AveSticker

Kemana Kita Mengubur Barang Bekas?

Mar 06 2012481 Dilihat

HARI masih terlalu pagi untuk beraktivitas di kampus. Hanya ada tukang sapu halaman yang sibuk dengan pekerjaannya. Sang dosen yang menjadwal mengajar pada jam pertama di pagi hari juga belum hadir. Beberapa saat lamanya menunggu, dia datang dengan wacana baru dengan tema desain infrastruktur.

Dalam diskusi pagi itu, dia menekakan bahwa infrastruktur didesain dengan tiga pendekatan: sistem keteknikan, siklus hidup dan sistem secara keseluruhan. Itu sebabnya desain tersebut harus disusun secara terpadu dan komprehensif.

Secara khusus, diskusi yang berjalan selama lima jam dengan sekali istirahat itu membahas tentang siklus hidup infrastruktur. Hal itu penting karena semua hal di dunia punya daur hidup, termasuk barang kreasi manusia. Siklus hidup infrastruktur tersebut secara berurutan diawali oleh konsep gagasan, desain, operasional dan pemeliharaan hingga mati.

Siklus itu secara reflektif juga menggambarkan daur hidup manusia. Dalam sebuah majlis pengajian masjid sekian tahun lalu seorang syekh mengutip Al Ghazali bahwa siklus hidup manusia secara sederhana ada tiga: lahir, menderita dan mati. Menderita karena beberapa kebutuhan dan keinginan di dunia tidak sepenuhnya tercapai.

Sang dosen lebih dalam menilai bahwa negara-negara sedang berkembang saat ini selalu terfokus pada konstruksi yang rapuh dan mengabaikan umur pakai infrastruktur. Selalu saja terjadi kebocoran anggaran dalam setiap proyek infrastruktur. Praktik tersebut akan ada selama ada permintaan dan penawaran penyelewengan anggaran.

Negara-negara berkembang belum memikirkan akhir dari hidup sebuah infrastruktur. Kemana kita akan mengubur mobil, komputer/laptop, bangunan, limbah padat, atau alat elektronik canggih yang lain? Bisa jadi, salah satu gambar mobil toilet yang saya dapatkan ketika lewat di depan Candi Prambanan ketika menuju Solo pekan lalu adalah bentuk kebingungan kita. Hendak kemana kita mengubur barang bekas kita? (*)

Share to

Alumni Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang. Pernah memimpin Newsletter Simpul Demokrasi. Pegiat peternakan di Jawa Timur

Topik Terkait

Ketika Satir Menjadi Popularitas: Dari M...

by Jun 02 2026

Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...

Beberapa Kebiasaan Aneh Gen Z yang Seben...

by May 30 2026

Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai merasa generasi setelahnya sedikit membingungkan. Kalima...

Orang-Orang di Pinggir Lapangan yang Men...

by May 23 2026

Sepak bola modern terlalu sering jatuh cinta pada wajah yang sama. Kamera selalu tahu ke mana harus ...

Jam Dua Siang dan Ilusi Produktivitas Ka...

by May 16 2026

Tidak ada waktu yang lebih jujur di kantor selain jam dua siang. Pagi masih menyimpan sisa ambisi. G...

Sepak Bola Modern dan Kerinduan Pada Nom...

by May 09 2026

Sepak bola modern adalah dunia yang curiga pada kebebasan. Ia meminta semua orang tahu ruang, tahu w...

Mei, Libur dan Kewajiban untuk Terlihat ...

by May 02 2026

Mei 2026 datang bersama kalender yang tampak terlalu baik hati. Tanggal merah berderet, cuti bersama...

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top