Ronall J Warsa • Jan 08 2026 • 486 Dilihat

Bunyi letusan senjata api laras panjang, membahana ke seantereo hutan. Menggetarkan nyali tiap orang di suku Bentian. Nampak sesosok tubuh menggelepar kesakitan di balik semak-semak.
Diikuti teriakan histeris, para perempuan serta anak-anak kecil. Tunggang langgang, ratusan pasang kaki terhambur ke segala arah. Menyelamatkan diri dari amuk puluhan pemburu, yang tiba-tiba mengepung dari atas penjuru bukit.
Kakek Jafron lantas memberikan perintah, “Kalian semua, cepat pergi dari lembah ini! Karena saat ini, tidak bijak untuk menyerang balik para pemburu.”Sembari berlari. Aku membenarkan apa yang jadi keputusan kakek. Dua puluh orang pemburu bersenjata lengkap, dengan posisi menembak yang strategis. Jelas membuat upaya perlawanan balik, hanya menjadi kesia-sian belaka.
Seorang lelaki bertubuh besar, berusaha mencegat upayapelarianku bersama Amid, Baen, dan Abas. Namun sebelum, pemburu itu sempat mengarahkan moncong senjata api ke dada. Kakek Jafran keburu menerjang, membuat pemburu tersebut jatuh tersungkur tak bergerak.
“Kalian terus saja berlari ke arah selatan. Jangan berbalik ke arah timur, apalagi menuju bibir pantai. Itu sama saja kalian menyerahkan diri pada puluhan pemburu,” perintah kakek. Sembari tangannya melempar, beberapa tombak yang terbuat dari tanduk tajam.
Walau napas tersengal-sengal. Kami berempat terus berlari, menghindari peluru tajam yang melesat cepat membabi-buta. Melintasi rawa gambut dipenuhi eceng gondok. Tidak peduli
tatapan tajam, dari buaya-buaya lapar yang begitu tenang mengintai di kala petang menjelang.
“Kawan-kawan bantu aku,” teriak Baen. Nampak ia begitu panik ketakutan. Tubuhnya terperosok dalam lubang, sedalam pinggang orang dewasa. Berada pada posisi paling depan.
Lantas ku tahan, langkah kaki kawanku lainnya. “Berhenti, kita bantu Baen terlebih dahulu.” Lalu kami menghampirinya, yang tertinggal sekitar dua puluh lima meter di belakang. Beruntung walau malam, sinar rembulan masih mampu memperlihatkan wajahnya yang meringis menahan sakit.
Amid dan Abas, segera mencoba mengangkat tubuhnya dari sisi depan. Sementara aku, menopang tubuh Baen dari belakang. “Kita tetap berjalan ke arah selatan. Walau kali ini lebih pelan, namun jangan dulu berhenti di area yang di penuhi buaya ini,” ucapku.
Kami telah terpisah amat jauh, dari sebagian besar anggota suku. Setelah sebelumnya, menyaksikan pertarungan sengit antara kakek dan tiga orang pemburu. Beliau mampu mengatasi, beberapa serangan menggunakan tangan kosong dengan gesit. Namun keburu senjata api itu, melesatkan beberapa butir timah panas ke punggung dan dada kakek. Sehingga membuat lelaki tangguh tersebut, roboh terkapar tak bernyawa. Terngiang-ngiang pesan kakek. Ketika ujung daging, kami berempat dikhitan beberapa bulan lalu. “Jika suatu saat kampung kita, diobrak-abrik para pemburu. Kalian semua berlari saja menghindar, menuju ke arah selatan,” pesannya.
“Kenapa harus berlari, bukankah kita suku petarung. Wajib bagi kita untuk melawan, apabila hak kita diganggu gugat?” tanyaku. “Bersenyaplah, pada masa itu. Belum saatnya kalian bertindak.
Akan tiba pertanda dari alam, yang memberikan kalian pentunjuk untuk bangkit melawan,” ujar kakek sembari mengusap jenggot tebalnya.
Tak lama kemudian, Amid meminta kepada kami bertiga untuk beristirahat. “Kita beristirahat di sekitar bebatuan besar itu,” pintanya. Kami lantas menyetujinya. Abas lalu melangkah mencari rerantingan pohon, lalu kemudian menyalakan api unggun kecil. Digelarnya kain sebagai alas, sehingga dapat menopang kepala kami berempat. Malam semakin gelap, membuat tubuh-tubuh para lelaki tanggung itu terlelap pulas.
