Redaksi • Dec 31 2015 • 822 Dilihat

Semenjak mulai beredar diawal tahun 2015, Avepress telah mengalami berbagai kejadian dan peristiwa penting. Mulai dari yang mengenakkan hingga yang menyakitkan. Dari yang bikin tersenyum sendiri hingga yang membuat dada sesak ketika antre mandi.
Pembentukan Avepress tentu tak bisa dilepaskan dari skuat utama yang kala itu dikumpulkan atas nama kebermanfaatan. Mereka-mereka yang termasuk dalam kategori free transfer atau didepak oleh agen sengaja diajak untuk membangun kekuatan baru. Kebiasaan berdiskusi dan berkomentar sengaja diformilkan menjadi sebuah karya yang bermanfaat.
Selain peristiwa pembentukan Avepress yang kala itu dihadiri oleh para petinggi Negara. Ada berbagai peristiwa lain yang mustahil lekang dari ingatan semua pihak pecinta dan pegiat Avepress. Berikut adalah peristiwa-peristiwa tersebut.
Sekitaran satu bulan Avepress berdiri, Levi Riansyah (jebolan LGBT KW 5) memberikan dentuman cukup keras pada awak Avepress. Kala itu, kondisi nyaman nan mendamaikan tengah semerbak menyelimuti Kawah Avepressdimuko. Dalam sekejap, kondisi itu terguncang. Sebuah bom dengan kekuatan dahsyat mengguncang karena kelakuan nakal ala Levi Riansyah.
Ayub, salah seorang penulis muda Avepress diculik! Secara pribadi Ayub yang katanya sendiri masih minim pengalaman menulis “diamankan”. Frekuensi menulis Ayub yang cukup rajin tiba-tiba berkurang. Sontak saja, para awak Avepress yang lain kebingungan. Pencaharian Ayub berakhir ketika didapati saksi yang menyebutkan bahwa Ayub tengah dalam masa “tahanan” oleh Om Levi.
Pengakuan Ayub menyebutkan bahwa ia disodori sebuah proposal untuk belajar menulis secara private dengan Levi Riansyah. Alih-alih menulis, ternyata selama masa “tahanan”, ia lebih banyak dijejali kesibukan untuk membersihkan kamar mandi dan ngeroki Levi Riansyah tiap hari. Kejadian ini akhirnya mendapatkan perhatian serius dari MKA (Mahkamah Konstitusi Avepress). Levi Riansyah sempat disidang beberapa kali, hingga akhirnya keputusan sidang belum mampu menggoyahkan kekuatan Levi Riansyah.
Ia bebas, karena cerita persidangan memang tidak pernah terjadi.
Setelah berjalan trilyunan detik, Avepress kedatangan beberapa calon bibit-bibit penulis besar. Beberapa dari mereka datang dari wilayah yang hingga hari ini belum terkena imbas aliran listrik. Para darah muda ini kemudian mengikuti serangkaian tes dan training sebagai bagian dari uji kelayakan. Salah seorang peserta yang namanya cukup melejit adalah Jawoto Tri Prabowo. Ia seperti menjadi medan magnet yang mampu menarik tim penguji Avepress.
Jangan salah! Seleksi menjadi bagian dari Avepress tak kalah sulit jika dibandingkan proses untuk bekerja di BIN. Tes pengetahuan, uji ketahanan fisik, hingga proses pendewasaan mental diberikan dengan tingkat agresifitas yang cukup tinggi. Dari 27 peserta yang mengikuti berbagai tahapan. Akhirnya hanya tiga orang yang dirasa layak menjadi bagian utama dari Avepress.
Pada babakan menulis di Avepress, sengaja dari awal diminta untuk menekankan pada kebebasan dalam berkomentar. Karenanya, fokus utama adalah resensi film dan buku yang didalamnya disisipkan komentar untuk isi ataupun hubungannnya dengan kondisi kekinian. Perlahan berjalan, kemudian didapati titik jenuh yang mendetailkan perlunya keberadaan karya yang beragam.
Oleh Presdir, beberapa tulisan dikatakan memiliki warna yang hampir sama antara satu penulis dengan penulis lainnya. Akhirnya, setelah rapat redaksi yang cukup alot. Sebuah strategi baru dimunculkan untuk menghindari homogenitas tulisan. Rubrik yang ditampilkan kini diabsahkan untuk memperbanyak keberagaman warna tulisan tanpa mengurangi esensi komentar dan kebermanfaatan keilmuan.
Sebelumnya, dalam perwujudan perundang-undangan Avepress, tidak ada niatan lain selain berbagi informasi kepada para khalayak umum. Namun, seiring waktu berjalan, didapati fakta yang cukup mencengangkan. Tatkala artikel norak macam Kemiripan Vicky Prasetyo dan Lionel Messi muncul, sebuah gambaran jelas terpampang dari psikologi pembaca masyarakat Indonesia.
Maksudnya? Dari beberapa artikel, termasuk artikel tersebut. Analisis yang dilakukan pada rapat redaksi merumuskan sebuah kesimpulan bahwa masyarakat lebih menyukai genre tulisan yang dipenuhi dengan humor. Selain itu, masyarakat Indonesia juga dapat diamini sebagai masyarakat yang menyukai film-film erotis. Film yang dalam beberapa scene menampilkan adegan-adegan panas. Hal ini dapat terlihat dari resensi film The Gigolo yang memuncaki puncak klasemen di Avepress maupun di Google.
Itulah beberapa peristiwa paling bersejarah yang pernah terjadi di Redaksi Avepress selama tahun 2015. Sebenarnya, ada beberapa peristiwa lain yang juga pernah terjadi. Namun, oleh pihak redaksi tidak disebarluaskan karena termasuk dalam ranah sensitif dan hanya dijadikan konsumsi dapur Avepress.
Kami segenap jajaran awak Avepress mengucapkan selamat tahun baru 2016. Semoga senantiasa diberikan kemudahan. Terus berkarya. Abadikan diri dan orang lain dengan tulisan. Bukan dengan foto selfie tanpa aturan.
Menulis dan mengajak yang lain untuk menulis adalah cara kami untuk terus belajar. Ada sedikit harapan barangkali apa yang kami sajikan dalam media ini juga bisa menjadi inspirasi bagi siapapun.
Mendisiplinkan anak bukan hanya tentang memberikan hukuman, melainkan sebuah sistem pengajaran peril...
Sudah menjadi hobi para Mahasiswa jika berburu takjil dan nasi gratis di bulan Ramadhan. Banyak masj...
Pak Kret, Thailand, menjadi saksi penyelenggaraan turnamen bergengsi Piala Thomas dan Uber 2018. Tur...
Sejarah dunia modern telah akrab dengan peristiwa terorisme. Aksi-aksi peledakan, penyerbuan, penyer...
Malang – Sektor inovasi wisata dan pertanian pada level desa semakin bergeliat pada era pasca ...
Sektor pertanian kini sedang berada di persimpangan jalan. Sebagai penopang hajat hidup sebagian bes...

Belum ada komentar.