AveSticker

Ekspedisi Pegunungan Karst Karangan (1)  

Jan 25 2026380 Dilihat

Mitos Paradise Tersembunyi, Hingga Sejarah Penyebaran Islam di Pedalaman Kaltim

Melihat Kutai Timur dari dekat, mungkin yang terlintas dari pikiran tiap orang pasti tentang dua hal. Pertama mengenai perkebunan kelapa sawit, lalu yang kedua pertambangan batu bara terbesar di Provinsi Kalimantan Timur maupun Indonesia.

Namun sejatinya ketika anda menelisik ke daerah-daerah pedalaman dan pesisir di kabupaten tersebut. Maka akan banyak anda jumpai, keindahan dan kemegahan alam yang tersembunyi dan seakan-akan hilang oleh pemberitaan media massa.

Pegunungan Karst yang berdiri kokoh dan sambung-menyambung dari Kecamatan Bengalon, Kaliorang, Karangan, hingga ke Sangkulirang. Mampu membuka mata kita semua, dimana paradise yang lama tersembunyi tersebut seakan menggugat kehadirannya sejak ribuan tahun lalu agar kemudian dapat dikenal di Indonesia.

Nampak kendaran melintasi jalur berlumpur tebal untuk menuju lokasi goa.

Bahkan menjadi folklore yang memitologi dalam sudut pandang kebanggan masyarakat Dayak Basaf. Alkisah Karst Mangkuris di Desa Batu Lepoq, Kecamatan Karangan. Terjadi oleh peristiwa magis pada jaman dahulu, dimana sebelumnya daerah itu merupakan daerah dataran dan perbukitan semata.

Penduduk kampung ketika itu, tengah mempersiapkan diri untuk melaksanakan ritual Erau Belian Danyam. Entah mengapa! Di saat bersamaan, beberapa orang pemuda yang bertugas mengurus pelaksanaan ritual tersebut. Malah melakukan senuah pantangan, yakni melanggar adat dengan menyakiti hewan terhormat di pegunungan karst.

Mereka sengaja menyumpit berangan alias monyet, untuk dijadikan hewan peliharaan. Lalu kemudian mendandani hewan itu, dengan pakaian layaknya manusia. Lalu teramat bangganya para pemuda itu, mengarak monyet tersebut mengelilingi kampung di tengah hari.

Beberapa  warga lantas melaporkan perbuatan tersebur ke Kepala Adat. Mengetahui hal tersebut, maka tanpa diduga terlepas kata-kata dari mulut tetua adat. “Sungguh celaka, hal ini akan membawa malapetaka bagi seluruh penduduk kampung. Termasuk merusak kesakralan erau,” ungkapnya pada semua orang di balai adat.

Pak Minggu, bercerita mengenai sejarah yang dituturkan para tetua adat sebelumnya.

Selang beberapa waktu kemudian. Apa yang dikhawatirkan benar-benar terjadi. Masyarakat kampung, termasuk pula perwakilan dari tujuh desa adat lainnya, Menyaksikan dan menerima dampak langsung, akibat tulah melanggar adat. Angin puyuh disertai hujan deras dan petir menyambar-nyambar, memenuhi seluruh wilayah

Bahkan iring-iringan perahu penduduk desa maupun tamu undangan, yang memasuki desa tersebut. Semua tiba-tiba terbalik oleh gelombang sungai yang mendadak mengamuk, menengelamkan daratan lalu hilang tak berbekas.

Menyisakan beberapa perangkat berburu dan memasak milik penduduk. Itu dibuktikan dengan ditemukannya beberapa tembikar hingga potongan besi serupa mandau.

Hal ini diyakini benar oleh masyarakat Dayak Basaf, sebagai peristiwa yang membentuk dinding-dinding bebatuan tua. Seperti yang kita ketahui sekarang, dengan sebutan pegunungan karst. Sejak itulah daerah tersebut dinamai, Desa Batu Lepoq.

Hal ini dituturkan langsung, oleh juru kunci Liang atau Goa Haji dan Goa Tapak Tangan yakni Minggu (43), saat ditemui penulis disekitar lokasi goa. Ia merupakan keturunan Petinggi Adat Batu Lepoq yakni Wangsa Luqahan.

Pemandangan dari bawah bukit.

Diterangkannya, keberadaan kampung serta pemanfaatan goa karst telah berlangsung sejak lama. Yakni sejak jaman Kerajaan Kutai Ing Martadipura, pada masa kakeknya diangkat jadi pemimpin kampung pada tahun 1934 silam.

