MasBen • Mar 14 2026 • 259 Dilihat

Ada perubahan yang tidak selalu datang sebagai kehilangan yang jelas. Ia tidak berisik, tidak dramatis, bahkan kerap terasa sepele. Namun kehadirannya menetap, terutama ketika Ramadan kembali hadir di usia dewasa. Segalanya masih berlangsung seperti biasa—puasa, sahur, berbuka, ibadah—tetapi rasa yang menyertainya tidak lagi sama. Bukan karena ritualnya berubah, melainkan karena ruang di sekitarnya tak lagi serupa.
Pada masa kanak-kanak, Ramadan hadir sebagai pengalaman yang utuh. Waktu seolah berjalan lebih lapang, tidak tergesa oleh target atau tuntutan. Rasa lapar tidak sepenuhnya menjadi beban, melainkan bagian dari penantian yang menyenangkan. Bedug, azan, dan meja berbuka membentuk ritme harian yang sederhana namun penuh makna. Tidak ada dorongan untuk memahami secara konseptual; makna hadir melalui pengulangan, melalui kebiasaan, melalui kebersamaan yang tidak pernah dipertanyakan.
Ramadan pada masa itu tidak menuntut kesadaran. Ia hadir begitu saja, dan diterima sebagaimana adanya.
Memasuki dewasa, Ramadan tidak lagi berdiri sendiri. Ia beririsan dengan pekerjaan, tanggung jawab, dan kelelahan yang terus menyertai kehidupan sehari-hari. Puasa tetap dijalani, tetapi sering kali sambil menahan lelah yang berlapis. Lapar tidak hanya terasa di tubuh, melainkan berkelindan dengan tekanan, dengan pikiran yang sulit berhenti, dengan daftar kewajiban yang tidak ikut berpuasa. Ramadan tetap datang, namun dalam ruang yang lebih sempit dan lebih padat.
Perubahan ini tidak selalu disadari sebagai kehilangan, melainkan sebagai pergeseran yang perlahan.
Dahulu, waktu dihayati. Kini, waktu dikelola. Penantian azan magrib yang dulu terasa panjang dan penuh antisipasi kini sering hadir sebagai sela di antara kesibukan. Ia datang di tengah rapat, di perjalanan pulang, atau saat perhatian masih tertambat pada hal lain. Bukan karena kurangnya penghormatan, melainkan karena perhatian telah terbagi sebelum sempat menetap sepenuhnya pada satu momen.
Ada pula perubahan lain yang lebih sunyi: kesadaran yang tumbuh bersamaan dengan pertanyaan. Ramadan di masa dewasa kerap diiringi evaluasi—tentang kekhusyukan, tentang keikhlasan, tentang jarak yang mungkin tercipta antara ritual dan makna. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak lahir dari penolakan, melainkan dari keinginan untuk memahami. Namun justru di sanalah Ramadan sering terasa berat, bukan secara fisik, melainkan secara reflektif.
Ramadan masa kanak-kanak adalah pengalaman yang dijalani.
Ramadan masa dewasa adalah pengalaman yang disadari.
Kesadaran itu membawa konsekuensi. Ia membuat setiap ibadah terasa seperti cermin, memantulkan bukan hanya niat, tetapi juga keterbatasan. Tidak semua doa terasa khusyuk. Tidak semua puasa dijalani dengan ringan. Ada hari-hari ketika Ramadan terasa sunyi, bukan karena kurangnya aktivitas, melainkan karena berlimpahnya hal yang tidak sempat diselesaikan di luar dirinya.
Namun perbedaan rasa ini tidak serta-merta menandai kemunduran. Ia bisa dibaca sebagai perubahan cara hadir. Seperti banyak hal lain dalam kehidupan, yang dahulu sederhana kini menjadi berlapis. Ramadan tidak kehilangan maknanya, tetapi berhenti menjadi latar yang otomatis. Ia menunggu untuk dihadirkan dengan kesengajaan, bukan sebagai rutinitas, melainkan sebagai pilihan yang disadari.
Di titik ini, Ramadan di masa dewasa barangkali tidak lagi menawarkan nostalgia. Ia tidak datang untuk mengulang kegembiraan lama, melainkan untuk membuka ruang kejujuran. Tentang kelelahan yang tidak selalu terucap, tentang iman yang tidak selalu lantang, tentang upaya untuk tetap hadir meski dalam keterbatasan dan ketidaksempurnaan.
Jika Ramadan terasa berbeda, barangkali beriringan dengan perubahan dan perjalanan manusia. Kedewasaan membawa bentuk keberagamaan yang lain—lebih sunyi, lebih reflektif, dan tidak selalu mudah. Di sanalah Ramadan menemukan wujudnya yang baru: bukan sebagai pengalaman yang ringan, tetapi sebagai ruang untuk berdiri dan bertahan, meski tak akan banyak menghadirkan kenangan.
Dalam sepekan terakhir, selain dinamika Munas Kombes NU, salah satu berita politik yang menarik perh...
Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...
Tidak ada tempat yang lebih demokratis di era modern selain grup WhatsApp. Semua orang punya hak bic...
Tidak semua rasa cinta pada negara hadir setiap hari. Ada yang muncul hanya ketika perlu—dan Piala...
Lemahnya kontrol sosial merupakan salah satu persoalan krusial yang tengah dihadapi masyarakat Indon...
Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...

Belum ada komentar.