Redaksi • Jul 04 2017 • 1.150 Dilihat

Sektor pertanian kini sedang berada di persimpangan jalan. Sebagai penopang hajat hidup sebagian besar penduduk Indonesia, sudah semestinya pertanian menjadi sektor yang kokoh dan tumbuh dengan pesat. Juga wajar kiranya jika pertanian menjadi pintu masuk dalam pengentasan kemiskinan.
Sejarah telah mencatat bahwa Indonesia pernah berjaya dengan sektor pertanian sebagai penopang kesejahteraan masyarakat. Seiring berjalannya waktu, prestasi cemerlang di bidang pertanian akhirnya lepas dari tangan. Lahan pertanian semakin menyempit, minat penduduk untuk bertani semakin menurun, ditambah dengan sulitnya mendapatkan sarana produksi dan pupuk pertanian menjadikan petani Indonesia berangsur semakin miskin.
Pada tahun 2016, 27,7 juta jiwa penduduk Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan. Dari angka tersebut, 17,2 juta jiwa berada di wilayah pedesaan. Hal ini menunjukkan petani yang hidup di pedesaan Indonesia belum sejahtera. Di tengah keterpurukan petani, ketergantungan impor tanaman pangan Indonesia mencapai 74% dari total impor yang dilakukan pemerintah. Di sisi lain, sebagian besar tanaman perkebunan berhasil diekspor oleh Indonesia. Sayangnya produk perkebunan tersebut diekspor dalam bentuk bahan mentah.
Turunnya minat generasi petani turut menambah rentetan permasalahan pertanian. Terjadi penurunan terus menerus pada rumah tangga usaha pertanian dari tahun 2003 hingga 2013. Dapat disimpulkan bahwa minat usia produktif pada sektor pertanian kian berkurang. Mereka lebih tertarik bekerja pada sektor non-pertanian. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka 10 tahun lagi, sektor pertanian Indonesia akan semakin terpuruk.
Tentu permasalahan-permasalahan di atas bukan menjadi beban pemerintah semata. Para petani, aktivis lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi dan pihak-pihak lainnya juga patut untuk turut memikirkan keberlanjutan kedaulatan pertanian Indonesia. Atas landasan tersebut, akan dilaksanakan Sarasehan Tani dengan Tema “Membangun Sinergi, Menguatkan Petani”. Forum ini akan mempertemukan berbagai stakeholder untuk saling bertukar pengalaman gagasan dan ilmu pengetahuan demi menciptakan perbaikan kondisi pertanian Indonesia.
Koordinasi dan sinergi antar aktor pembangunan pertanian penting dilakukan untuk menciptakan integrasi visi dan program pembangunan sektor pertanian. Untuk mewujudkan pertanian yang baik, sebenarnya masih banyak stakeholder yang peduli terhadap isu ini, namun demikian belum ada sinergi dan kesamaan visi. Untuk itu, sarasehan ini menjadi penting untuk mengawali munculnya penyamaan visi dan program dalam membangun sektor pertanian.
Dalam forum ini, petani menjadi perhatian dan fokus utama. Para petani perlu ikut ambil bagian dalam menyatakan gagasan, peluang dan tantangan yang dihadapi selama bergelut pada sektor pertanian. Aktor aktor yang lain kemudian dapat melakukan refleksi dan penyamaan frekuensi gerakan dan program sesuai dengan apa yang disampaikan oleh para petani.
FORMAT & METODOLOGI ACARA
Sarasehan Tani ini akan menjadi kegiatan panjang selama 3 hari 3 malam, dan dihadiri oleh minimal 500 peserta dari Pasuruan dan dari luar Pasuruan. Peserta yang hadir merupakan elemen para petani, aktivis pemberdayaan petani, peneliti, mahasiswa, jurnalis, pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat.
Dalam kurun waktu tersebut terdapat 2 jenis forum. Forum pertama kami namai sebagai Sarasehan Nasional yang akan diikuti oleh seluruh peserta. Forum ke dua kami namai sebagai kelas inovasi petani. Pada kelas inovasi petani, para peserta diperkenankan untuk memilih tema apa yang akan diikuti. Selain sesi sarasehan dan kelas, juga akan dihelat festival nggoreng kopi dan ngudek kopi.
TEMPAT DAN TANGGAL PELAKSANAAN
Sarasehan Tani akan diselenggarakan pada tanggal 28-30 Juli 2017. Bertempat di Wisata Kampung Kopi Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
PESERTA
Kami memperkirakan bahwa acara ini akan dihadiri oleh minimal 500 peserta yang mewakili para petani, aktivis pemberdayaan petani, peneliti, mahasiswa, jurnalis, pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat.
AKOMODASI
Berkaitan dengan akomodasi, kami mengklasifikasikan peserta ke dalam dua kelompok.
Kami akan menyediakan penginapan dan konsumsi bagi 500 peserta tetap sarasehan selama 3 hari 3 malam selama di lokasi acara. Biaya transportasi dari tempat tinggal peserta menuju lokasi acara ditanggung oleh peserta sendiri.
Kami tidak menyediakan penginapan dan konsumsi bagi peserta tamu.
Menulis dan mengajak yang lain untuk menulis adalah cara kami untuk terus belajar. Ada sedikit harapan barangkali apa yang kami sajikan dalam media ini juga bisa menjadi inspirasi bagi siapapun.
Mendisiplinkan anak bukan hanya tentang memberikan hukuman, melainkan sebuah sistem pengajaran peril...
Sudah menjadi hobi para Mahasiswa jika berburu takjil dan nasi gratis di bulan Ramadhan. Banyak masj...
Pak Kret, Thailand, menjadi saksi penyelenggaraan turnamen bergengsi Piala Thomas dan Uber 2018. Tur...
Sejarah dunia modern telah akrab dengan peristiwa terorisme. Aksi-aksi peledakan, penyerbuan, penyer...
Malang – Sektor inovasi wisata dan pertanian pada level desa semakin bergeliat pada era pasca ...
“Kuda pacuan dipelihara sebelum dan sesudah bertanding, menang atau kalah. Tapi pemain bola hanya ...

Belum ada komentar.