AveSticker

Sunan Ampel Wafat Tetapi Menghidupi yang Hidup

Oct 25 2010736 Dilihat

Raden Ahmad Rahmatullah yang biasa dikenal dengan Sunan Ampel, seorang pemimpin wali songo generasi kedua setelah Syeh Maulana Malik Ibrahim. Beliau lahir di Campa, Kerajaan di Negeri Thailand 1401 masehi.  Menurut beberapa versi Beliau datang ke Ampel Denta pada tahun 1440 Masehi, sebelumnya singgah di Palembang selama 3 tahun.  Beliau menerima hadiah tempat dari Kerajaan Majapahit daerah di Ampel Denta (Surabaya Utara) kemudian dikembangkan mendirikan pesantren. Pesantren Ampel dijadikan tempat berdakwah di Jawa oleh Sunan Ampel untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Awalnya beliau merangkul masyarakat sekitar. Pesantren ini berkembang menjadi tempat pendidikan berpengaruh di nusantara bahkan mancanegara. Beliau yang mengenalkan istilah “Moh Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina”. Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

Makam beliau sampai sekarang diziarahi kaum muslim mulai dari nusantara sampai mancanegara. Akses pintu masuk pelataran Ampel ada dua sisi timur dan selatan. Sebelum masuk pintu pelataran Ampel, peziarah melewati pasar Ampel, baik dari sisi timur maupun dari sisi selatan. Ratusan pedagang mulai dari aksesoris, pakaian, makanan, samapi minyak wangi jadi satu di pasar Ampel. Setiap hari pasti ada peziarah yang datang, artinya potensi konsumen besar. Apalagi dihari Kamis malam Jum’at, peziarah membanjiri peziarah dengan berbagai tujuan. Mereka mencari penghidupan di Ampel. Berkah Sunan Ampel bisa dirasakan oleh masyarakat di sekitar makam. Sunan Ampel menghidupi orang disekitar dengan berkah kewalian beliau. Banyak orang datang  dari daerah luar untuk “sowan” ke Sunan Ampel, yang membutuhkan kebutuhan hidup yang disediakan masyarakat sekitar. Sunan Ampel sudah meninggal 500 tahun yang lalu namun beliau masih menghidupi orang-orang yang hidup disekitarnya. Hal ini penjelasan logika ungkapan bahwa sejatinya wali itu hidup.

Salah satu pelajaran yang didapat dari Sunan Ampel kemanfaatan manusia untuk sekitar. Sampai meninggal kemanfaatan bagi sekitar sangat terasa. Kita yang masih hidup diberikan ibrah (pelajaran) dari fenomena yang terjadi di Ampel. Sesuai sabda Rasulullah SAW “Khairunnas anfa’uhum linnas” “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaat bagi orang lain”. Bagaimana dengan kita yang masih hidup? Sudahkan kita bermanfaat bagi lingkungan sekitar? Atau malah menjadi beban lingkungan sekitar. Semoga kita bisa bermanfaat selama hidup dan sepeninggal kita.

Sumber foto : http://teambulls.wordpress.com/2010/09/dan http://wirawardani.blogspot.com

Share to

Alumni Universitas Brawijaya Malang, tinggal di Jakarta

Topik Terkait

Tangi (3)

by Feb 15 2026

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...

Tangi (2)

by Feb 12 2026

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Tangi (1)

by Feb 10 2026

Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (3)  

by Feb 09 2026

Keliling Kampung, Menuai Kebersamaan Langit di Desa Miau Baru Kecamatan Kongbeng pada Kamis malam (3...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (2)  

by Feb 07 2026

Menari Laksana Enggang, Melenggok Laksana Bidadari Setiap daerah memiliki tarian tersendiri, dengan ...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (1)  

by Feb 05 2026

Perahu Naga, Kisah Tentang Kekuatan dan Kesetiaan Nenek Moyang Suku Dayak Kayan Suatu pagi. seusai p...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top