AveSticker

Takbiran Anak-Anak

Sep 08 2010524 Dilihat

Ramainya anak-anak memang selalu membawa gairah kehidupan baru, seolah spirit kehidupan kita ada pada polah tingkah mereka. Begitupun pada malam menjelang lebaran. Cukup berbekal oncor yang dibuatkan oleh masing-masing orang tua mereka, ditambah dengan gerobak kecil sebagai tempat bedug masjid, canda tawa riang mereka mengiringi malam bahagia itu. Dengan berjalan kaki, langit desa itu terlihat merona memantulkan cahaya api oncor yang dipegang oleh anak-anak. Allahu akbar Allauakbar Walillahilhamd. Teriak mereka bersahutan.

Jalan aspal desa mereka lalui bersama-sama. Suara anak-anak yang ramai tentu keindahan tersendiri untuk kehidupan ini. Sepanjang jalan mereka disambut oleh para orang tua dan keluarganya. Ada yang meneriaki macam-macam karena memang polah tingkah anak-anak kadang sulit ditebak, baik tingkah yang menggemaskan atau menakutkan. Kadang saling ejek, saling berlarian keluar barisan hingga hampir tertabrak motor. Namun tidak ada yang terganggu dengan tingkah anak-anak itu. Kendaraan yang lewatpun memahami keadaan dengan berjalan sangat lambat.

Takbir keliling anak-anak ini memang sudah menjadi tradisi tiap malam hari raya. Maklum, desa yang secara geografis berada di daerah pegunungan itu memang jarang ada takbir keliling menggunakan kendaraan roda empat sebagaimana di daerah perkotaan atau dekat dengan jalan raya. Namun begitu mereka mempunyai semangat yang sama menyambut hari raya, yakni semangat saling memaafkan dan membina ukhuwah persaudaraan.

Takbir keliling anak-anak itu selesai sekitar pukul setengah sebelas malam. Akan tetapi itu tidak menutup semangat anak-anak untuk behenti takbir. Mereka ikut nimbrung dengan para laki-laki dewasa melakukan takbir bersama, bersahutan berebut pengeras suara. Ada yang sampai tertidur di masjid, ada pula yang harus dijemput orangtuanya untuk segera pulang. Takbir itupun berlanjut semalam suntuk menyambut hari kemenangan.

Allahuakbar Allahuakbar Walillahilhamd

Share to

Alumni Universitas Muhammadiyah Malang. Tinggal di Blitar.

Topik Terkait

Menakar Electoral Threshold dalam Rancan...

by Jul 09 2026

Pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum terus bergulir memasuki bu...

Asia Datang Beramai-Ramai, Pulang Bersam...

by Jul 05 2026

Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi momen yang paling membanggakan bagi sepak bola Asia. Untuk perta...

Matahari yang Enggan Terbenam: Jokowi, B...

by Jun 24 2026

Dalam sepekan terakhir, selain dinamika Munas Kombes NU, salah satu berita politik yang menarik perh...

Ketika Diskusi Dibubarkan: Kampus, Demok...

by Jun 17 2026

Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...

Grup WhatsApp dan Demokrasi yang Terlalu...

by Jun 13 2026

Tidak ada tempat yang lebih demokratis di era modern selain grup WhatsApp. Semua orang punya hak bic...

Menuju Piala Dunia: Nasionalisme yang Da...

by Jun 06 2026

Tidak semua rasa cinta pada negara hadir setiap hari. Ada yang muncul hanya ketika perlu—dan Piala...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top