AveSticker

Soetandyo Wignjosoebroto: Manusia Berstatus Warga dalam Kehidupan Bernegara Bangsa

Mar 13 2015941 Dilihat

Prof Soetandyo Wignjosoebroto

Judul: Sejarah dan Budaya Demokrasi: Manusia Berstatus Warga dalam Kehidupan Bernegara Bangsa
Penulis: Saiful Arif dan Heri Setiyono
Pengantar: Soetandyo Wignjosoebroto
Penerbit: Averroes Press
Seri: Buku Seri Demokrasi ke-23
Tahun: 2013
Tebal: 93
ISBN: 9793997036

Mengembangkan konsep demokrasi memang bukan merupakan pekerjaan ringan. Ini dilandasi alasan bahwa demokrasi memerlukan komitmen dari segenap komponen pemerintah, birokrasi, dan masyarakat luas.

Membangun Simpul Demokrasi

Begitu pun dengan membangun simpul demokrasi di segenap lokalitas daerah. Namun, sesungguhnya membangun simpul demokrasi masih relatif lebih mudah dibanding memperkuatnya sehingga ia bisa bertahan lebih lama dan mengakar di segenap lapisan kehidupan. Upaya memperkuat demokrasi juga membutuhkan kekuatan dan kesolidan elemen masyarakat dan komunitas bersangkutan.

Demokratisasi bisa diciptakan melalui forum-forum warga, misalnya forum permusyawaratan desa. Forum permusyawaratan desa yang biasanya disebut forum rembug desa biasanya disebut sebagai adat demokratis yang paling ‘asli’ (genuine) di desa. Namun dalam kenyataannya, forum ini lebih banyak menjadi sarana sosialisasi kebijakan daripada menjadi semacam forum dengar pendapat (public hearing) untuk menyerap aspirasi masyarakat.

Seringkali proses demokrasi di desa ini dintervensi oleh kelompok-kelompok kepentingan tertentu untuk melakukan mobiolisasi massa, karena umumnya desa berkarakteristik paguyuban yang mudah diarahkan. Hal inilah yang menjadi permasalahan pelaksanaan demokrasi di desa. Dalam hal kebijakan pembangunan fisik, mayoritas keputusan untuk membangun fisik desa lebih banyak ditentukan oleh kepala desa, baik melalui penunjukan langsung maupun musyawarah untuk menyetujui usulan kepala desa.

Nilai Universal Demokrasi

sejarah dan budaya demokrasi soetandyoDemokrasi memiliki nilai-nilai universal yang bisa disejajarkan dan diterapkan bersama-sama dengan nilai-nilai yang berkembang di tingkat lokal. Untuk mencapai harapan pertumbuhan tingkat demokratisasi seperti yang tersebut, di atas, salah satu cara yang paling memungkinkan adalah dengan membuka akses ruang publik seluas-luasnya bagi masyarakat di semua level. Masyarakat kecil yang biasanya seringkali menjadi “korban” utama dalam mendapatkan akses ruang publik perlu diprioritaskan sebagai tingkatan masyarakat yang paling utama dalam mendapatkan akses tersebut.

Syarat berlangsungnya demokrasi secara baik adalah partisipasi masyarakat luas dalam pelaksanaannya. Tidak ada demokrasi yang tidak melibatkan masyarakat secara partisipatif, karena demokrasi mengandaikan keterlibatan penuh masyarakat, mulai dari tingkat perencanaan, konsep, pelaksanaan, pengawasan, hingga proses evaluasinya. Pemerintah dan birokrasi secara kelembagaan berposisi sebagai fasilitator dalam setiap proses dan momen pengejawantahan demokrasi itu sendiri.

Partisipasi selalu membutuhkan kekuatan, kemampuan, dan kemauan masyarakat untuk mengontrol dan melakukan monitoring terhadap setiap kebijakan yang ditelurkan pemerintah. Keikutsertaan dan keterlibatan aktif masyarakat terhadap segala proses yang dilakukan untuk merancang, merencanakan, memusyawarahkan, menolak, menyetujui, atau mengiyakan suatu kebijakan adalah syarat mutlak terwujudnya partisipasi tersebut. Banyak hal bisa ditempuh, misalnya menggelar public hearing, atau dialog masyarakat terbuka, serta pelatihan-pelatihan yang bertendensi partisipasi publik.

Untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam alam demokrasi mau tidak mau juga harus menumbuhkan kesadaran mereka untuk mempunyai rasa ikut memiliki. Kesadaran ini kemudian perlu dipupuk secara intensif melalui banyak medium dan kesempatan dalam rangka membiasakan masyarakat menjadi elemen penting dalam kehidupan komunalnya.

Buku Seri Sekolah Demokrasi ini mengangkat topik penting yang kerap diabaikan, yakni sejarah dan budaya demokrasi. Untuk melahirkan suatu demokrasi yang berbasis pada budaya masyarakat, perlu pembelajaran dan refleksi mendalam dari mana dan mengapa demokrasi lahir dan tumbuh.

Catatan pengantar Prof Soetandyo (almarhum, al-fatihah) dalam buku ini memaparkan secara ringkas dan tepat bagaimana sejarah manusia yang semula hanyalah merupakan budak sahaya lalu berkembang menjadi sosok warga yang memiliki hak dan kewajiban dalam berbangsa dan bernegara. Tulisan tersebut sekaligus sebagai tanda pisah kenang dengan almarhum, sosoknya sebagai guru yang sangat bijak mengajarkan nilai-nilai demokrasi, khususnya dalam pembelajaran Program Sekolah Demokrasi yang diselenggarakan Averroes Community dan Komunitas Indonesia untuk Demokrasi.

Gambar feature: https://jawatimuran.files.wordpress.com/2012/05/sutandyo-w002.jpg

Share to

Lahir di Lamongan Jawa Timur. Senang membaca tulisan siapapun

Topik Terkait

Santiago dan Analogi Filsafat Sederhana

by Apr 06 2026

Selama beberapa dekade, The Alchemist karya Paulo Coelho telah menempati ruang unik dalam kesadaran ...

Nyai Pondok! Konseptor SNI Bidang Pangan...

by Mar 03 2026

E fructu arbor cognoscitur. Ungkapan latin yang berarti, “sebatang pohon bisa dikenali dari buahny...

Broken Strings: Luka Sunyi, Kuasa Tersem...

by Feb 15 2026

Ada luka yang tidak lahir dari pukulan, tetapi dari kalimat yang diulang pelan-pelan. Broken Strings...

Pendidikan Islam Berbasis Peradaban: Akt...

by Feb 13 2026

Perkembangan teknologi digital telah menggeser makna pendidikan dari proses pembentukan manusia menj...

Rival, Cinta, dan Luka di Masa Putih Abu...

by Feb 12 2026

IPA dan IPS sering kali dipandang sebagai dua dunia yang tak pernah bisa menyatu. Yang satu dikenal ...

Jejak Kupu-Kupu di Tanah yang Terluka &#...

by Jan 30 2026

Antologi puisi Jejak Kupu-Kupu merupakan terjemahan dari buku bahasa arab berjudul Atsarul Farasyah ...

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top