AvePress.com

Belajar dari Komentar

Adu Domba Bahadur (Episode 52)

Produksi: Genta Buana Pitaloka Pemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Meilia, Jill Carissa, Yuni Sulistyowati, Chairil J.M, Fitria Anwar, Irman F.R

Produksi: Genta Buana Pitaloka
Pemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Meilia, Jill Carissa, Yuni Sulistyowati, Chairil J.M, Fitria Anwar, Irman F.R Heryana, Lilis Sugandha, Anika Hakim, Choky Andriano, Rizal Muhaimin, Lyra Virna
Sutradara: Dasri Yacob
Tahun: 2000

Cerita kembali mengikuti perjalanan hidup Syudawirat. Di tempat lain, Lokahita sedang berjuang melahirkan anak dengan bantuan Uyut Sawega. Di tengah proses persalinan, Lokahita merasa khawatir terhadap pengembaraan yang sedang dijalani Syudawirat. Ia mempertanyakan apakah suaminya telah mampu menjalankan pesan untuk berbuat baik, menolong orang lain, dan membantu sesama. Setelah melalui perjuangan tersebut, Lokahita akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki dengan penuh kebahagiaan.

Sementara itu, cerita berlanjut di Kerajaan Sawopitu setelah penyerangan terhadap rombongan Prabu Jayadipa di hutan. Prabu Mahesa Tunggal mengumpulkan seluruh nayaka dan rakryan untuk menyusun kembali rencana serta strategi guna menumpas kelompok pemberontak tersebut. Namun, situasi di lingkungan kerajaan justru diwarnai ketegangan akibat hubungan Priyamitra dengan Bahadur dan Khasmala yang tidak berjalan baik, meskipun ketiganya telah dianggap sebagai sekutu Prabu Mahesa Tunggal.

Bahadur dan Khasmala ternyata memiliki tujuan licik. Keduanya gemar mengadu domba dan menyimpan niat untuk menguasai Kerajaan Sawopitu. Prabu Mahesa Tunggal bersama Pangeran Begananda berusaha mendamaikan mereka dengan Priyamitra, tetapi upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Perselisihan akhirnya memuncak hingga terjadi pertarungan antara Priyamitra melawan Bahadur dan Khasmala di hadapan Prabu Mahesa Tunggal. Pertarungan tersebut kemudian berhasil dihentikan oleh Pangeran Begananda.

Di tempat lain, Prabu Angling Dharma mengutus Ratri Pramudita dan Bongoh untuk mencari keberadaan musuh besarnya yang telah melakukan berbagai kejahatan terhadap Kerajaan Malwapati. Musuh tersebut diketahui pernah mengirimkan sihir yang menyebabkan penderitaan bagi rakyat Malwapati. Dalam perjalanan, Ratri Pramudita dan Bongoh tiba di Kerajaan Sawopitu. Ketika berada di pasar, keduanya dicurigai sebagai mata-mata kelompok pemberontak Jayadipa. Akibat kecurigaan tersebut, para prajurit menangkap mereka dan membawa keduanya menghadap Prabu Mahesa Tunggal.

Di hadapan sang prabu, Ratri Pramudita dan Bongoh menjelaskan bahwa mereka bukan mata-mata Jayadipa yang hendak merebut takhta kerajaan. Tidak lama kemudian, Priyamitra datang dan membenarkan penjelasan keduanya. Ia menerangkan bahwa Ratri Pramudita dan Bongoh bukanlah mata-mata pemberontak, melainkan abdi dalem Suliwa yang merupakan orang kepercayaan Prabu Angling Dharma. Mendengar penjelasan tersebut, Prabu Mahesa Tunggal kemudian mengutus Priyamitra untuk menjamu kedua utusan Malwapati itu.

Dalam pertemuan tersebut, Priyamitra memperoleh penjelasan lebih jauh dari Ratri Pramudita dan Bongoh mengenai tujuan kedatangan mereka. Keduanya mengungkapkan bahwa Bahadur dan Khasmala merupakan musuh bebuyutan yang sedang dicari oleh Prabu Angling Dharma. Sebelumnya, kedua orang tersebut berhasil lolos dari hukuman pancung setelah melakukan berbagai kejahatan, termasuk mengirimkan teluh kepada Prabu Angling Dharma dan meracuni rakyat. Atas dasar itu, Ratri Pramudita dan Bongoh mengingatkan agar Prabu Mahesa Tunggal berhati-hati terhadap siasat licik serta upaya adu domba yang dilakukan Bahadur dan Khasmala.

Setelah mengetahui kebenaran tersebut, Priyamitra meyakinkan Prabu Mahesa Tunggal bahwa Ratri Pramudita dan Bongoh bukan mata-mata Jayadipa. Ia kemudian memohon agar keduanya dibebaskan. Selain itu, Priyamitra juga mengingatkan sang prabu untuk tidak mudah percaya kepada Bahadur dan Khasmala yang penuh tipu daya. Ia bahkan menyinggung bahwa ketika pasukan Sawopitu menyerang persembunyian Prabu Jayadipa, Bahadur dan Khasmala tidak turut serta dalam pertempuran. Hal tersebut menjadi salah satu alasan bagi Prabu Mahesa Tunggal untuk mempertimbangkan kembali kerja sama mereka.

Akhirnya, Prabu Mahesa Tunggal memutuskan untuk tidak lagi menjadikan Bahadur dan Khasmala sebagai sekutunya. Keputusan tersebut diambil agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan Kerajaan Malwapati, terutama karena Kerajaan Sawopitu telah menampung dua buronan yang sedang dicari oleh Prabu Angling Dharma.

Kisah di atas mencerminkan pentingnya menjaga perilaku dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap orang hendaknya menghindari tindakan licik, kejahatan, dan kebiasaan mengadu domba karena perbuatan tersebut hanya akan menimbulkan permusuhan. Dalam kehidupan sosial, memiliki satu teman yang tulus dan dapat dipercaya jauh lebih berharga daripada memiliki seribu teman, tetapi di antara mereka terdapat orang-orang yang gemar berbuat jahat, licik, dan mengadu domba.

Very Yudha

Pantang lari dari gelanggang corong palayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AvePress.com

Belajar dari Komentar