MasBen • Mar 21 2026 • 396 Dilihat

Yth.
Siapa pun Anda di luar sana—
entah pejabat, pengambil kebijakan, penyusun kalender, atau sekadar orang yang gemar mencoret hari merah—
surat ini tidak sepenuhnya marah. Ia hanya sedikit kecewa. Seperti orang yang baru saja duduk, lalu diminta berdiri lagi.
Lebaran, sebagaimana lazimnya, selalu datang dengan janji yang sederhana: pulang. Bukan sekadar pulang ke tanah kelahiran, tetapi pulang ke jeda. Ke waktu yang tidak tergesa. Ke meja makan yang tidak ditanya target, kepatuhan, dan capaian. Sayangnya, jeda itu—entah kenapa—selalu diperlakukan seperti barang mewah: ada, tapi jangan lama-lama.
Mudik malah seolah menjadi ritual ketahanan nasional. Antre panjang, jalan yang macetnya lebih konsisten daripada kebijakan publik, dan tubuh yang rela diperas demi satu pelukan ibu di ruang tamu. Setelah itu, baru duduk sebentar. Baru sempat benar-benar melihat wajah ayah tanpa jam dinding menekan. Baru sempat menghafal lagi tawa keponakan yang tumbuh lebih cepat daripada cuti tahunan.
Lalu—maaf—libur selesai.
Seolah-olah kebersamaan bisa dipadatkan. Seolah-olah rindu bisa diatur dalam format efisiensi. Seolah-olah keluarga adalah agenda yang bisa diselesaikan di hari Selasa. Kita diajak percaya bahwa cukup sudah: makan opor sekali, salaman, foto keluarga, lalu kembali menjadi manusia produktif yang rapi dan bahagia dengan deadline tiap hari.
Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Yang singkat itu bukan kebersamaan, melainkan keberanian untuk benar-benar berhenti-
Kita pulang, tetapi belum sepenuhnya tiba. Kita bertemu, tetapi belum sempat hadir.–
Libur yang terlalu pendek membuat Lebaran terasa seperti iklan: menyentuh, tapi buru-buru ditutup sebelum maknanya menetap.
Surat ini tidak menuntut revolusi kalender. Ia hanya ingin mengingatkan satu hal kecil yang sering dilupakan oleh orang-orang yang tidak perlu mudik: bahwa waktu bersama keluarga bukan sekadar hak, melainkan kebutuhan yang diam-diam menjaga kewarasan kolektif.-
Bahwa bangsa ini tidak hanya hidup dari kerja, tetapi juga dari pulang.
Mungkin akan ada statement kontradiktif, “ekonomi harus jalan!” Tentu. Tetapi bukankah ekonomi juga digerakkan oleh manusia yang salah satu kebutuhan primernya ialah duduk lama di ruang tamu rumahnya sendiri? Oleh anak-anak yang ingin ayahnya tidak segera pergi lagi. Oleh orang tua yang mengerti, pulang lebih mahal dari nyawa sendiri.
Jika suatu hari Anda bertanya mengapa kita sering tampak lelah, barangkali jawabannya sederhana: karena jeda selalu dianggap pemborosan. Karena Lebaran hanya diberi waktu cukup untuk simbol, bukan untuk makna.
Surat ini akan berakhir di sini. Tidak dengan tuntutan, tidak pula dengan ancaman. Hanya dengan harapan yang pelan: semoga suatu hari nanti, ketika kalender kembali disusun, ada seseorang yang diam sejenak dan bertanya—
“Apakah mereka sudah cukup lama bersama keluarganya?”
Jika belum, mungkin libur itu memang belum selesai.
Dalam sepekan terakhir, selain dinamika Munas Kombes NU, salah satu berita politik yang menarik perh...
Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...
Tidak ada tempat yang lebih demokratis di era modern selain grup WhatsApp. Semua orang punya hak bic...
Tidak semua rasa cinta pada negara hadir setiap hari. Ada yang muncul hanya ketika perlu—dan Piala...
Lemahnya kontrol sosial merupakan salah satu persoalan krusial yang tengah dihadapi masyarakat Indon...
Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...

Belum ada komentar.