebagian penonton, Mukmin adalah komika yang lucu.

Di mata yang lain, ia adalah satiris politik.Bagi sebagian yang lain lagi, ia adalah representasi guru honorer dan masyarakat biasa. Bahkan bagi sebagian netizen, kemenangan Mukmin dibaca sebagai simbol kondisi politik yang lebih besar. Keragaman tafsir ini menunjukkan bahwa yang sedang kita saksikan bukan hanya pertunjukan komedi.

Kita sedang menyaksikan sebuah proses yang dalam studi politik-budaya sering disebut sebagai politisasi makna: ketika sebuah peristiwa budaya dibaca melalui lensa sosial dan politik oleh audiensnya. Karena itu, mungkin yang paling menarik dari Grand Final SUCI 12 bukanlah siapa yang menang.

Yang lebih menarik adalah bagaimana kemenangan itu dimaknai. Mukmin naik ke panggung sebagai komika. Tetapi di kolom komentar, ia berubah menjadi banyak hal sekaligus: guru honorer, satiris politik, suara rakyat biasa, bahkan simbol keresahan publik. Dan mungkin di situlah letak kekuatan komedi yang sesungguhnya. Ia tidak memaksa orang untuk setuju. Ia hanya membuat orang tertawa. Lalu membiarkan mereka memberi makna sendiri.

Share to

Peneliti di Komunitas Averroes, Founder Avemedia Research, Mahasiswa Pasca Sarjana FISIP Univeristas Brawijaya Malang

Topik Terkait

Menerapkan Kehangatan, Struktur, dan Kon...

by Jan 04 2026

Mendisiplinkan anak bukan hanya tentang memberikan hukuman, melainkan sebuah sistem pengajaran peril...

Jualan Takjil via google

Nasi dan Takjil Gratis Diserbu Mahasiswa

by Apr 14 2022

Sudah menjadi hobi para Mahasiswa jika berburu takjil dan nasi gratis di bulan Ramadhan. Banyak masj...

Analisa Permasalahan Bulu Tangkis Indone...

by May 24 2018

Pak Kret, Thailand, menjadi saksi penyelenggaraan turnamen bergengsi Piala Thomas dan Uber 2018. Tur...

Kebencian, Dalang Utama Semua Aksi Teror

by May 15 2018

Sejarah dunia modern telah akrab dengan peristiwa terorisme. Aksi-aksi peledakan, penyerbuan, penyer...

Agrofest Kalipucang: Festival Agrowisata...

by Mar 07 2018

Malang – Sektor inovasi wisata dan pertanian pada level desa semakin bergeliat pada era pasca ...

Poster Sarasehan Tani

Mari Bergabung di Sarasehan Tani

by Jul 04 2017

Sektor pertanian kini sedang berada di persimpangan jalan. Sebagai penopang hajat hidup sebagian bes...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top