Citizen Journalist • Jan 04 2026 • 31 Dilihat
Judul Buku : Perempuan yang Mendahului Zaman
Penulis : Khoirul Jasmi
Penerbit : Republika
Tahun Terbit : 2021 Cetakan ke-2
Tebal Buku : 232 halaman
ISBN : 978–623–279–089–6
Rahmah El Yunusiah lahir di Padang Panjang, Minangkabau, Sumatera Barat pada hari Sabtu, 29 Desember 1900 dari rahim ibu bernama Rafiah. Ayahnya bernama M. Yunus al-Kholidiyah merupakan seorang ulama pada zamannya. Rahmah merupakan anak bungsu dari empat bersaudara.
Kakak sulungnya bernama Zainudin dan kakak lainnya bernama Mariah dan Rihanah. Ayah Rahmah meninggal pada saat dirinya baru berusia 6 tahun. Ibunya harus berjuang sendirian bersama anak-anaknya yang masih kecil.
Kesungguhan seorang ibu saat di tinggal suami tercinta baginya ’tak kayu jenjang dikeping ( apapun akan dilakukan atas tujuan tercapai) – hal 11
Semenjak pandai mengaji dan mengenal baca-tulis huruf latin, Rahmah sering menghabiskan waktunya bersama buku-buku. Rahmah juga pernah mengamuk ingin terus membaca buku hingga ia lupa makan.
Pada tanggal 10 Oktober 1915 Zainudin mendirikan Diniyyah School. Melihat kakanya mendirikan sekolah, hati Rahmah tergerak untuk mendirikan sekolah juga tetapi khusus untuk perempuan. Namun waktu itu Rahmah keburu dinikahkan. Saat umur 16 tahun, tepatnya pada Senin, 15 Mei 1916 Rahmah dinikahkan oleh Umi-nya dengan seorang anak ulama bernama Bahaudin Lathief. Tetapi sangat disayangkan, pernikahan tersebut hanya bertahan 6 tahun saja. Jalan mereka bersimpang, bercerai pada tahun 1922 karena suaminya cenderung ke pergerakan, sedangkan Rahmah pada pendidikan.
Sejarah baru mulai dipakukan pada tiang besar sejarah Minangkabau. Sekolah khusus untuk muslimah sudah diizinkan untuk berdiri. Hati Rahmah ingin meledak karena gembira seluruh keluarganya medukung dirinya untuk mendirikan sekolah.
”…Al mar’atu imadul bilad, waidza fasadat fasadatil bilad…” (Perempuan adalah tiang negara, yang mana apabila wanita itu rusak maka negara itu juga akan rusak)
Tepat hari Kamis, 1 November 1923, Rahmah resmi mendirikan sekolah yang kelak dinamai Diniyyah Putri Padang Panjang. Muridnya satu persatu berdatangan sampai totalnya 70 orang. Mereka terdiri dari ibu muda, janda, dan remaja putri. Bagi Rahmah, Diniyyah dianggapnya sebagai anak sendiri, jalan jihadnya ada di situ.
Tahun 1927 Padang Panjang mengalami gempa besar yang menyebabkan banyak kerusakan, korban berjatuhan, dan memilin kepiluan warga. Rahmah sulit untuk melukiskan hatinya yang hancur sebab Diniyah Putri ambruk. Setelah gempa selesai Rahmah pergi meninggalkan Diniyah Putri untuk berkeliling Minangkabau, berdakwah dan memperkenalkan Diniyah Putri kepada masyarakat.
Di saat mendapatkan uang, Rahmah mengumpulkannya dan mengirimnya untuk pembangunan Diniyah Putri. Hingga tiba masanya Rahmah kembali. Tahun 1933, Hadirlah Diniyah Putri dengan bangunan tingkat dua. Sekarang Diniyah Putri semakin besar, jaya, modern dan disukai petinggi ternama dunia.
Rahmah dalah satu-satunya yang diberi gelar Syekhah oleh Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Universitas ini meniru Diniyah Putri. Rahmah mendahului Al-Azhar. Rahmah mendahului zaman. Ia paling dulu mengibarkan bendera Merah Putih pada tahun 1945 di Ranah Minangkabau bahkan mungkin Sumatra.
Rahmah adalah gadis pandai, cerdas, santun, penyabar dan berani. Beliau sosok simpatik sehingga sangat memperhatikan kondisi kaum wanita dan menentang budaya patriarki. Perjuangan beliau mengembalikan wanita pada fitrahnya, tidak hanya di dapur, wanita harus belajar. Sosoknya santun. Ketika akan mendirikan sekolah, beliau meminta izin seluruh keluarganya. Rahmah sosok yang berani, berani tidak disukai dari para kaum tua, terlebih kaum lelaki pada zamannya.
Beliau sosok penyabar dan tak pantang menyerah dalam jatuh bangunnya Dininyyah Putri. Resep beliau yaitu Al-Qur’an surat Muhammad ayat 7 :”Hai Orang-orang berimam, jika kamu menolong Allah (Agama) maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” Ia sangat percaya akan janji Allah.
Novel biografi ini menurut saya bacaan yang tidak terlalu berat, dan alur cerita didalamnya urut yaitu alur maju sehingga mudah dipahami. Walaupun terdapat banyak penokohan akan tetapi fokus utama tetap pada pemeran utama yaitu Rahmah. Penataan latar yang apik menambah kesan saat membaca buku ini. Novel dibawakan dengan gaya Bahasa Indonesia zaman lama dan ada kombinasi dengan Bahasa Melayu.
Terjadi inkonsistensi dalam penulisan nama tokoh, terkadang memakai ejaan lama dan/ baru. Tanggal lahir Rahmah yang benar 29 Desember, sedangkan pada halaman 35 ditulis bahwa Rahmah baru saja ulang tahun yang ke-23 pada 26 Oktober.
Tulisan ini telah terbit di MediaSantriNU.com
Peresensi: Alfa’uzun Nisak (peserta Short Course Citizen Journalist)
Penulis novel laris dengan judul “Hati Suhita” ternyata juga memiliki banyak tulisan lainnya. Sa...
“Aku bisa karena terbiasa “ adalah sebuah motto yang kerap kali saya dengar ketika kakak tingk...
Judul: Aroma Karsa Penulis: Dee Lestari Penerbit: Bentang Pustaka Tebal: 701 Halaman Terbit: Cetakan...
Judul : Seribu Wajah Ayah Penerbit : PT Grasindo Tahun : 2020 (Cetakan ke-1) Penulis : Azhar Nurun A...
Judul; Kontribusi Teosofi Transendental Mulla Sadra bagi Pendidikan Agama Islam Penulis; MiswariNama...
Judul: Ijtihad Politik Gus Dur; Analisis Wacana KritisPenulis: Dr. Munawar AhmadPenerbit: LKiS Yogya...

Belum ada komentar.