Saiful Arif • Sep 05 2010 • 888 Dilihat
Mungkin saja benar Darwin yang bilang manusia ada kaitan erat sama monyet, khususnya dalam hal ini monyet dalam sirkus topeng monyet. Si kera mungil itu bukanlah lakon. Ia yang ditertawakan anak-anak kecil dan orang dewasa yang berkeliling sekitar arena itu sekedar obyek. Subyeknya adalah orang yang memberi titah, si empunya komedi topeng monyet.
Komedi bedhes, topeng monyet, tandhak bedhes, sirkus monyet, begitu orang sering menyebut.
Sore ini saya keluar rumah dan mendapati tukang komedi monyet menawarkan jasanya di depan rumah. Mengingat lebaran yang makin dekat dan berkeinginan untuk membahagiakannya (baik monyet, pemiliknya, saya sendiri, dan tentu anak-anak saya) saya membooking-nya untuk sekalimain. Tarifnya Rp. 10.000,-
Sepanjang monyet beraksi, saya tak henti berpikir, begitulah nasib kita orang miskin. Selalu dianiaya oleh mereka yang merasa kaya dan memiliki kendali lebih atas segala sesuatu. Kita patuh terhadap semua keinginan dan perintah orang-orang asing, dengan argumentasi sangat sederhana: Kita butuh makan.
Kita korbankan harga diri di hadapan Malaysia. Kita gadaikan semua milik kita kepada bangsa-bangsa maju. Kita tahu kita ditipu, tapi kita tidak bisa menolak, karena sekali menolak kita diancam tidak diberi makan. Mau mampus kalau nggak mau ikut skenario? Begitulah kita. Setidaknya umumnya tauladan yang dipertunjukkan para punggawa negeri ini.
Bila kini kita semua menyadari kalau sumber alam kita sudah hampir habis, mungkin jawabannya seperti juga alur drama komedi bedhes ini. Ada kemiripan skenario. Ialah sang monyet diajari naik sepeda, diberi nama Juminten, diajari dan diperintah pergi ke pasar, diajari cara membeli, dan setelah itu semua berakhir, sang monyet kembali masuk kandang.
Di akhir pertunjukan, saya meyakinkan, setidaknya diri saya sendiri, sedang melakoni sebuah pertunjukan topeng monyet. Berpura-pura bisa segalanya sesuai titah, dan tanpa sadar sebetulnya kita dimasukkan ke kandang juga oleh mereka.
Lemahnya kontrol sosial merupakan salah satu persoalan krusial yang tengah dihadapi masyarakat Indon...
Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...
Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai merasa generasi setelahnya sedikit membingungkan. Kalima...
Sepak bola modern terlalu sering jatuh cinta pada wajah yang sama. Kamera selalu tahu ke mana harus ...
Tidak ada waktu yang lebih jujur di kantor selain jam dua siang. Pagi masih menyimpan sisa ambisi. G...
Sepak bola modern adalah dunia yang curiga pada kebebasan. Ia meminta semua orang tahu ruang, tahu w...

Seberapa miripkah kita dengan monyet?
Pak yang tabuh genderang perang itu ya? hehe..
Artikulasi yang singkat dan ringan namun sangat menusuk…
AH bukan PERTAMAX…. emane ta lah…..
but its ok mas..
hehehe kalau qta mungkin topeng nyemot…
Tapi memang seringkali bedhesnya menikmati mas…