AveSticker

Karangtengah, Konsep Wisata di Desa Tandus

Sep 26 2011904 Dilihat

Pembayun juga menggandeng perusahaan pemintal sutera dunia, Royalsilk, dalam kegiatan ini. Perusahaan sutera asal Jepang itu merupakan penadah kokon sutera yang dipanen penduduk. Itu sebabnya warga Jepang destinasi Yogyakarta diwajibkan menanam di Karangtengah. Dalam satu tiket Garuda sudah teralokasi satu pohon sumbangan untuk Karangtengah yang tandus. One passenger, one tree.

Pembayun juga terus berusaha mengkampanyekan visi Desa Karangtengah yang akan menjadi destinasi wisata. Soal reboisasi bukit tandus, dia juga menggandeng swasta lain semacam BNI untuk mendukung Karangtengah. BNI lantas menggerojok Rp 2 miliar sebagai stimulus untuk menyulap rumah warga menjadi homestay. BNI juga menghijaukan salah satu bukit dengan Jambu Mete sehingga kini salah satu bukit dikenal dengan Bukit Hijau BNI.

Beberapa infratruktur pendukung juga telah dibangun menuju kawasan agrowisata. Jalan aspal selebar 2,5 meter dan sumur pompa melengkapi keberadaan listrik yang telah sejak dulu ada. Akses komunikasi seluler juga telah lancar.

Berkah ulat sutera tersebut sebenarnya hanya melengkapi potensi ekonomi yang ada di Karangtengah. Bantul layak disebut sebagai kota pengrajin karena tujuh puluh persen warganya merupakan pengrajin, baik buruh maupun majikan. Empat puluh persen ekspor kerajinan DIY disumbang oleh warga Bantul. Sehingga, kerajinan merupakan napas kehidupan bagi warga Bantul, termasuk penduduk Desa Karangtengah. Lima menit dari Desa Karangtengah, juga terdapat lokasi makam raja-raja Yogyakarta yang selalu dibuka tiap hari Selasa dan Jumat.

Karangtengah mempunyai beberapa kerajinan yang telah mendapat simpati dari masyarakat. Ada batik tulis dengan pewarna alam, kerajinan aksesoris berbahan dasar kayu dan pembuatan sarung keris. Selain itu, juga tumbuh home industry bertajuk jajanan. Ada bakpia, kacang mete, gula jawa, dll.

Maka, sebenarnya konsep agrowisata yang seharusnya didominasi oleh pameran hasil pertanian perlu ditinjau ulang sebelum melekat dengan Karangtengah. Dengan karakteristik penduduk dan berkah alam yang serbaterbatas, konsep pengembangan kawasan wisata lebih pas dengan Karangtengah. Bukit tandus yang kering di sana, perlu direboisasi dan dijaga demi kesejahteraan masyarakat Karangtengah. Sedangkan makam raja-raja Yogyakarta, bisa dijadikan sebagai wisata utama meski makam hanya dibuka pada dua dari tujuh hari yang ada.

Share to

Alumni Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang. Pernah memimpin Newsletter Simpul Demokrasi. Pegiat peternakan di Jawa Timur

Topik Terkait

Lele, Leluhur, dan Janji yang Terikat Wa...

by Mar 28 2026

Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...

JAWARA

by Mar 13 2026

Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...

Pencium Tembakau! Kelas Wahid Dunia

by Mar 05 2026

Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...

Pinjol-Judol dan Riuh Ramadan: Guncangan...

by Feb 26 2026

Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...

Tangi (3)

by Feb 15 2026

Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...

Tangi (2)

by Feb 12 2026

Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Silakan berkomentar :)

Email Anda tidak akan dipublikasikan (*) wajib diisi ya

*

*

back to top