***
Beberapa bulan sebelum penyerangan yang dilakukan para pemburu ke warga kampung. Beberapa kali mereka berpapasan dengan kami. Saat musim berladang sayuran berlangsung.
Memanggul potongan balok-balok kayu, mereka melintas dengan angkuh tanpa permisi. Tidak hanya satu buah pohon, namun ribuan pohon. Luas wilayah yang mereka rambah, lebih dari puluhan hektar jumlahnya. Itu membuat darah kami mendidih, bergejolak menahan amarah.
Kepala Suku Bentian, yang tiada lain tiada bukan ialah Kakek Jafron. Berusaha menahan amarah warga kampung, atas aksi berlebihan dari para pemburu. Ia selalu meminta kami bersabar, serta tidak bertindak gegabah.
“Aku percaya kalian semua, mampu menundukkan para pemburu itu. Namun aku mengkhawatirkan keselamatan, wanita dan anak-anak kecil di suku kita.” Dengan bola mata menukik tajam seperti elang. Kakek lantas memperingatkan para ksatria suku. “Mereka semua terlalu banyak dan tidak berdaya. Jumlah lelaki dewasa di suku kita. Terlalu sedikit untuk dapat melindungi semuanya.” Lalu seluruh kelompok dibawanya menjauh, dari para pemburu.
Belum jauh kami melangkah pergi. Nampak seorang pemburu jatuh tersungur, bersama balok-balok yang dipikulnya. “Aaacchh…” Siku tangan kanan pemburu, bergeser jauh dari poros awal.
Semua memandang dari kejauhan, tanpa satupun yang hendak membantu.Selain menjaga jarak dan membatasi komunikasi, itu demi keselamatan seluruh warga kampung.
Agar tidak dikira oleh rekan-rekan pemburu tersebut, sebagai penyebab
jatuhnya seseorang diantara mereka. “Pemburu itu kena tulah. Akibat merusak alam dengan semena-mena, tanpa memperdulikan kelangsungan hidup makhluk hidup lainnya. Alam murka pada mereka, perlahan tapi pasti akan dapat balasan,” ujar Lana, seorang ksatria suku.
Ia meyakini benar, mengenai pergerakan alam raya yang akan berputar kembali ke poros keseimbangan. Sehingga kejadian yang menimpa pemburu tersebut. Merupakan suatu hal kecil, dari upaya perlawanan alam menuju pembebasan.
***
Walau angin berhembus kencang, disertai menggelindingnya awan hitam tebal dari timur. Telinga Kirai, cukup mampu menangkap gema perbincangan para pemburu dari dalam pondok di tepi hutan. Dari balik rongga dinding kayu, ia melihat para pemburu membersihkan senapan api dan menyiapkan peluru-pelurunya.
“Esok pagi area itu harus segera dibersihkan, dari seluruh suku Bentian. Waktu kita kurang dari sebulan. Sebelum proyek pembangunan wahana misteri, terbesar dan termegah di negeri ini berlangsung,” jelas pria berkumis tebal. Disaksikan oleh puluhan orang yang duduk, melingkar di depan meja makan dari kayu.
“Bagaimana jika nanti, ada korban jiwa Bos?” tanya pemburu berbadan kecil. “Betul sekali! Bukankah kawasan ini dijaga dan diawasi ketat, oleh pihak penjaga hutan,” tambah pemburu lainnya.
“Tidak usah khawatir soal itu. Tugas utama kalian ialah menyingkirkan mereka semua. Urusan selanjutnya, bos besar yang akan mengatur,” ujar pimpinan pemburu. “Orang-orang itu akan tutup mata. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Maka habisi semua,” tegasnya meyakinkan pemburu-pemburu lain.
Diluar hujan lantas deras, mengguyur seluruh hamparan hutan. Menyebabkan pergerakan Kirai, tidak terdeteksi oleh mereka yang didalam pondok. Besama dengan sambaran petir, ia lantas memilih untuk segera memberitahukan kabar penting itu ke warga kampung.
Ketukan tangan berulang-ulang kali, menggetarkan dinding pondok yang terbuat dari anyaman bambu. Tak lama berselang, suara langkah kaki dari dalam terdengar menuju pintu. “Kenapa tengah malam buta, kau menggedor pintu begitu keras dan tergesa-gesa?” ucap kakek, sembari mempersilahkan Kirai untuk masuk. Belum sempat dijawabnya, keburu kakek menyodorkan segelas air untuk diminum olehnya.
