AveSticker

Kemana Kita Mengubur Barang Bekas?

Mar 06 2012507 Dilihat

HARI masih terlalu pagi untuk beraktivitas di kampus. Hanya ada tukang sapu halaman yang sibuk dengan pekerjaannya. Sang dosen yang menjadwal mengajar pada jam pertama di pagi hari juga belum hadir. Beberapa saat lamanya menunggu, dia datang dengan wacana baru dengan tema desain infrastruktur.

Dalam diskusi pagi itu, dia menekakan bahwa infrastruktur didesain dengan tiga pendekatan: sistem keteknikan, siklus hidup dan sistem secara keseluruhan. Itu sebabnya desain tersebut harus disusun secara terpadu dan komprehensif.

Secara khusus, diskusi yang berjalan selama lima jam dengan sekali istirahat itu membahas tentang siklus hidup infrastruktur. Hal itu penting karena semua hal di dunia punya daur hidup, termasuk barang kreasi manusia. Siklus hidup infrastruktur tersebut secara berurutan diawali oleh konsep gagasan, desain, operasional dan pemeliharaan hingga mati.

Siklus itu secara reflektif juga menggambarkan daur hidup manusia. Dalam sebuah majlis pengajian masjid sekian tahun lalu seorang syekh mengutip Al Ghazali bahwa siklus hidup manusia secara sederhana ada tiga: lahir, menderita dan mati. Menderita karena beberapa kebutuhan dan keinginan di dunia tidak sepenuhnya tercapai.

Sang dosen lebih dalam menilai bahwa negara-negara sedang berkembang saat ini selalu terfokus pada konstruksi yang rapuh dan mengabaikan umur pakai infrastruktur. Selalu saja terjadi kebocoran anggaran dalam setiap proyek infrastruktur. Praktik tersebut akan ada selama ada permintaan dan penawaran penyelewengan anggaran.

Negara-negara berkembang belum memikirkan akhir dari hidup sebuah infrastruktur. Kemana kita akan mengubur mobil, komputer/laptop, bangunan, limbah padat, atau alat elektronik canggih yang lain? Bisa jadi, salah satu gambar mobil toilet yang saya dapatkan ketika lewat di depan Candi Prambanan ketika menuju Solo pekan lalu adalah bentuk kebingungan kita. Hendak kemana kita mengubur barang bekas kita? (*)

Share to

Alumni Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang. Pernah memimpin Newsletter Simpul Demokrasi. Pegiat peternakan di Jawa Timur

Topik Terkait

Menakar Electoral Threshold dalam Rancan...

by Jul 09 2026

Pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum terus bergulir memasuki bu...

Asia Datang Beramai-Ramai, Pulang Bersam...

by Jul 05 2026

Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi momen yang paling membanggakan bagi sepak bola Asia. Untuk perta...

Afrika Tidak Kehilangan Bakat, Afrika Ke...

by Jun 28 2026

Ketika membahas sepak bola Afrika, orang biasanya memulai dari tempat yang sama. Federasi yang beran...

Matahari yang Enggan Terbenam: Jokowi, B...

by Jun 24 2026

Dalam sepekan terakhir, selain dinamika Munas Kombes NU, salah satu berita politik yang menarik perh...

Diantara Menjadi Dokter, Notaris, Atau G...

by Jun 18 2026

Di ruang rawat inap VVIP Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie (AWS), Samarinda. Nampak belasan orang me...

Ketika Diskusi Dibubarkan: Kampus, Demok...

by Jun 17 2026

Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top