
Langit kemerahan, napas terasa berat oleh serpihan jelaga, dan ribuan hektare lahan di berbagai penjuru negeri seolah merintih dalam kepungan api. Di saat para petugas pemadam kebakaran berjibaku mempertaruhkan nyawa di garis depan—berjibaku dengan selang air, helikopter water bombing, dan kelelahan luar biasa—sebagian kecil masyarakat justru masih memilih menoleh ke arah yang salah: berharap pada kepulan asap dupa dan komat-kamit mantra.
Nama Rara Istiani Wulandari, atau yang akrab disapa Mbak Rara, kembali mencuat ke permukaan. Di tengah kekeringan ekstrem dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian mengganas, ia hadir membawa ritual “pemanggil hujan”. Aksinya sontak menjadi sorotan publik, membelah opini antara rasa penasaran, hiburan semata, hingga keheranan yang mendalam.
Logika yang Terbalik
Fenomena ini menyisakan sebuah pertanyaan menggelitik namun telak:jika ritual tersebut benar-benar memiliki kekuatan hebat untuk mengendalikan cuaca, mengapa ia baru turun tangan saat karhutla telah meluas dan menjadi bencana?
Secara nalar kemanusiaan dan sains, pertanyaan ini menelanjangi rapuhnya logika takhayul. Karhutla adalah peristiwa ekologis yang melibatkan kompleksitas meteorologi, kelengasan tanah, tiupan angin, serta ulah manusia. Ketika musim kemarau panjang melanda akibat fenomena iklim seperti El Nino, sains telah menyediakan peta jalan mitigasi: modifikasi cuaca berbasis teknologi (TMC) menggunakan penyemaian awan (cloud seeding), patroli titik panas (hotspot), hingga penegakan hukum yang tegas.
Namun, menggantungkan harapan pada ritual mistis justru menunjukkan bagaimana sebagian masyarakat kita masih gemar mencari jalan pintas yang bersifat instan dan irasional. Alih-alih memperkuat infrastruktur pencegahan dini, edukasi lingkungan, atau kesiapsiagaan warga, narasi mistis kerap kali menyeruak, mereduksi bencana besar menjadi sekadar tontonan magis.
Menghidupkan Nalar, Bukan Mitos
Indonesia adalah negeri yang kaya akan kebudayaan dan kearifan lokal. Tradisi memohon hujan sejatinya pernah menjadi bagian dari ritus agraris nenek moyang dalam menghormati alam. Namun, ada batas tipis antara melestarikan tradisi budaya dan terjebak dalam pelarian semu di tengah krisis modern.
Ketika karhutla mengancam kesehatan jutaan anak cucu, merusak ekosistem, dan mencoreng nama bangsa di kancah internasional, yang kita butuhkan bukanlah dupa atau aksi teatrikal di tengah lapangan. Yang kita perlukan adalah kerja keras yang terukur, sains yang membumi, ketegasan regulasi, serta kesadaran kolektif untuk tidak lagi membakar lahan.
Sudah saatnya kita berhenti berharap pada keajaiban simbolik yang tidak pernah terbukti secara empiris. Sebab, langit tidak akan menurunkan air mata rahmatnya hanya karena mantra yang diucapkan, melainkan karena keseimbangan ekologi yang kembali kita rawat dengan akal sehat.***










