AveSticker

Jejak Kupu-Kupu di Tanah yang Terluka – Membaca Mahmud Darwish dari Kacamata Ekokritik

Jan 30 202618 Dilihat

Antologi puisi Jejak Kupu-Kupu merupakan terjemahan dari buku bahasa arab berjudul Atsarul Farasyah milik Mahmoud Darwish. Di dalamnya, Darwish tidak sekadar menulis tentang keindahan alam atau kerinduan pribadi. Ia menghadirkan alam sebagai ruang kenangan, tempat luka sejarah bersemayam, sekaligus saksi bisu dari kehidupan manusia yang terus terasing dari tanahnya sendiri. Kupu-kupu, tanah, cahaya, dan langit dalam puisi-puisi Darwish bukan ornamen puitik belaka, melainkan bahasa halus untuk menyampaikan hubungan rapuh antara manusia dan lingkungan.

Kupu-kupu, dalam imajinasi Darwish, meninggalkan jejak yang nyaris tak terlihat, namun kehadirannya tetap terasa. Ia menjadi metafora hubungan manusia dengan alam: ringan, sementara, tetapi sarat makna. Alam hadir bukan sebagai latar yang pasif, melainkan sebagai entitas kehidupan yang ikut merasakan kehilangan, pengusiran, dan kerusakan. Dalam konteks ini, puisi Darwish dapat dibaca sebagai kritik diam terhadap cara manusia memperlakukan ruang hidupnya sendiri.

Jika dibaca melalui perspektif ekokritik sastra khususnya pada gagasan Lawrence Buell, Jejak Kupu-Kupu menunjukkan bahwa sastra mampu menghadirkan alam sebagai subjek yang memiliki nilai intrinsik. Darwish tidak memposisikan alam untuk melayani kepentingan manusia, tetapi menempatkannya sejajar dengan pengalaman kemanusiaan. Kerusakan lingkungan dalam puisi-puisinya berjalan beriringan dengan hilangnya identitas, ingatan, dan rasa memiliki terhadap tanah.

Yang menarik, Darwish tidak menyampaikan kritik ekologis secara lantang atau sloganistik. Ia memilih jalan sunyi: metafora, ketenangan, dan citraan alam yang terluka. Justru melalui kesenyapan pembaca diajak merenungkan. Bahwa penjajahan, pengusiran, dan kekerasan tidak hanya merugikan manusia, tetapi juga memutus hubungan etik antara manusia dan alam. Lukas ekologi dan luka kemanusiaan saling bertaut, tak terpisahkan.

Di tengah krisis lingkungan global hari ini, puisi-puisi Darwish terasa semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa alam bukan sekadar sumber daya, melainkan ruang hidup yang menyimpan memori kolektif. Merusaknya berarti menghapus jejak, bukan hanya jejak kupu-kupu, tetapi juga jejak kemanusiaan itu sendiri.

Membaca Jejak Kupu-Kupu dengan kesadaran ekologis membuka ruang tafsir baru terhadap sastra Arab modern. Puisi tidak lagi berhenti pada keindahan bahasa, tetapi menjadi medium etis untuk menata ulang hubungan manusia dengan alam. Dalam keheningan puisinya, Mahmoud Darwish seakan berbisik: bahwa menjaga alam adalah bagian dari menjaga kemanusiaan.

Share to

“Aku mulai sadar, investasi tak selalu berbunyi koin dan lembaran. tapi pola pikir harus dibentuk sendiri. Maka aku memilih menabung di kepala, sebelum menagih pada semesta.”

Topik Terkait

Ekspedisi Pegunungan Karst Karangan (1) ...

by Jan 25 2026

Mitos Paradise Tersembunyi, Hingga Sejarah Penyebaran Islam di Pedalaman Kaltim Melihat Kutai Timur ...

Mengenal KH Chamzawi Syakur

by Jan 08 2026

Beliau lahir di Sulang Kabupaten Rembang Jawa Tengah pada tanggal 8 Agustus 1951. Istrinya bernama S...

Menjamah Novel Wigati dan Seluk Beluknya

by Jan 08 2026

Penulis novel laris dengan judul “Hati Suhita” ternyata juga memiliki banyak tulisan lainnya. Sa...

Mewujudkan Pribadi Unggul dengan “The ...

by Jan 08 2026

 “Aku bisa karena terbiasa “ adalah sebuah motto yang kerap kali saya dengar ketika kakak tingk...

Aroma Karsa, Keindahan yang Melenakan

by Jan 07 2026

Judul: Aroma Karsa Penulis: Dee Lestari Penerbit: Bentang Pustaka Tebal: 701 Halaman Terbit: Cetakan...

Sosok Rahmah El Yunusiah dalam Perempuan...

by Jan 04 2026

Judul Buku : Perempuan yang Mendahului ZamanPenulis : Khoirul JasmiPenerbit : Republika Tahun Terb...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top