Citizen Journalist • Jan 31 2022 • 136 Dilihat

Menengok pada kondisi pra pemerintahan Dinasti Abbasiyah, masyarakat Arab mayoritas masih dalam kondisi minus dalam aspek pendidikan. Transfer dan infiltrasi pengetahuan pada masa itu masih mengandalkan metode hafalan untuk menyampaikan atau meriwayatkan segala pengetahuan, tradisi, dan kebudayaan. Dinasti Abbasiyah menjadi pionir dan pemicu ledakan yang luar biasa terhadap iklim intelektual ilmu pengetahuan hingga membawa masa tersebut dalam era keemasan (golden century).
Puncak kejayaan yang menjadi prestasi dan prestise Dinasti Abbasiyah sangat erat relasinya dengan keberhasilan dan kemapanan kurikulum pendidikan yang dirancang pada masa itu. Urgensi dari kurikulum sendiri bukanlah hal yang bisa dipungkiri eksistensinya. Sebagai perangkat atau program yang dirancang sebuah institusi yang nantinya akan diterapkan kepada peserta didik dalam tempo dan jenjang pendidikan tertentu, kurikulum memiliki target sesuai visi dan misi untuk memberi acuan dan arahan menuju maksud dari terselenggaranya pendidikan secara ekstensif.
Para praktisi dan konseptor dalam bidang pendidikan bersilang pendapat terkait komponen kurikulum. Namun komponen yang bahkan hampir disepakati tercakup dalam empat kategori, yaitu komponen tujuan (objektivitas), komponen materi/isi, komponen evaluasi, dan komponen strategi. Berkaitan dengan pendidikan era Abbasiyah, tujuan serta kurikulum yang dicanangkan sebagai upaya pengembangan pendidikan Islam terangkum dalam beberapa hal, di antaranya;
1) Akhlaqul karimah dan motif religius, peserta didik digembleng dan diajarkan membaca, menulis, menghafal Al-Qur’an agar mampu dan sadar untuk mengikuti ajaran-ajaran Islam serta berperilaku yang sesuai dengan norma-norma agama.
2) Kemasyarakatan dan organisasi sosial, pembentukan generasi handal melalui program pendidikan yang targetnya adalah membawa perubahan dan perbaikan masyarakat yang awal mulanya stagnan menjadi masyarakat yang gemilang, dinamis, maju, makmur, serta berbinar dalam pengetahuan/sains.
3) Kecintaan dalam menggapai ilmu pengetahuan serta pemuasan atas rasa dahaga keilmuan, banyaknya pelajar yang mengorbankan seluruh apa yang dimiliki untuk belajar, menekuni, dan mendalami ilmu pengetahuan dengan melintasi Negara-negara Islam secara menyeluruh.
4) Motif material, tidak jarang dan sering pula sebagian dari pemburu ilmu yang tujuan pendidikannya berfokus pada pangkat, derajat, atau jabatan, begitu pula kelayakan hidup serta kekuasaan dan keagungan untuk menguasai dunia.
Di era Abbasiyah, kurikulum pendidikan Islam terpetakan dalam tiga konstituen yang menyesuaikan kategori masing-masing, yakni kurikulum untuk Pendidikan Dasar/Basic Education (berpusat di Kuttab), Pendidikan Menengah, dan Perguruan Tinggi.
Progresivitas bidang keilmuan era Abbasiyah mencapai limit terbaik, terutama pada beberapa disiplin ilmu yang diklasifikasikan menjadi dua karakter, yaitu al-ulūm an-naqliyyah (disiplin ilmu terkait keagamaan) dan al-ulūm al-‘ammah/al-aqliyyah (pengetahuan umum).
Sumber Referensi;
Maryamah, Pendidikan Islam Masa Dinasti Abbasiyah, dalam Jurnal Tadrib, Vol. 01, No. 01, Juni, (Palembang: IAIN Raden Fatah, 2015), hlm. 10.
Maryamah, Pendidikan Islam Masa Dinasti Abbasiyah…, hlm. 10-11.
Oleh; Abdullah Afif
Pecel lele. Dua kata yang lantas memunculkan bayangan: piring merah, sambal pedas mengepul, ikan hit...
Tubuh bocah kecil itu terbang jauh, saat dilemparkan lelaki tua bertubuh kekar di tengah sungai tanp...
Sebagai sebuah profesi, Grader tembakau mungkin tak jamak dikenal bagi sebagian orang. Orang yang be...
Ramadhan di Indonesia bukan hanya menghadirkan cerita tentang puncak spiritualitas diri, tetapi juga...
Di antara mereka yang terdiam, lalu ada yang berdiri perlahan. Mencoba berbicara, untuk memberikan j...
Hubungan Niero dengan saudara sepupunya. Tidak terlalu dekat, dapat dikatakan jauh sekali. Semata-ma...

Belum ada komentar.