AveSticker

Pasar Buku Wilis di Kota Malang

Jan 08 202666 Dilihat

Pasar buku Wilis merupakan salah satu tempat penjualan buku terlengkap yang terdapat di Kota Malang. Berbagai lapak menyediakan bermacam-macam buku baik untuk anak kecil sampai pengajar. Ketika penulis sampai, suasana di Wilis pada pukul 15.00 WIB masih sangat sepi pembeli.

Sesampainya disana penulis akan mewawancarai salah satu penjual buku yang sering menjadi langganan bagi mahasiswa maupun dosen. Dia akrab disapa Mas Aan (50 tahun) oleh teman-teman mahasiswa. Dia sudah menjual buku sejak tahun 2009 d Wilis, bahkan sebelum di Wilis sudah menjual buku d Facebook.

“Dalam Bulan Ramadhan ini pembeli sangat sedikit kurang lebih hanya terjual 5-10 buku. Bahkan tidak hanya ketika ramadhan ini, semenjak seminggu sebelum ramadhan ya sudah sepi. Mungkin prediksi saya minggu keempat ramadhan yang ramai seiring dengan orang luar yang keluar atau masuk Malang”.

Menurutnya segmen penjualannya adalah kepada mahasiswa yang aktif di organisasi, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan para aktivis. Karena menurutnya sangat menyenangkan bisa berdiskusi dengan mahasiswa dan bertukar pikiran dengan mereka. Buku yang dijual sangat variatif, akan tetapi kebanyakan buku atau novel yang dijual adalah lebih mengerah ke isu-isu sosial.   

“Saya tidak terlalu mempermasalahkan pembeli yang terkadang membeli buku tidak asli. Meskipun saya sendiri sangat menganjurkan untuk beli asli, yang penting mau baca. Karena buku asli tergolong mahal, sedangkan uang mereka tidak cukup untuk membeli yang asli,” tuturnya.

Sementara itu Aan menilai bahwa pemerintah belum mampu mengatur mengenai bagaimana efektifitas peningkatan literasi. Program seperti taman pintar, duta literasi atau kampanye literasi itu belum efektif. “saya sangat berharap pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang pasti, bahkan kalau perlu masyarakat secara luas dipaksa untuk membaca. Selan itu kami juga berharap penulis tidak dikenakan pajak penghasilan, dan juga perlu subsidi kertas agar buku bisa terbeli oleh masyarakat,” ujarnya dalam wawancara pada Rabu (13/4/2022).

Penulis: Faizal Gamar Irvany (peserta Short Course Citizen Jurnalist)

Share to

Topik Terkait

Tangi (3)

by Feb 15 2026

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...

Tangi (2)

by Feb 12 2026

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Tangi (1)

by Feb 10 2026

Dua sosok lelaki tua, tiba-tiba mendekati tubuh Niero yang terbaring tak berdaya. Mereka berteriak t...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (3)  

by Feb 09 2026

Keliling Kampung, Menuai Kebersamaan Langit di Desa Miau Baru Kecamatan Kongbeng pada Kamis malam (3...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (2)  

by Feb 07 2026

Menari Laksana Enggang, Melenggok Laksana Bidadari Setiap daerah memiliki tarian tersendiri, dengan ...

Merajut Budaya Menjaga Tradisi (1)  

by Feb 05 2026

Perahu Naga, Kisah Tentang Kekuatan dan Kesetiaan Nenek Moyang Suku Dayak Kayan Suatu pagi. seusai p...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top