Hal ini dapat ditarik garis lurus dengan keberadaan makam penyebar agama Islam, utusan kerajaan Kutai. Yang keberadaanya, berada pada jarak ratusan meter sebelum memasuki Liang Haji. Dimana terdapat dua makam berdampingan, yakni makam Ibnu Ali al Mangkurisi dan Siti Fatimah.

“Makam ditemukan secara tidak sengaja, pada saat dilakukan pembukaan lahan. Pada era 90-an PT. Sumalindo menggarap Hutan Tanaman Industri (HTI),” jelas Minggu.

Ketika belasan Bulldozer alias kendaraan alat berat, bergerak meratakan lahan perbukitan yang terbentang luas. Salah-satu unit kendadaan berat, terhenti geraknya karena menabrak sesuatu yang padat. Saat dilihat dari dekat, baru diketahui jika yang ditabrak itu adalah sebuah batu berupa makam tua.

“Saat itu kondisinya sudah tertutup dengan tanah. Namun makam itu, ternyata timbul kembali dan seakan-akan naik kepermukaan tanah untuk minta diketemukan. Maka sejak ditemukan, keberadaanya dipertahankan hingga kini. Mengingat keberadaan kedua makam tersebut, termasuk dalam sejarah syiar perkembangan islam di daerah pedalaman Kalimantan,” jelas Minggu, didampingi Maulana anaknya.

Penulis sendiri merasakan sensasi luar biasa, saat berada di mulut Goa Haji dan Goa Tapak Tangan. Begitu damai dan tentram. Pegunungan karst yang identik keberadaannya ada di pulau Jawa dan Sulawesi, ternyata juga ada di Kalimantan dan menyebar merata di beberapa kecamatan di Kutim.

Jika anda menginginkan wisata alam petualangan maka keberadaan wilayah ini sangat menjanjikan untuk mendapatkan spot-spot wisata sejarah hingga ziarah, ini merupakan paradise yang tersembunyi dan amat layak dikunjungi.

Keberadaan paradise tersembunyi berupa goa-goa dan berbagai wisata pendukung lainnya. Seyogyanya dapat dimaksimalkan, untuk menaikkan kunjungan wisatawan dalam negeri maupun luar negeri ke Kutim.

Dari data Badan Pusat Statistik pada periode 2014-2015 lalu, ada sekitar 8 juta wisatawan asing yang mengunjungi beberapa lokasi wisata di tanah air. Dibandingkan dengan catatan United Nations World Tourism Organization saja, kedatangan turis ke negeri jiran Malaysia pada 2012 lalu saja mencapai 25 juta jiwa.

Penulis bersama Pak Minggu, saat berhasil tiba di mulut gua.

Jika pegunungan karst yang ada di Kutim, mampu dikelola dengan baik sarana promosi dan kelengkapan lainnya. Bisa jadi akan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Indonesia. Tentu dengan melibatkan Kutim sebagai salah-satu paradise yang tersembunyi untuk layak diangkat di mata dunia internasional. (BERSAMBUNG)

 

 

Share to

Ronall J Warsa. Berdomisili di Rapak Mahang, Kutai Kartanegara. Menulis berbagai cerpen,puisi, dan penggemar fotografi. Buku yang diterbitkan antara lain; Demokrasi dan Kemiskinan, Budaya Politik Demokratis, Obituari Andry Dewanto Ahmad : Catatan Keluarga, Sahabat & Kolega, Kariyau Hutan. Dapat dihubungi di Ig raja_warsa atau email: theothernald@gmail.com

Topik Terkait

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

JAWARA

by Mar 13 2026

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...

Santri yang Memilih Jalan Sunyi – ...

by Mar 11 2026

Terinspirasi lalu tenggelam dalam, karakter oposan novel Rahuvana Tattwa karya KH. Agus Sunyoto. Seo...

Pencium Tembakau! Kelas Wahid Dunia

by Mar 05 2026

Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...

Nyai Pondok! Konseptor SNI Bidang Pangan...

by Mar 03 2026

E fructu arbor cognoscitur. Ungkapan latin yang berarti, “sebatang pohon bisa dikenali dari buahny...

Pinjol-Judol dan Riuh Ramadan: Guncangan...

by Feb 26 2026

Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...

Belum ada komentar.

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top