Usai menegak habis segelas air. Kirai lantas berkata, “Kakek! Segera kabarkan ke seluruh penduduk kampung. Para pemburu ingin menghancurkan pemukiman kita. Mereka berencana menghabisi kita semua jika melawan, tidak perduli lelaki maupun perempuan.”
Walau terkejut mendengar perihal yang disampaikan cucunya. Kakek, lantas meyakinkan kembali mengenai kabar tersebut. “Dari mana kau mengetahui kabar itu?” Dengan terbata-bata
Kirai menjawab, “Aku mencuri dengar percakapan para pemburu. Saat melintasi pondok mereka, setelah pulang berladang.”
Tak butuh waktu lama. Bunyi kentungan segera bersahut-sahutan ke tiap penjuru kampung. Membuat sebagian besar penduduk yang sedang tertidur, segera bangun dan bangkit keluar rumah.
Penduduk kampung lantas ramai mengelilingi tempat tinggal kepala suku. Kakek lantas memerintahkan semua lelaki dewasa, mengeluarkan senjatanya masing-masing. Karena kali ini, keberadaan para pemburu mengancam keselamatan seluruh penduduk kampung.
“Segera larikan para perempuan dan anak-anak ke tempat aman. Ingat! Jangan pernah turun ke lembah, sebelum muncul tanda-tanda dari alam,” perintah kepala suku diiringi tangis pilu penduduk.
Belum lama matahari memuncukan wajahnya. Moncong senjata telah mendesis tajam dari kejauhan. Teriakan-teriakan penduduk kampung, mengalun mengiringi tarian perang berdarah-darah itu.
Ujung badik bertanduk, nampak penuh bekas goresan darah berbalut kulit daging yang mengelupas. Beberapa pemburu jatuh tersungkur. Mereka tak mengira, keberanian penduduk kampung sekuat itu. Bunyi tembakan peluru kian memekakkan telinga. Menembus dada, pinggang, punggung, paha, hingga menghujam kedalam otak ksatria suku. Kakek begitu sengit memimpin perlawanan, dengan kilatan tajam mandau begagang tanduk besar. Membuat petempuran itu, begitu suci dan hakiki demi Ibu Pertiwi.
***
Suasana sore itu begitu indah. Rerumputan hijau menjadikan, upaya tenggelamnya sinar matahari makin bersahaja. Bayangan pohon menjulang tinggi meraksasa, jauh mengalahkan wujud aslinya.
Mekar bunga warna-warni berpadu membentuk kecantikan alam, terlebih derasnya air sungai ikut meliuk-liuk membentang dalam wahana misteri. Tawa riang anak-anak silih berganti.
Berlari kecil menyisir tiap jengkal lahan yang dulunya hutan, jadi taman bermain berbayar. Remahan sepotong roti dikerubuti ikan-ikan kecil, membuat takjub mata anak-anak di pinggiran sungai.
Wahana misteri telah berdiri sejak lima tahun lalu. Walaupun demikian, daya tariknya terus memikat tak memudarkan keingintahuan penduduk seantereo negeri. Ramai diperbincangkan orang-orang. Tidak saja di dunia nyata namun juga di dunia maya. Menyedot investasi besar tak terkira, menghasilkan pundi-pundi keuntungan tiada habisnya.
Arena menembak menjadi wahana favorit yang paling disukai oleh pemuda-pemudi, penggemar olahraga ketangkasan. Bagaimana tidak, arena tersebut menghadirkan replika senjata api.
Dengan detail lekuk, warna, berat, getaran, dan desingan peluru. Persis seperti aslinya.Keseruan makin asyik, ketika layar Light Emitting Diode (LED). Menyibakkan suasana hutan tropis hutan Kalimantan. Disusul kemunculan satwa-satwa liar yang memanjakan mata pengunjung.
Bunyi letusan senjata api terdengar keras. Diiringi ringkihan suara hewan besar bertanduk, yang kemudian terjerembab jatuh bersimbah darah. Sensasi menyenangkan dan mendebarkan bagi mereka penyuka adrenalin tinggi. Melihat darah muncrat membasahi daun-daun kering, disekitar tubuh binatang yang menggelepar kesakitan.
Arah moncong senjata lalu diarahkan pada satwa berkaki empat lainnya. Begitu anggun ia berdiri diatas tebing bebatuan, dekat air terjun yang ditampilkan melalui layar. “Doorrr” bunyi letusan senjata api disusul sensasi suara dan getaran jatuhnya rusa bekulit coklat dengan tanduk tinggi menjulang. Terhempas jatuh ke dasar air terjun.
