AveSticker

Kenduri Malam 1 Syawal

Sep 27 20101.247 Dilihat

Kula nuwun…… seorang berpeci sambil mengetuk pintu, sesaat seorang laki-laki paruh baya keluar dari ruang dalam seraya menjawab …monggo…pinarak. Inggih..matur nuwun. Pak  kulo aturi kajatan duateng griyo kulo, orang yang berpeci yang ternayata adalah tetangga pemilik rumah yang hendak mengundang kenduri dirumahnya.

Sepenggal  dialog tersebut diatas merupakan bahasa khas warga dikampung ketika mengundang tetangganya ketika punya hajat atau kenduri (kenduren). Kebiasaan seperti ini sudah menjadi tradisi yang berlangsung puluhan tahun yang lalu. Dipimpin oleh seorang ustad atau sesepuh biasanya ritual seperti kenduri seperti ini dilakukan disuatu tempat atau bahkan bergiliran tempat dari rumah – rumah. Tergantung momentumnya, jika hajatan atau kenduri ini dimaksudkan oleh seseorang untuk sodaqoh kirim do’a yang ditujukan untuk leluhurnya, maka  sebelum kenduri biasanya dibacakan sholawat nabi atau populernya disebut  tahlilan kemudian dilanjutkan do’a.

Do’a khidmat yang dibaca oleh ustad atau sesepuh, di amini oleh para hadirin  secara serempak seraya menengadahkan kedua tangannya. Kemudian salah satu dari undangan biasanya bertugas membagi masakan yang dihidangkan oleh tuan rumah, untuk kemudian dibawa pulang sebagai oleh-oleh atau berkat.

Ada beberapa model atau cara kenduri khususnya dalam rangka peringatan hari Idzul Fitri 1 Syawal. Pertama dibeberapa tempat atau kampung melakukan kenduri secara bergantian dari rumah kerumah tetangga yang menjadi kelompok atau satu lingkungan kecil. Cara seperti ini sebagai upaya untuk saling mengunjungi tetangganya, selain juga diyakini bahwa rumah yang sering dido’akan secara jamaah akan membawa berkah dari Allah SWT. Artinya ada nilai kerukunan, kebersamaan, penghargaan atas sesamanya dan masih banyak hal posostif lainnya yang dapat diambil dari kenduri ini.

Selain cara di atas, ada pula yang melakukan kenduri atau syukuran dengan berkumpul di satu tempat yang telah disepakati. Tempat yang dipilih biasanya adalah tempat ibadah ( mushola, masjid ) atau balai RW. Namun bermacam cara kenduri yang berlaku dimasyarakat, agaknya inilah kekayaan budaya kita yang mungkin tidak dipunyai oleh negara lain. Satu ciri khas kebersamaan dan sikap toleransi yang tinggi yang ada dimasyarakat negeri ini yang sangat layak untuk tetap dilestarikan.

Share to

Alumni S-2 FIA Univ. Brawijaya Malang. Berorganisasi di KOMDEK Malang, Averoes Community, Lakpesdam NU Kota Malang s/d GP ANSOR Jawa Timur. Pernah bekerja di Panwaslu Kecamatan 2008, Pimred Pandanwangi Newsletter 2010, Jurnalis NIMD Belanda & KID Jakarta, Komisioner KPU Kota Malang 2009-2014, Dewan Riset Daerah Kota Malang dll

Topik Terkait

Penjara Sukma Angling Dharma (Episode 45...

by Apr 16 2026

Produksi: Genta Buana PitalokaPemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Meil...

Review Film Tunggu Aku Sukses Nanti; Leb...

by Apr 04 2026

Ada yang selalu terasa sedikit menegangkan dari ruang tamu saat Lebaran: bukan karena kursinya kuran...

Ilmu Pencuri Pikiran (Episode 44)

by Mar 05 2026

Produksi: Genta Buana PitalokaPemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Meil...

Kesaktian Tanah Tamasimaya (Episode 43)

by Feb 27 2026

Produksi: Genta Buana PitalokaPemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D., Suzanna Mei...

Kesaktian Khasmala (Episode 42)

by Feb 25 2026

Produksi: Genta Buana Pitaloka Pemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Mei...

Kembalinya Pangeran Halemu (Episode 41)

by Feb 21 2026

Produksi: Genta Buana Pitaloka Pemain: Anto Wijaya, Candy Satrio, Roy Jordy, Errina G.D, Suzanna Mei...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top