AveSticker

Sunan Ampel Wafat Tetapi Menghidupi yang Hidup

Oct 25 2010887 Dilihat

Raden Ahmad Rahmatullah yang biasa dikenal dengan Sunan Ampel, seorang pemimpin wali songo generasi kedua setelah Syeh Maulana Malik Ibrahim. Beliau lahir di Campa, Kerajaan di Negeri Thailand 1401 masehi.  Menurut beberapa versi Beliau datang ke Ampel Denta pada tahun 1440 Masehi, sebelumnya singgah di Palembang selama 3 tahun.  Beliau menerima hadiah tempat dari Kerajaan Majapahit daerah di Ampel Denta (Surabaya Utara) kemudian dikembangkan mendirikan pesantren. Pesantren Ampel dijadikan tempat berdakwah di Jawa oleh Sunan Ampel untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Awalnya beliau merangkul masyarakat sekitar. Pesantren ini berkembang menjadi tempat pendidikan berpengaruh di nusantara bahkan mancanegara. Beliau yang mengenalkan istilah “Moh Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina”. Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

Makam beliau sampai sekarang diziarahi kaum muslim mulai dari nusantara sampai mancanegara. Akses pintu masuk pelataran Ampel ada dua sisi timur dan selatan. Sebelum masuk pintu pelataran Ampel, peziarah melewati pasar Ampel, baik dari sisi timur maupun dari sisi selatan. Ratusan pedagang mulai dari aksesoris, pakaian, makanan, samapi minyak wangi jadi satu di pasar Ampel. Setiap hari pasti ada peziarah yang datang, artinya potensi konsumen besar. Apalagi dihari Kamis malam Jum’at, peziarah membanjiri peziarah dengan berbagai tujuan. Mereka mencari penghidupan di Ampel. Berkah Sunan Ampel bisa dirasakan oleh masyarakat di sekitar makam. Sunan Ampel menghidupi orang disekitar dengan berkah kewalian beliau. Banyak orang datang  dari daerah luar untuk “sowan” ke Sunan Ampel, yang membutuhkan kebutuhan hidup yang disediakan masyarakat sekitar. Sunan Ampel sudah meninggal 500 tahun yang lalu namun beliau masih menghidupi orang-orang yang hidup disekitarnya. Hal ini penjelasan logika ungkapan bahwa sejatinya wali itu hidup.

Salah satu pelajaran yang didapat dari Sunan Ampel kemanfaatan manusia untuk sekitar. Sampai meninggal kemanfaatan bagi sekitar sangat terasa. Kita yang masih hidup diberikan ibrah (pelajaran) dari fenomena yang terjadi di Ampel. Sesuai sabda Rasulullah SAW “Khairunnas anfa’uhum linnas” “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaat bagi orang lain”. Bagaimana dengan kita yang masih hidup? Sudahkan kita bermanfaat bagi lingkungan sekitar? Atau malah menjadi beban lingkungan sekitar. Semoga kita bisa bermanfaat selama hidup dan sepeninggal kita.

Sumber foto : http://teambulls.wordpress.com/2010/09/dan http://wirawardani.blogspot.com

Share to

Alumni Universitas Brawijaya Malang, tinggal di Jakarta

Topik Terkait

Afrika Tidak Kehilangan Bakat, Afrika Ke...

by Jun 28 2026

Ketika membahas sepak bola Afrika, orang biasanya memulai dari tempat yang sama. Federasi yang beran...

Diantara Menjadi Dokter, Notaris, Atau G...

by Jun 18 2026

Di ruang rawat inap VVIP Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie (AWS), Samarinda. Nampak belasan orang me...

Ketika Diskusi Dibubarkan: Kampus, Demok...

by Jun 17 2026

Kemarin, sepulang dari kegiatan Pra Muscab IKA PMII di Malang, saat sedang scrolling media sosial se...

Ketika Satir Menjadi Popularitas: Dari M...

by Jun 02 2026

Dalam beberapa hari terakhir, ada satu lagu yang terus berulang terdengar di telinga saya. Anak saya...

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

JAWARA

by Mar 13 2026

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top