“Sungguh menyenangkan sekali perburuan di arena menembak ini. Jujur aku menikmatinya, mengingatkanku saat kita membuka lahan di area ini dulunya,” ungkap Sastro penuh semangat.
“Kau tidak boleh melupakan, dari mana asal kesejahteraan kita. Semua berkat perburuan dan penebangan pohon pada masa itu,” balas Benny.
“Minggu depan segera bergerak, kita sudah harus membereskan persoalan lahan di area hutan adat,” ujar Sastro mengingatkan. Lalu mereka berjalan menyerahkan senjata, pada petugas arena menembak.
Mereka lantas menuju booth penjual makanan cepat saji. Dimana terdapat sajian daging khas buruan, dengan berbagai varian rasa. Begitu lahap Sastro dan Benny mengunyah daging bakar, berlapis roti yang diolesi saus cabe serta mayones
***
Di depan keduanya, terdapat empat ekor rusa bertanduk coklat besar. Tiga diantaranya terlihat lebih banyak diam termenung di sudut kandang. Bola mata mereka menyiratkan, kehabisan semangat hidup. Hanya seekor rusa yang begitu beringas, tak mau tenang di dalam kandang. Ia terus mendengus, sembari mengarahkan tanduk tajamnya ke dinding kawat tebal.
“Kedua orang itu nampak membicarakan kita. Terutama lelaki yang berambut keriting di sebelah kiri,” ungkap Amid, pada kawan-kawannya. Abas yang duduk disebelahnya, lantas mendengus.
“Sepertinya mereka tertarik dengan keberadaan kita. Hanya kita berempat, suku Bentian yang tersisa di wahana misteri ini.”
Baen tetap terdiam di tengah-tengah pembicaraan itu. Ia membisu semenjak ditangkap dan dimasukkan dalam kandang, beberapa tahun lalu. Dipojok kanan kandang, dengan peluh yang mengucur deras bersama air liur yang keluar dari mulut. Kirai nampak bersikeras, membongkar kawat tebal dari besi penyangga.
Selang beberapa menit kemudian. Lelaki berambut keriting nampak terhuyung-huyung. Sembari memegang kulit perutnya yang robek. Namun upayanya sia-sia, darah terlalu banyak keluar akibat tikaman tanduk tajam.
Puluhan penjaga wahana misteri, segera menghampiri lokasi terjadinya insiden rusa mengamuk. Berlarian mereka menenteng senter, dimana beberapa orang membawa tali tambang. Sirine tanda bahaya berbunyi keras, setelah informasi mengenai tragedi manusia ditanduk rusa tersiarkan lewat Handy Talky.
Kawat tebal yang selama ini membatasi tindak-tanduk rusa, dengan lingkungan di sekitarnya kini telah jebol. Menyisakan gumpalan kawat dan rerumputan kering di dalam kandang. Empat ekor rusa telah menghilang, walaupun meninggalkan jejak langkah di permukaan tanah. Setelahnya jejak hewan berkaki empat tersebut, tak terendus lagi. Karena permukaan tanah telah berubah menjadi jalan cor beton, mengarah ke jalur antar kota dan provinsi.
“Alam telah memberikan tanda bagi kita untuk melawan. Lihat bulan purnama yang memerah darah di atas sana. Itu tandanya kita harus menuju ke selatan, untuk menemukan kehidupan baru,” tukas Kirai pada kawan-kawannya.
“Bukankah kita harus bergerak melawan, serta membalas perbuatan para pemburu pada suku kita?” tanya Amid. “Kita harus menjalankan amanah kakek. Itu yang terpenting saat ini. Untuk dendam atas perbuatan mereka. Sementara waktu telah terbalaskan, dari robeknya perut pria berambut keriting itu. Ia salah-satu pemburu yang menghancurkan kampung kita,” balas Kirai.
Abas merangkul kawan-kawannya. “Kita menepi di selatan, sembari menumbuhkan dan menajamkan tanduk-tanduk terlebih dahulu. Mengumpulkan kawanan suku Bentian lainnya, dan memulai peradaban dengan cara kita,” ajaknya menenangkan gejolak amarah kebinatangan mereka.
Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com
Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...
Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...
Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...
Keliling Kampung, Menuai Kebersamaan Langit di Desa Miau Baru Kecamatan Kongbeng pada Kamis malam (3...
Menari Laksana Enggang, Melenggok Laksana Bidadari Setiap daerah memiliki tarian tersendiri, dengan ...
Perahu Naga, Kisah Tentang Kekuatan dan Kesetiaan Nenek Moyang Suku Dayak Kayan Suatu pagi. seusai p...

Belum ada komentar.