Sebagai pemeluk agama yang Alhamdulillah juga menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad. Bisa dikatakan bahwa kaum muslimin hari ini memiliki “nasib” paling mujur dibandingkan dengan umat-umat terdahulu. Bukan-bukan, kita tidak sedang mencoba untuk membandingkan dan mendialektika persoalan sesama pemeluk Islam. Ini hanya tulisan yang standar, tak lebih baik daripada tulisan Kemiripan Vicky Prasetyo dengan Lionel Messi.

Selaras dengan keberadaan Bulan Ramadhan, agaknya kaum muslimin-muslimat sedang “disibukkan” dengan perebutan kekuasaan siapa paling religius diantara sesama. Sebentar-sebentar, tulisan ini kok dari tadi seolah-olah ingin menggugat kekhusyuk’an kaum muslimin dalam beribadah. Baik, kita akan fokus pada pembahasan judul diatas.

Pernah dengar Lailatul Qodar to?. Malam dimana semua rahmat dan barokah diturunkan oleh sang pencipta sebagai pengganti usia yang pendek. Ya, kata guru Al-Qur’an Hadits di Madrasah dahulu Lailatul Qodar only wal khususon bagi umat Muhammad. Apa berarti hanya sebegitu saja fungsi dan keutamaan Lailatul Qodar?

Pembicaraan seperti ini-kan sudah ada semenjak Mas Jonru mulai menjadi alim ulama nomor satu di Indonesia. Ahh, lebih jauh sepertinya, semenjak peperangan antara Ali dengan Mu’awiyah. Atau bahkan mungkin semenjak Umar bin Khattab menangis tatkala mendengar Fatimah mengaji.

Mengutip dari pembicaraan warung kopi para manusia yang mengaku kaum santri kemarin. Lailatul Qodar tentu identik dengan malam seribu bulan. Keabsahannya juga sudah termaktub di Surat Al-Qadr, ada di Juz 30. Bagi yang sering tadarus dan membaca Al-Qur’an pasti tau kok.

Bagi saya yang kebetulan hanya memiliki pemahaman mengenai agama cetek, tentu saya sangat senang dengan artikel atau buku yang berjudul “Memburu Lailatul Qodar” atau juga “Merindu Lailatul Qodar”. Kalau sudah seperti itu judulnya, berarti kan Lailatul Qodar itu bak pencuri, makanya diburu. Atau Lailatul Qodar itu mantan yang sering dirindukan.

Mari sejenak berandai-andai agak ngawur pelan-pelan. “Andai saya menjalani Malam Lailatul Qodar dengan baik, apa berarti kehidupan saya sudah pasti diliputi kebaikan dan bisa dipastikan kelak masuk surga?”. Lucu bin ngawur ya. Lha gimana, orang jaman sekarang emang gitu banget pikirannya.

Di Bulan Rajab kemarin, banyak pesan bertuliskan “Mari berpuasa di Bulan Rajab. Puasa satu hari di Bulan Rajab sama dengan ibadah dua tahun, sedangkan mengingatkan untuk puasa sama dengan ibadah 80 tahun”. Lahh, itukan santapan empuk bagi umat jaman saiki.

Ayub, teman satu kontrakan saya yang juga aktivis media sosial barangkali di hari tersebut adalah orang paling beruntung sedunia. Tak perlu repot-repot puasa, ia memilih membuat broadcast lewat BBM, WA dan Line serta menulis pesan di dinding Facebook dan Twitternya. Belum lagi di jejaring sosial lainnya. Kalau kayak gini-kan kasihan Si Agus, ia puasa dua hari di Bulan Rajab tapi “cuma” dapat pahala dua tahun.

Yahh, mau gimana lagi. Hal-hal seperti inikan sudah lumrah di zaman sekarang. Fenomena ngaji lewat HP, sedangkan Al-Qur’an dibiarkan tertumpuk rapi paling bawah diantara buku-buku milik Aristoteles, Marx sampai buku candaannya Gus Dur-kan memang sudah biasa. Atau fenomena kedahsyatan manusia yang tiba-tiba sudah menjadi Murobbi hanya dengan bekal googling paket 50 ribu perbulan. Miris ya. Padahal kakek saya dahulu “hanya” untuk mengkhatamkan Kitab Ta’limul Muta’allim saja butuh waktu tiga tahun.

Nahh, kembali ke Lailatul Qodar tadi. Sebagai seorang muslim yang terkadang menggunakan Al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman berfikir, berucap dan bertindak. Barangkali Si Fulan melupakan sisa-sisa waktu lain diluar Lailatul Qodar. Karena merasa sudah mendapatkan keutamaan Lailatul Qodar. Berarti sudah boleh meninggalkan Sholat. Sudah bisa membuat ketetapan dan hukum baru. Dan sudah sah mendapatkan ijazah untuk mengkafirkan orang lain.

Yasudahlah, toh tulisan ini juga cuma sekedar coretan tak bernilai dari muslim normatif. Tak lebih mengerti daripada penulis buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran”.

Lantas. Bagaimana Tuhan, makhlukmu sekarang lebih canggih to dibandingkan Ibnu Sina? Lebih cerdas daripada Abu Nawas-kan?. Hehe. Lha wong umat Muhammad kok dilawan!.

1 COMMENT